Surat Terakhir Dari Musim Yang PergiCerpen
Perwirasatu.co.id, 21 Juli 2026.
Hujan turun tipis di luar kedai kopi yang hampir kosong. Aroma kopi dan tanah basah memenuhi udara. Di dekat jendela, Yoga duduk sendirian sambil memandangi sebuah amplop kusam yang baru diterimanya dari petugas pos.
Tangannya ragu membuka surat itu.
Tujuh tahun lalu, di tempat yang sama, ia sering duduk bersama seorang perempuan bernama Nara.
Mereka pertama kali bertemu dalam sebuah diskusi literasi di perpustakaan kota. Nara bukan perempuan yang mudah menjadi pusat perhatian. Namun ada sesuatu dalam dirinya yang membuat orang nyaman berada di dekatnya. Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan berbicara seperlunya.
Pertemanan mereka tumbuh perlahan menjadi kedekatan yang hangat. Mereka menghabiskan banyak waktu di toko buku, taman kota, dan kedai kopi sederhana.
Suatu sore saat hujan turun deras dan mereka berteduh di sebuah halte tua, Yoga bertanya tentang impian terbesar Nara.
"Aku cuma ingin hidup tenang," jawab Nara. "Pulang ke rumah tanpa merasa lelah pada dunia."
Yoga tersenyum.
"Kalau aku ingin menulis buku yang dibaca banyak orang."
"Kenapa?"
"Supaya ada sesuatu yang tertinggal setelah aku pergi."
Nara memandangnya lama.
"Kadang yang tertinggal bukan tulisan. Kadang orang hanya mengingat bagaimana kita membuat mereka merasa."
Kalimat itu terus tinggal di benak Yoga.
Ketika hubungan mereka semakin serius, banyak orang menganggap mereka pasangan yang cocok. Mereka saling melengkapi dan jarang bertengkar.
Namun ada sisi Nara yang sulit dipahami.
Setiap menghadapi tekanan, ia memilih diam. Ia bisa menghilang beberapa hari tanpa kabar. Pesan dibalas singkat. Telepon jarang diangkat.
Awalnya Yoga merasa kecewa. Tetapi suatu malam ia menemukan Nara menangis sendirian di teras rumah.
"Aku tidak tahu cara menjelaskan apa yang kurasakan," kata Nara.
"Kalau begitu tidak usah menjelaskan sekarang," jawab Yoga.
"Kamu tidak marah?"
"Aku lebih takut kehilangan kamu."
Sejak saat itu Yoga belajar memahami bahwa tidak semua luka bisa langsung diceritakan.
Meski demikian, ada hal-hal yang tetap membuatnya bertanya-tanya.
Tangan Nara sering bergetar. Wajahnya terlihat pucat. Ia mudah lelah dan beberapa kali membatalkan pertemuan tanpa alasan jelas.
Ketika Yoga mencoba bertanya, Nara hanya tersenyum dan berkata bahwa dirinya baik-baik saja.
Suatu hari Yoga sempat melihat map hasil pemeriksaan rumah sakit yang terjatuh dari tas Nara. Sebelum sempat membaca isinya, Nara buru-buru mengambilnya.
Tatapan panik yang muncul sesaat di wajah perempuan itu tidak pernah dilupakan Yoga.
Waktu berjalan.
Masalah demi masalah datang menghampiri Nara. Ayahnya sakit. Pekerjaannya tidak menentu. Beban hidup semakin berat.
Yoga tetap berada di sisinya.
Karena baginya, cinta bukan hanya tentang berbagi kebahagiaan, melainkan juga bertahan ketika keadaan sedang sulit.
Namun suatu sore yang mendung, semuanya berubah.
Di taman tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama, Nara meminta Yoga menemuinya.
Wajah perempuan itu terlihat lebih pucat dari biasanya.
"Aku ingin kita berhenti sampai di sini," katanya pelan.
Yoga terdiam.
"Apa aku melakukan kesalahan?"
Nara menggeleng.
"Lalu kenapa?"
Air mata mengalir di pipinya.
"Karena aku tidak ingin kamu ikut tenggelam bersamaku."
Yoga tidak mengerti.
Ia meminta penjelasan.
Tetapi Nara menolak menjawab.
Hari itu menjadi hari terakhir mereka bertemu.
Setelahnya, Nara benar-benar menghilang.
Nomor teleponnya tidak aktif.
Media sosialnya berhenti diperbarui.
