Catatan Sunyi Dari Tawa Yang TerlambatCerpen

Catatan Sunyi Dari Tawa Yang Terlambat

Perwirasatu.co.id, Rabu 13 Mei 2026.

Di awal tahun yang terasa ganjil itu, kota masih berdenyut santai seolah dunia baik baik saja, padahal berita dari luar negeri datang seperti gelombang yang tak pernah reda. Orang orang membicarakan virus baru dengan nada bercanda, mengulang ucapan para pejabat yang terdengar ringan dan menenangkan. Di warung kopi, di kantor kecil, hingga di ruang keluarga sempit, kalimat kalimat itu beredar seperti penawar kecemasan. Rakai hanya diam mendengar, merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam cara semua orang menertawakannya.

Rakai adalah jurnalis muda yang terbiasa mencatat hal hal kecil yang sering diabaikan orang lain, termasuk nada suara, jeda bicara, dan ekspresi wajah. Ia menyimpan semua potongan pernyataan itu dalam buku catatan hitam yang selalu ia bawa ke mana pun pergi. Baginya, kata kata bukan sekadar bunyi, melainkan jejak yang suatu hari bisa berubah menjadi bukti. Ia tidak tertawa seperti yang lain, justru merasa semakin gelisah setiap kali mendengar candaan yang berulang.

Suatu sore di warung kopi langganannya, televisi menyiarkan seorang pejabat yang tersenyum santai sambil mengatakan bahwa virus itu tidak akan masuk karena urusan izin di negeri ini terlalu rumit. Tawa pecah di beberapa sudut ruangan, cangkir beradu ringan dengan meja kayu yang mulai kusam. Rakai menunduk, menulis kalimat itu perlahan, lengkap dengan tanggal dan suasana di sekitarnya. Ia bahkan mencatat bagaimana orang orang tertawa tanpa ragu, seolah dunia benar benar aman.

Hari hari berikutnya, pernyataan lain bermunculan dengan nada yang tak kalah ringan dan terkadang terdengar aneh. Ada yang berkata virus tidak kuat menghadapi cuaca tropis, ada pula yang menyebut makanan sederhana sebagai tameng alami tubuh. Rakai mencatat semuanya dengan teliti, sementara orang orang di sekitarnya terus mengulangnya seperti lelucon yang tak pernah basi. Ia mulai merasa bahwa yang sedang ia tulis bukan sekadar catatan, melainkan potongan ironi yang perlahan tumbuh.

Di rumah, ibunya sering mengajaknya berbincang di dapur sambil menyiapkan makan malam sederhana. Mereka membicarakan hal hal kecil, dari harga bahan pokok hingga berita yang terdengar di televisi. Ibunya kadang ikut tertawa menirukan ucapan pejabat yang dianggap lucu, lalu menatap Raka yang justru terlihat murung. Rakai hanya tersenyum tipis, tidak ingin merusak suasana hangat yang selalu ia rindukan setiap pulang.

Beberapa minggu berlalu, dan kabar dari luar negeri berubah menjadi cerita yang lebih gelap dan menyesakkan. Rumah sakit penuh, angka kematian meningkat, dan kota kota besar di dunia mulai sunyi. Di kota Rakai, kehidupan masih berjalan seperti biasa, meski ada kegelisahan kecil yang mulai terasa di sela percakapan. Tawa masih ada, tetapi tidak lagi sekeras sebelumnya.

Rakai mulai menulis artikel kecil untuk medianya, mencoba merangkai pernyataan pernyataan lama dengan perkembangan yang terjadi di luar negeri. Ia merasa ada jarak antara kenyataan dan keyakinan yang dibangun oleh kata kata. Namun tulisannya belum mendapat perhatian besar, seolah orang orang masih memilih percaya pada rasa aman yang semu. Ia pun kembali mencatat, menunggu sesuatu yang ia sendiri tidak ingin benar benar terjadi.

Suatu malam, ibunya batuk lebih lama dari biasanya, lalu mengatakan hanya kelelahan biasa. Rakai sempat terdiam, mengingat berita yang ia baca sepanjang hari, tetapi memilih percaya pada penjelasan sederhana itu. Ia membuatkan teh hangat dan duduk menemani ibunya yang tetap mencoba tersenyum. Dalam diam, ia menulis satu kalimat baru di bukunya tentang hal hal kecil yang sering diabaikan.

Tak lama setelah itu, pengumuman resmi tentang kasus pertama muncul dan mengubah segalanya dalam waktu singkat. Jalanan yang dulu ramai mendadak lengang, warung kopi tutup tanpa kepastian, dan orang orang mulai menjaga jarak dengan cemas. Rakai merasa seperti melihat potongan potongan catatannya menjadi nyata di depan mata. Ia kembali membuka buku hitamnya dan membaca ulang semua yang pernah ia tulis.

Keadaan semakin memburuk ketika ibunya jatuh sakit dengan gejala yang tak lagi bisa dianggap ringan. Rakai berlari dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, menghadapi antrean panjang dan ruang penuh sesak. Ia melihat sendiri bagaimana sistem yang selama ini tampak kuat ternyata rapuh saat diuji. Dalam kepanikan itu, semua kata kata yang pernah ia catat terasa seperti gema yang menghantam dirinya sendiri.

Hari hari berikutnya menjadi kabur, dipenuhi suara mesin, bau obat, dan wajah wajah lelah yang saling berpapasan tanpa banyak kata. Rakai duduk di lorong rumah sakit, menggenggam buku catatannya yang kini terasa jauh lebih berat. Ia tidak lagi menulis pernyataan pejabat atau tawa orang orang, melainkan potongan kenyataan yang tak bisa ia abaikan. Untuk pertama kalinya, ia berharap semua catatannya salah.

Suatu pagi yang sunyi, Rakai membuka halaman terakhir bukunya dan menatap kosong cukup lama sebelum menulis. Tangannya gemetar saat menuliskan satu kalimat tentang bagaimana tragedi sering dimulai dari sesuatu yang dianggap remeh. Ia menutup bukunya perlahan, seolah menyadari bahwa tidak semua hal bisa diperbaiki dengan kata kata. Di sekitarnya, suara langkah terdengar lebih pelan dari biasanya.

Beberapa minggu kemudian, tulisannya terbit sebagai laporan panjang yang memuat catatan catatan yang dulu dianggap sepele. Banyak orang membacanya, sebagian merasa tersentuh, sebagian lagi merasa tidak nyaman dengan kenyataan yang dihadirkan. Rakai tidak lagi mencari reaksi, karena baginya tulisan itu bukan sekadar kritik, melainkan pengingat. Ia hanya berharap tidak ada lagi tawa yang lahir dari ketidaktahuan yang sama.

Di bagian akhir tulisannya, Rakai menyertakan foto halaman terakhir dari buku hitamnya tanpa banyak penjelasan. Hanya ada satu kalimat yang tertulis dengan tinta yang sedikit pudar, tentang harga dari candaan yang terlambat disadari. Pembaca baru menyadari sesuatu yang tersembunyi di bawah kalimat itu. Nama ibunya tercantum di sana, bukan sebagai cerita, melainkan sebagai bagian dari catatan yang tak akan pernah selesai.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)