
Keterangan Gambar : Di balik pencapaian tersebut, tersimpan kisah tentang ambisi, penghematan, investasi, dan harga waktu yang sering luput diperhitungkan.
Perwirasatu.co.id , Jakarta - Pada usia 26 tahun, seorang perempuan Singapura berhasil membeli kondominium hampir S$1 juta dengan uang muka S$242.000 yang dibayar tunai. Ia menabung sejak kecil, bekerja sejak usia 14 tahun, dan kini mengaku bekerja 12 hingga 18 jam sehari. Di balik pencapaian tersebut, tersimpan kisah tentang ambisi, penghematan, investasi, dan harga waktu yang sering luput diperhitungkan.
Kisah Chris, perempuan Singapura berusia 26 tahun, sekilas seperti cerita keberhasilan finansial yang nyaris sempurna. Ketika banyak anak muda masih berjuang mengumpulkan uang muka rumah, ia telah memiliki kondominium sendiri sebelum berusia 27 tahun. AsiaOne pada 23 Desember 2025 melaporkan bahwa unit tersebut bernilai hampir S$1 juta dan uang muka sebesar S$242.000 dibayar sepenuhnya secara tunai.
Namun, angka itu tidak lahir dalam semalam. Chris mengatakan kepada AsiaOne bahwa dirinya telah menabung secara rutin sejak usia delapan tahun. Pada usia 14 tahun, ia sudah bekerja di restoran cepat saji sembari menjalani pendidikan. Kini ia bekerja penuh waktu di industri hiburan sekaligus mengambil pekerjaan lepas di bidang fotografi dan video.
Harga yang dibayar bukan hanya uang.
Chris mengaku bekerja sekitar 12 hingga 18 jam setiap hari, biasanya tujuh hari dalam seminggu. Ia bahkan tetap mengerjakan pekerjaan ketika berada di perjalanan atau berolahraga. Waktu bersama keluarga hanya disisakan beberapa jam. AsiaOne mencatat bahwa Chris sendiri memilih pola tersebut sebagai bagian dari perjalanan mencapai target finansial yang telah ditetapkannya.
Di sinilah kisah tersebut menjadi lebih menarik daripada sekadar cerita tentang anak muda yang berhasil membeli rumah.
Kerja keras memang dapat mempercepat pencapaian finansial. Tetapi ketika waktu kerja mencapai belasan jam sehari, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: berapa banyak waktu yang tersisa untuk kehidupan di luar pekerjaan?
Pertanyaan itu bukan berarti Chris harus dianggap kehilangan masa mudanya. Justru sebaliknya, ia tetap menyisihkan uang untuk bepergian dan menghadiri konser. Ia mengendalikan pengeluaran sehari-hari dengan memilih makanan yang lebih murah dan memanfaatkan kredit transportasi untuk mengurangi biaya. AsiaOne melaporkan bahwa strategi tersebut dilakukan agar ia tetap dapat menikmati hal-hal yang dianggap penting baginya.
Chris juga mulai berinvestasi sejak usia 19 tahun. Namun, ia tidak mengungkapkan pendapatannya. Karena itu, kisahnya tidak tepat dijadikan rumus bahwa setiap anak muda dapat membeli properti bernilai hampir S$1 juta hanya dengan bekerja lebih keras dan berhemat.
Konteks mengenai gerakan Financial Independence, Retire Early atau FIRE membantu menjelaskan sebagian pola tersebut. CNA pada 20 Agustus 2022 menggambarkan FIRE sebagai pendekatan finansial yang menekankan hidup hemat, tabungan tinggi, dan investasi. Namun laporan itu juga menunjukkan bahwa setiap orang memiliki titik awal, pendapatan, kewajiban, dan kondisi keluarga yang berbeda.
Karena itu, menyamakan Chris dengan gerakan FIRE juga tidak tepat. Tidak ada keterangan dalam laporan AsiaOne bahwa ia secara eksplisit menyebut dirinya pengikut FIRE. Yang terlihat adalah adanya kemiripan strategi: mengendalikan pengeluaran, meningkatkan kemampuan finansial, menabung, dan berinvestasi.
Kisah ini juga berlangsung di tengah meningkatnya perhatian anak muda Singapura terhadap properti privat. The Straits Times pada 3 Mei 2026 melaporkan bahwa data sejumlah bank menunjukkan peningkatan aktivitas pembiayaan properti pada kelompok usia di bawah 35 tahun. Namun laporan yang sama mengingatkan bahwa kepemilikan properti juga membawa biaya jangka panjang, termasuk bunga, perawatan, dan risiko perubahan kondisi pasar.
Maka, rumah dalam kisah Chris bukan sekadar simbol kemapanan. Bagi dirinya, pencapaian tersebut merupakan tujuan pribadi sekaligus bentuk rasa aman. Ia mengatakan kepada AsiaOne bahwa setelah berhasil memiliki rumah, perasaan yang paling kuat justru adalah lega karena telah mencapai target dan membangun apa yang ia anggap sebagai jaring pengaman finansial.
Tetapi keamanan finansial tidak selalu identik dengan satu aset. Rumah dapat menjadi bagian dari kekayaan, tetapi waktu, kesehatan, hubungan keluarga, keterampilan, dana darurat, dan kemampuan memilih pekerjaan juga memiliki nilai yang tidak mudah dihitung.
Kisah Chris bukan sekadar tentang perempuan 26 tahun yang mampu membeli kondominium mahal. Ia memperlihatkan sebuah pertanyaan yang lebih besar: ketika generasi muda mengejar keamanan finansial, apakah ukuran keberhasilan cukup dilihat dari seberapa cepat aset berhasil dikumpulkan?
Jawabannya mungkin berbeda bagi setiap orang.
Chris telah memilih jalannya sendiri. Kisahnya menunjukkan bahwa disiplin, kerja keras, pengendalian konsumsi, dan investasi dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju tujuan finansial. Tetapi kisah yang sama juga mengingatkan bahwa uang bukan satu-satunya ukuran kekayaan. Sebab ada satu aset yang tidak dapat ditabung untuk digunakan kembali di kemudian hari: waktu.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)

















LEAVE A REPLY