
Keterangan Gambar : KORBAN tewas, mulai berjatuhan satu persatu. Bukan karena api, tapi karena sesaknya asap beracun karhutla yang tak kunjung padam
Perwirasatu.co.id, 24 Oktober 2026.
KORBAN tewas, mulai berjatuhan satu persatu. Bukan karena api, tapi karena sesaknya asap beracun karhutla yang tak kunjung padam.
Rabu, 21 Oktober 2026, Simpang Empat Handil Bakti, di belakang Kantor Kecamatan Alalak, Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Nurdin bin Murjani, 50 tahun, yang akrab disapa Amang Udin, relawan BPK Sarimi Kayu Bulan, Regu 03 Kayu Bulan, Banjarmasin, dikabarkan gugur saat bertugas.
Video detik-detik kepergiannya, bikin sesak perasaan siapapun yang menyaksikan.
Terlihat Amang Udin yang pakai kaos merah dan celana hijau itu, dipapah dua rekannya, napasnya sudah tersengal. Kata rekan di lapangan, Iskandar dan Amat, saat itu asap tebal pekat di barisan depan.
"Dia mengeluhkan sakit dada, kemudian saya bilang istirahat dulu. Sambil diberi oksigen, tetapi dia tetap bilang sakit dadanya," kata Amat.
Rekan-rekannya hanya punya Oxycan portabel dan masker biasa. Bukan N95. Asapnya terlalu tebal. Kondisinya makin menurun, kejang, sempat mencengkeram badan Amat. Karena ambulans tak kunjung datang, mereka evakuasi pakai mobil BPK menuju Klinik Setara Handil Bakti.
Kepala klinik, dr. Amalia Dewi, menyebut pasien datang dengan pupil midriasis alias sudah meninggal. Sudah dilakukan RJP dan EKG, namun tak tertolong. Dugaan kuat: keracunan asap.
Jenazah korban dilepas Bupati Batola H. Bahrul Ilmi di klinik, lalu dibawa ke rumah duka di Jalan Padat Karya, Kompleks Kayu Bulan RT 62, Sungai Andai, Banjarmasin Utara. Ratusan jemaah mensalatkan jenazahnya di Masjid Ar-Rahmah Kamis siang.
Almarhum Amang Udin, bukanlah satu-satunya.
Sepanjang 2026, data BNPB dan pemberitaan yang dihimpun mencatat; 10 relawan dan petugas gugur saat padamkan karhutla.
Berikut ini rinciannya:
- 6 orang di TNBTS Bromo Tengger Semeru, 15-23 Oktober: Sukaris, Hendra Rony Wagiyanata (Manggala Agni), Wisnu Yuda Pratama, Sefriel Ardiansyah, Munawi, dan Suraji.
- 3 orang di Kalimantan Tengah: Akhmad Rizani, Ahmadin alias Itam Madin, dan Aries Sutio Luthfil Hadi.
- 1 orang di Kalsel: Amang Udin.
Pada situasi yang sama, Amang Udin gugur, 21 Oktober, sekitar satu kilometer dari lokasinya, puluhan warga Batola Residence panik lari menyelamatkan anak-anak mereka.
Api karhutla terlihat merambat dari lahan kering, mendekati permukiman warga. Asap hitam membumbung setinggi rumah, tampak jelas dari SMAN 1 Alalak. Sampai Jumat 23 Oktober, api di Blok L Batola Residence kembali membara, warga mengeluh pasokan air sangat terbatas, relawan bertahan sampai jam 12 malam.
Inilah, yang bikin publik marah.
Relawan garis depan pakai masker biasa lawan asap beracun, gunakan selang pendek lawan lahan yang luasnya ribuan hektar. Sementara, korporat pembakar hutan? Sampai hari ini belum ada yang diumumkan sebagai tersangka pembakaran di Batola.
Jangan tunggu, sampai jatuh Udin-Udin berikutnya.
Negara harus bersikap tegas terhadap korporat biadab penghancur hutan Indonesia. Bukan cuma water bombing, tapi audit perizinan, penyegelan, dan pidana korporasi.
Untuk Kementerian Kehutanan, jawablah pertanyaan ini: kalau 10 nyawa melayang karena sistem pengamanan relawan yang minim, perlengkapan yang seadanya, dan pencegahan karhutla yang gagal tiap tahun, apakah masih punya muka kalian di hadapan publik?!
Maka wajar saja, jika kemudian publik bertanya: masih layakkah menteri tak becus kerja sebagai pimpinan di kementerian tetap bertahan dan tak mau mundur? Atau memang, karena sudah terlanjur tebal muka, seperti tebalnya asap karhutla?!
Hutan adalah paru-paru. Relawan adalah jantungnya. Kalau jantungnya dibiarkan gugur satu persatu, siapa yang mau padamkan api besok? For-WIN dari Jakarta sini, sampaikan duka mendalam untuk keluarga yang ditinggal pahlawan karhutla Amang Udin.
Oleh: FC-Goest (Inisiator For-WIN)

















LEAVE A REPLY