Teman-temannya pun tidak mengetahui keberadaannya.
Bulan berganti tahun.
Perlahan Yoga belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua pertanyaan memiliki jawaban.
Ia bekerja, menulis, dan menjalani hidup sebagaimana mestinya.
Impian yang pernah ia ceritakan kepada Nara akhirnya terwujud. Buku-bukunya diterbitkan dan mulai dikenal banyak pembaca.
Namun setiap kali hujan turun dan aroma kopi memenuhi udara, kenangan tentang Nara selalu kembali.
Dan kini, tujuh tahun setelah perpisahan itu, sebuah surat tiba tanpa diduga.
Dengan jantung berdebar, Yoga membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat surat dari seorang gadis kecil bernama Alya.
Alya memperkenalkan dirinya sebagai anak angkat Nara yang dibesarkan di sebuah yayasan sosial tempat Nara menjadi relawan.
Nama itu membuat tangan Yoga gemetar.
Di balik surat Alya terdapat surat lain.
Tulisan tangan pada kertas itu sangat dikenalnya.
Yoga.
Jika kamu membaca surat ini, kemungkinan aku sudah tidak ada lagi.
Maaf karena pergi tanpa penjelasan.
Saat kita berpisah, aku baru mengetahui bahwa aku mengidap penyakit yang menyerang sistem saraf secara perlahan. Dokter tidak bisa memastikan berapa lama aku akan hidup normal.
Aku takut.
Bukan pada penyakitku, tetapi pada kemungkinan melihatmu mengorbankan hidupmu demi merawatku.
Aku tahu kamu akan melakukannya.
Karena itulah aku memilih pergi.
Bukan karena berhenti mencintaimu.
Justru karena aku terlalu mencintaimu.
Aku mengikuti kabarmu dari jauh.
Aku membaca tulisan-tulisanmu.
Aku melihat impianmu satu per satu menjadi kenyataan.
Dan setiap kali itu terjadi, aku merasa bahagia.
Ada satu hal yang belum pernah sempat kukatakan.
Saat kamu berkata ingin meninggalkan sesuatu yang berarti setelah pergi, sebenarnya kamu sudah melakukannya.
Kamu mengajarkanku bahwa cinta bukan tentang memiliki seseorang.
Cinta adalah tetap peduli meskipun tidak lagi berjalan di jalan yang sama.
Jika suatu hari kamu kehilangan seseorang yang sangat berarti, ingatlah bahwa tidak semua yang hilang benar-benar pergi.
Sebagian tetap tinggal dalam kenangan, doa, dan kebaikan yang pernah mereka tinggalkan.
Terima kasih karena pernah menjadi rumah bagi seseorang yang begitu takut menghadapi badai hidupnya sendiri.
Nara.
Air mata jatuh ke atas kertas yang mulai kusam.
Selama bertahun-tahun Yoga mengira dirinya ditinggalkan karena tidak cukup berarti.
Ia mencari kesalahan yang mungkin pernah dilakukan.
Ia menyalahkan dirinya sendiri.
Kini semuanya terjawab.
Dan jawaban itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada semua dugaan yang pernah ia bayangkan.
Di dalam amplop terdapat sebuah foto lama.
Nara berdiri bersama Alya di halaman sebuah yayasan.
Tubuhnya terlihat lebih kurus, tetapi senyumnya tetap hangat.
Di balik foto itu tertulis satu kalimat.
"Jika Tuhan menakdirkan sesuatu untukmu, ia akan menemukan jalannya pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tidak pernah kamu sangka."
Yoga memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak lagi mencari alasan mengapa Nara pergi.
Ia akhirnya mengerti.
Ada orang yang hadir bukan untuk tinggal selamanya.
Ada yang datang hanya untuk mengajarkan makna cinta, ketulusan, dan kehilangan.
Hujan di luar semakin deras.
Yoga menatap jalanan yang basah sambil menggenggam foto itu erat-erat.
Lalu ia tersenyum.
Bukan karena lukanya telah hilang.
Melainkan karena akhirnya ia memahami satu hal penting:
Cinta sejati tidak selalu berakhir dengan kebersamaan.
Kadang ia hidup lebih lama dalam kenangan daripada dalam kehadiran.
Dan pada sore yang basah oleh hujan itu, Yoga menyadari bahwa Nara memang telah pergi dari dunia ini.
Tetapi perempuan itu tidak pernah benar-benar meninggalkan hidupnya.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar