Belajar Dari Warisan
Keterangan Gambar : . Kita sering merasa memiliki apa yang sebenarnya hanya titipan. Rumah yang dibangun dengan penuh perjuangan, kendaraan yang dibeli dengan kerja keras, tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, semuanya terlihat begitu dekat dengan diri kita. Namun ketika kematian datang, seluruh yang kita banggakan akan berpindah tangan menjadi warisan.
Perwirasatu.co.id, Selasa 02 Juni 2026.
Kita sering merasa memiliki apa yang sebenarnya hanya titipan. Rumah yang dibangun dengan penuh perjuangan, kendaraan yang dibeli dengan kerja keras, tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, semuanya terlihat begitu dekat dengan diri kita. Namun ketika kematian datang, seluruh yang kita banggakan akan berpindah tangan menjadi warisan. Dari situlah manusia belajar bahwa dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan amal salehlah yang akan menemani hingga alam kubur dan akhirat.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan dunia, manusia sering terlena oleh gemerlap harta dan kenikmatan sesaat. Banyak orang rela menghabiskan usia demi mengejar kekayaan, kedudukan, dan pujian manusia. Pagi hingga malam dipenuhi dengan urusan dunia, sementara hati perlahan menjauh dari Allah. Padahal setiap langkah kehidupan sedang berjalan menuju satu kepastian yang tak pernah bisa ditolak, yaitu kematian. Saat itulah seluruh yang dikumpulkan dengan susah payah akan ditinggalkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan manusia tentang hakikat dunia melalui firman-Nya:
﴿ إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَخَذَتِ الْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴾
“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu adalah seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanaman-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya dan memakai pula perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan tanaman-tanamannya laksana tanaman yang telah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada orang-orang yang berpikir.” (QS. Yunus: 24)
Ayat ini menggambarkan betapa singkat dan rapuhnya kehidupan dunia. Dunia terlihat indah, mempesona, dan membuat manusia merasa aman memilikinya. Namun dalam satu malam semuanya bisa berubah. Orang yang hari ini kaya, besok bisa jatuh miskin. Orang yang hari ini sehat, esok bisa terbaring lemah. Orang yang hari ini tertawa bersama keluarganya, bisa saja besok telah dibungkus kain kafan.
Warisan adalah pelajaran paling nyata tentang kefanaan hidup. Ketika seseorang meninggal dunia, semua hartanya berpindah kepada orang lain. Rumah yang dahulu dijaga penuh gengsi akan ditempati ahli waris. Kendaraan yang dulu dibanggakan akan dipakai orang lain. Rekening yang dikumpulkan bertahun-tahun akan dibagi sesuai ketentuan syariat. Tidak ada satu pun yang ikut masuk ke liang lahat selain amal.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
« يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي، وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ »
“Anak Adam berkata: hartaku, hartaku. Padahal tidak ada yang benar-benar menjadi milikmu wahai anak Adam selain apa yang engkau makan lalu habis, apa yang engkau pakai lalu usang, atau apa yang engkau sedekahkan lalu menjadi simpanan untuk akhiratmu.” (HR. Muslim)
Hadis ini menampar kesadaran manusia. Sesungguhnya harta yang benar-benar menjadi milik kita hanyalah yang digunakan di jalan kebaikan. Adapun sisanya akan ditinggalkan. Banyak manusia bekerja tanpa mengenal waktu demi menumpuk kekayaan, tetapi lupa memperbanyak sedekah. Mereka takut miskin karena berbagi, padahal justru sedekah menjadi bekal yang abadi.
Kematian sering kali datang tanpa aba-aba. Tidak memandang usia, jabatan, ataupun kekayaan. Ada yang meninggal ketika sedang tidur, ada yang wafat saat bekerja, ada pula yang berpulang ketika sedang bercanda bersama keluarga. Semua itu menjadi pengingat bahwa dunia bukan tempat tinggal selamanya.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ﴾
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Karena itu orang yang cerdas bukanlah yang paling banyak mengumpulkan dunia, melainkan yang paling siap menghadapi kematian. Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah berkata bahwa dunia hanyalah persinggahan, bukan tempat menetap. Maka jadikanlah dunia sebagai jalan menuju akhirat.
Betapa banyak pertengkaran terjadi karena warisan. Saudara saling bermusuhan, hubungan keluarga rusak, bahkan ada yang membawa perkara hingga bertahun-tahun di pengadilan. Semua itu terjadi karena manusia lupa bahwa harta hanyalah titipan sementara. Padahal ketika ajal datang, semua akan ditinggalkan dalam hitungan detik.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ »
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi)
Mengingat kematian bukan untuk membuat manusia putus asa, tetapi agar hati menjadi lembut dan hidup lebih terarah. Orang yang sering mengingat kematian akan lebih mudah bersyukur, tidak sombong, tidak rakus, dan lebih berhati-hati dalam mencari rezeki. Ia sadar bahwa seluruh dunia tidak sebanding dengan satu amal saleh yang diterima Allah.
Belajar dari warisan membuat kita memahami bahwa kehidupan sejati bukan tentang seberapa banyak yang berhasil dimiliki, melainkan seberapa banyak yang berhasil dipersiapkan untuk akhirat. Harta akan habis, kecantikan akan pudar, jabatan akan hilang, tetapi amal saleh akan tetap hidup hingga hari perhitungan.
Maka selama napas masih berhembus, gunakanlah kesempatan hidup untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, membantu sesama, menjaga shalat, membahagiakan orang tua, dan memperbanyak sedekah. Jangan sampai kita menjadi orang yang sibuk mengumpulkan dunia, tetapi pulang kepada Allah dengan tangan kosong.
Pada akhirnya, liang lahat tidak pernah peduli siapa kita ketika di dunia. Tanah kubur tidak membedakan antara orang kaya dan miskin. Semua akan kembali kepada Allah membawa amal masing-masing. Dan ketika manusia telah dibaringkan di dalam kubur, ia baru menyadari bahwa yang paling berharga bukanlah warisan yang ditinggalkan, melainkan amal yang dibawa menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar