
Keterangan Gambar : Pagi hingga siang, Jenderal Suyudi memimpin langsung rilis pengungkapan penyelundupan 1,16 ton ketamin senilai Rp 3,48 Triliun dari kapal tanker MT Global 168 di Pelabuhan Bandar Deli, Belawan, Sumatera Utara.
Perwirasatu.co id, 24 Oktober 2026
ADA momen penuh makna di tengah konferensi pers pengungkapan narkotika terbesar tahun ini.
Saat tengah menyampaikan sambutan, Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto langsung menghentikan pidatonya begitu mendengar suara adzan berkumandang.
Beliau memilih diam sejenak, dan terlihat mendengarkan adzan dengan khidmat hingga selesai.
Sikap tersebut turut diikuti para pejabat dan peserta lainnya yang hadir. Momen itu terjadi dalam rangkaian kerja maraton Kapolri, pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Pagi hingga siang, Jenderal Suyudi memimpin langsung rilis pengungkapan penyelundupan 1,16 ton ketamin senilai Rp 3,48 Triliun dari kapal tanker MT Global 168 di Pelabuhan Bandar Deli, Belawan, Sumatera Utara.
Delapan kru ditangkap, termasuk WNA asal Taiwan.
Sorenya, Kapolri terbang ke Aceh untuk meninjau langsung laboratorium rahasia (clandestine lab) sabu 1,2 ton di dua ruko di Mutiara Timur, Pidie — yang digerebek Rabu 21 Oktober 2026.
Di lokasi itu, 11 tersangka diamankan, termasuk 2 WNA asal China yang diduga peracik utama. Jaringan ini terlacak sejak Februari 2026 dari Myanmar utara - Laos - Thailand hingga Banda Aceh.
Di tengah agenda besar pemberantasan narkotika lintas negara itu, momen berhenti sejenak karena adzan ini memperlihatkan hal penting:
Ketegasan seorang pemimpin dapat berjalan beriringan dengan kerendahan hati dan penghormatan terhadap nilai-nilai keagamaan.
Karena kepemimpinan bukan hanya tentang ketegasan dalam bertindak, tetapi juga keteladanan dalam bersikap.
Sepertinya Kapolri baru Jenderal Suyudi Ario Seto — yang baru dilantik 1 Oktober 2026 menggantikan Jenderal Listyo Sigit, yang sebelumnya menjabat Kepala BNN — ingin memberikan contoh nyata bahwa slogan 'Polri Bersama Masyarakat' bukan sekadar kata.
Boleh tegas dalam tugas, memberantas narkoba hingga ke akar jaringan internasionalnya, tapi harus tetap santun dalam sikap. Hormat pada adzan, hormat pada rakyat.
Tugas besar Polri hari ini, bukan hanya menangkap bandar. Tapi juga merebut kembali kepercayaan publik, dan kepercayaan itu dimulai dari adab yang sederhana: berhenti sejenak, diam mendengarkan saat adzan berkumandang.
For-WIN berharap, sikap yang disampaikan oleh Kapolri baru Jenderal Suyudi dihadapan publik bukan hanya sekedar seremoni semata. Tapi, benar-benar kebijakan yang akan dipanuti oleh jajaran kepolisian di seluruh Indonesia. Semoga.
Oleh FC-Goest (Inisiator For-WIN)

















LEAVE A REPLY