Rumah yang Tak Lagi Dikunjungi Saat LebaranCerpen kehidupan
Perwirasatu.co.id, Selasa 5 Mei 2026. Lebaran tahun ini datang dengan langit yang cerah, tetapi suasana kampung terasa ganjil bagi sebagian orang. Sejak pagi, takbir tetap berkumandang, namun jalanan tidak seramai dulu oleh langkah kaki warga yang saling berkunjung. Beberapa rumah masih tertutup rapat, seolah tidak menunggu tamu seperti tahun tahun sebelumnya. Perubahan itu tidak terasa tiba tiba, melainkan datang perlahan hingga nyaris tak disadari oleh banyak orang.
Di depan rumahnya yang bercat hijau pudar, Pak Wiryo berdiri memandangi jalan yang lengang. Ia mengenakan baju koko putih yang sudah disetrika rapi sejak subuh, lengkap dengan peci hitam yang agak miring ke kanan. Tangannya sesekali merapikan kursi di teras, seolah masih berharap akan ada tamu yang datang. Matanya menyapu jalan, mencari wajah wajah yang dulu akrab mengetuk pintunya setiap Lebaran.
Dulu, halaman rumah itu tak pernah sepi sejak pagi hingga sore hari. Anak anak berlarian sambil membawa kue kering, sementara orang dewasa duduk berdesakan di ruang tamu yang sempit namun hangat. Tawa dan obrolan bersahut sahutan, kadang bercampur dengan suara sendok yang beradu di gelas teh. Kini semua itu tinggal bayangan yang berputar pelan di kepala Pak Wiryo.
Di sebelah rumahnya, Pak Darto keluar sambil menggenggam ponsel, wajahnya sedikit kebingungan. Ia duduk di kursi bambu dekat pagar dan ikut memandang jalan yang sama. “Sepi ya, Pak,” katanya pelan, seolah takut suaranya mengganggu kesunyian. Pak Wiryo hanya mengangguk, lalu menghela napas panjang yang terdengar berat.
Aku yang kebetulan lewat berhenti di depan mereka, membawa sebungkus kecil kue dari rumah. Aku melihat dua orang itu seperti sedang menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Dengan senyum kecil, aku mendekat dan menyapa mereka dengan sopan. “Bapak saestu kersa jawaban,” kataku pelan, membuat keduanya menoleh bersamaan.
Pak Wiryo menatapku cukup lama sebelum akhirnya mengangguk mantap. Wajahnya menunjukkan rasa ingin tahu yang bercampur dengan kegelisahan. Pak Darto ikut mendekat, seolah tak ingin melewatkan jawaban yang akan keluar. Mereka tampak siap mendengar sesuatu yang mungkin selama ini mereka rasakan tetapi belum sempat mereka ucapkan.
“Karena orang orang sudah berkumpul di satu tempat, Pak,” kataku perlahan. Aku menunjuk ke arah ujung jalan, tempat tenda besar berdiri sejak pagi. Dari sana terdengar musik pelan dan riuh suara warga yang bercampur menjadi satu. Aroma makanan yang kuat bahkan sampai ke tempat kami berdiri.
Sejak dua tahun terakhir, seorang pejabat mengadakan open house besar di kampung ini. Tenda luas dipasang, meja meja penuh makanan tersusun rapi, dan berbagai hidangan tersedia tanpa henti. Warga datang berbondong bondong, mengenakan pakaian terbaik mereka, lalu larut dalam suasana yang meriah. Banyak yang merasa cukup dengan satu kunjungan itu, lalu pulang tanpa singgah ke rumah tetangga lainnya.
Aku pernah melihat sendiri bagaimana orang orang tertawa sambil menikmati es krim dan minuman dingin berwarna cerah. Mereka saling bersalaman di sana, berfoto bersama, lalu duduk berlama lama hingga lupa waktu. Setelah itu, sebagian besar langsung pulang untuk beristirahat. Tidak ada lagi rencana untuk berkeliling kampung seperti dulu.
Pak Wiryo menatap ke arah tenda itu, wajahnya sulit dibaca. “Jadi, orang orang tidak perlu datang ke rumah lagi,” gumamnya pelan. Tangannya yang sejak tadi memegang sandaran kursi mulai bergetar sedikit. Ia tampak berusaha menerima sesuatu yang sebenarnya sudah ia rasakan sejak lama.
Aku mengangguk, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan. “Mereka merasa sudah cukup bertemu, Pak, sudah cukup bersalaman.” Kata kata itu menggantung di udara, membuat suasana semakin sunyi. Pak Darto menunduk, mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang kasar.
Siang itu, semakin banyak warga lewat sambil membawa bingkisan dari tenda. Mereka tersenyum, menyapa sekilas, lalu melanjutkan langkah tanpa berhenti. Tidak ada yang masuk ke teras, tidak ada yang duduk, tidak ada yang membuka percakapan panjang. Kursi kursi yang disiapkan sejak pagi tetap kosong tanpa penghuni.
Menjelang sore, Pak Wiryo masih duduk di tempat yang sama. Ia tidak lagi memandang jalan, melainkan menatap ke dalam rumahnya sendiri yang sunyi. Gelas teh di meja kecil sudah dingin, tidak tersentuh sejak tadi. Udara sore terasa lebih berat dari biasanya.
Beberapa hari setelah Lebaran, aku kembali melewati rumah itu. Pintu depan tertutup rapat, dan kursi kursi di teras sudah tidak lagi tersusun rapi. Halaman tampak kosong, seolah tidak pernah dipersiapkan untuk menerima siapa pun. Suasana yang dulu hangat kini benar benar hilang.
Pak Darto keluar saat melihatku berdiri di depan pagar. Wajahnya tampak lebih muram dibanding beberapa hari sebelumnya. Ia berdiri sebentar sebelum akhirnya berbicara dengan suara pelan. “Pak Wiryo sudah pindah ke rumah anaknya,” katanya singkat.
Aku terdiam, mencoba memahami kalimat itu. “Sejak kapan,” tanyaku perlahan, meski jawabannya mungkin tidak akan mengubah apa pun. Pak Darto menghela napas, lalu memandang ke arah rumah kosong di sebelahnya. “Sehari setelah Lebaran,” jawabnya pelan.
“Katanya, di sini sudah tidak ada yang perlu ditunggu lagi,” lanjutnya tanpa menatapku. Kalimat itu terasa sederhana, tetapi menghantam dengan cara yang tidak terduga. Aku menoleh ke arah pintu yang tertutup, membayangkan seseorang yang dulu duduk di teras menunggu tamu.
Aku berdiri cukup lama di depan rumah itu, tanpa benar benar tahu apa yang harus kulakukan. Angin sore berhembus pelan, menggerakkan daun daun kering di halaman. Tidak ada suara tawa, tidak ada langkah kaki, tidak ada ketukan pintu seperti dulu.
Di kejauhan, tenda besar itu masih berdiri, meski sudah mulai dibongkar perlahan. Sisa sisa acara masih terlihat dari kursi yang ditumpuk dan meja yang belum sepenuhnya dibersihkan. Beberapa orang masih berlalu lalang, membicarakan betapa meriahnya acara tahun ini.
Saat itulah aku menyadari sesuatu yang selama ini luput kupahami. Bukan hanya Pak Wiryo yang berhenti menunggu tamu, tetapi kampung ini yang perlahan berhenti saling mendatangi. Kami tidak kehilangan waktu, tidak juga kehilangan kesempatan.
Kami hanya kehilangan alasan untuk mengetuk pintu satu sama lain.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar