Home Artikel Cerpen: Kalimat Lama yang Kembali Pulang

Cerpen: Kalimat Lama yang Kembali Pulang

11
0
SHARE
Cerpen: Kalimat Lama yang Kembali Pulang

Keterangan Gambar : Cerpen: Kalimat Lama yang Kembali Pulang

Perwirasatu.co.id , Jakarta - Setiap sore, Jono mengajarkan anak anak di sebuah rumah belajar untuk berhati hati ketika berbicara. Ia tidak pernah menyebut dirinya guru, apalagi orang yang paling tahu tentang kebaikan. Namun setiap kali seorang anak mengucapkan kata kasar, wajah seorang lelaki tua dan selembar surat selalu melintas dalam ingatannya, mengingatkan bahwa sebuah kalimat dapat berjalan jauh dan kembali pada saat tak terduga.


“Kalau marah, jangan langsung bicara,” kata Jono kepada anak anak yang duduk melingkar di lantai. “Diam sebentar, pikirkan dulu apa yang ingin kalian katakan, karena ada kata yang setelah keluar tidak mudah ditarik kembali.” Seorang anak bernama Dimas mengangkat tangan dan bertanya mengapa Jono begitu takut pada kata kata, padahal menurutnya kata hanya suara yang sebentar kemudian hilang.

Jono tersenyum dan memandang halaman melalui jendela. Di luar, angin sore menggoyangkan daun mangga yang sudah tua, sementara cahaya matahari jatuh miring di atas meja kayu yang penuh goresan. Ia hendak menjawab, tetapi pertanyaan itu membawa pikirannya kembali kepada sebuah sore puluhan tahun silam, ketika dirinya masih menjadi anak kecil yang belum mengerti bahwa kemarahan dapat meninggalkan bekas lebih lama daripada luka.

Saat itu Jono berusia sebelas tahun. Ia baru pulang bermain sepak bola dengan lutut kotor dan seragam yang basah oleh keringat ketika bola yang ditendangnya melambung melewati pagar dan menghantam tumpukan bambu milik Pak Darto. Bambu yang telah disusun rapi untuk memperbaiki pagar itu berantakan, dan lelaki tua tersebut keluar dari rumah dengan wajah kesal.

“Kamu kalau main lihat arah,” kata Pak Darto. “Bukan sekali ini saja bolamu masuk halaman orang.” Jono yang merasa dipermalukan di depan teman temannya langsung membalas, “Bapak juga jangan merasa paling benar, nanti Bapak akan merasakan sendiri akibatnya.”

Pak Darto terdiam. Beberapa detik kemudian ia hanya menghela napas dan meminta Jono mengambil bola. Dari ujung jalan, Bu Salma sudah melihat semuanya, tetapi ia tidak memarahi anaknya di depan orang lain. Ia membantu Pak Darto merapikan bambu, meminta maaf, lalu membawa Jono pulang dengan tangan menggenggam pergelangan anak itu.

Malamnya, Jono duduk di lantai sambil membersihkan sepatu. Bu Salma tidak langsung menasihatinya, melainkan meletakkan segelas teh di sampingnya dan berkata, “Ibu tahu kamu marah, tetapi ada satu hal yang harus kamu pelajari.” Jono menatap ibunya, lalu mendengar kalimat yang bertahun tahun kemudian masih melekat di kepalanya, “Kalau sedang marah, jangan biarkan lidahmu memilih masa depanmu.”

Jono tidak sepenuhnya memahami perkataan itu. Baginya, ucapan tadi hanyalah kalimat yang keluar karena kesal dan akan hilang setelah ia tidur. Besok paginya ia kembali bermain, kembali bersekolah, dan tidak pernah membicarakan Pak Darto lagi, sementara Bu Salma menyimpan sesuatu di dalam lemari kayu yang tidak pernah disentuh Jono.

Waktu berjalan tanpa meminta izin. Jono tumbuh menjadi lelaki yang pandai membaca peluang, berani mengambil risiko, dan akhirnya memiliki usaha distribusi bahan bangunan yang berkembang cukup pesat. Ia mampu membeli rumah yang lebih besar, mengganti sepeda motornya dengan mobil, dan membayar kebutuhan ibunya tanpa lagi menghitung uang belanja seperti ketika masih kecil.

Namun keberhasilan membuat cara bicaranya berubah. Kepada pegawai yang lambat ia mudah meninggikan suara, kepada pelanggan yang menawar terlalu rendah ia menyebut mereka tidak tahu diri, dan kepada orang yang gagal ia sering berkata bahwa hidup memang tidak menyediakan tempat bagi mereka yang lemah.

Istrinya beberapa kali mengingatkan hal itu. “Kamu boleh tegas, tetapi tidak harus menyakiti orang,” katanya suatu malam. Jono hanya menjawab, “Kalau saya terlalu lembut, semua orang akan menginjak saya.”

Bu Salma yang mendengar percakapan itu dari ruang tengah hanya diam. Ia tahu anaknya telah tumbuh menjadi lelaki yang berbeda dari anak kecil yang dulu pulang membawa bola, tetapi ia juga tahu bahwa nasihat tidak selalu menemukan tempat ketika seseorang sedang merasa paling benar.

Beberapa tahun kemudian, masalah datang berturut turut. Salah satu rekan bisnis Jono menghilang setelah memindahkan uang perusahaan ke rekening lain, dua pelanggan besar menunda pembayaran, dan bank mulai menagih kewajiban yang selama ini dianggap masih aman. Pada suatu pagi, Jono berdiri di depan meja kantor sambil memandangi daftar gaji pegawai yang belum dapat dibayarnya.

Teleponnya berdering. Kepala gudang bertanya apakah gaji akan tetap dibayarkan hari itu karena beberapa pekerja sudah tidak memiliki uang untuk membawa pulang kebutuhan rumah. Jono memejamkan mata, lalu menjawab dengan suara keras bahwa semua orang harus menunggu karena ia juga sedang kehilangan uang.

Setelah telepon ditutup, ia menatap layar komputer dengan tangan gemetar. Untuk pertama kalinya ia merasakan bagaimana rasanya berada di sisi orang yang selama ini sering ia hakimi. Ia tidak mengatakannya kepada siapa pun, bahkan kepada istrinya.

Beberapa minggu kemudian, Jono pulang ke rumah ibunya. Bu Salma sedang menyiram tanaman ketika ia datang tanpa kabar. Jono duduk di kursi bambu dan berkata bahwa bisnisnya hampir habis, tetapi Bu Salma tidak menanyakan berapa banyak uang yang hilang.

“Ibu tidak marah?” tanya Jono.

“Untuk apa?”

“Karena aku dulu tidak pernah mendengarkan Ibu.”

Bu Salma mematikan keran dan duduk di sebelahnya. “Ibu lebih takut kamu kehilangan dirimu sendiri daripada kehilangan uang.” Jono menunduk, lalu berkata bahwa ia tidak tahu harus memperbaiki semuanya dari mana.

“Mulai dari cara kamu bicara,” jawab Bu Salma.

Jono tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar pahit. “Masalahku uang, Bu, bukan mulut.”

Bu Salma menatapnya lama. “Kadang yang pertama rusak bukan yang paling kelihatan.”

Malam itu Jono menemukan lemari kayu lama yang sejak kecil dilarang dibukanya. Ia bertanya kepada ibunya, tetapi Bu Salma hanya mengatakan bahwa belum waktunya. Jono tidak memaksa, lalu pergi beberapa hari kemudian untuk mencari cara menyelamatkan usaha yang tersisa.

Sebulan setelah itu, pada malam hujan, Jono melihat seorang anak berdiri sendirian di depan toko yang telah tutup. Seragam sekolahnya basah, tasnya dipeluk erat, dan matanya terus memandang jalan seperti sedang menunggu seseorang yang tak kunjung datang.

Jono menghentikan mobil.

“Kamu belum pulang?”

Anak itu menggeleng. “Dijemput Ibu, tetapi belum datang.”

Jono memeriksa jalan yang semakin sepi. Ia kemudian menawarkan tumpangan. Anak itu masuk dengan hati hati dan duduk di kursi belakang sambil memeluk tasnya.

“Namamu siapa?”

“Dimas.”

“Rumahmu di mana?”

Dimas menyebut sebuah alamat yang membuat Jono sedikit terkejut karena lokasinya dekat kampung tempat ia dibesarkan. Sepanjang perjalanan mereka tidak banyak bicara, sampai Dimas tiba tiba berkata bahwa ia baru saja dimarahi gurunya karena bertengkar dengan seorang teman.

Jono tersenyum tipis.

“Kalau marah, jangan asal bicara.”

“Kenapa?”

“Karena Om pernah membuat kesalahan yang sama.”

Dimas menatapnya melalui kaca spion. “Terus apa yang terjadi?”

Jono tidak langsung menjawab. Hujan memukul kaca depan mobil, dan suara wiper terdengar teratur seperti seseorang yang sedang mengetuk pintu ingatan.

“Tidak semua kata bisa kita tarik kembali,” katanya akhirnya.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah kecil. Seorang perempuan keluar sambil berlari dan langsung memeluk Dimas. Setelah memastikan anak itu baik baik saja, perempuan tersebut menoleh kepada Jono.

“Terima kasih, Pak. Boleh saya tahu nama Bapak?”

“Jono.”

Perempuan itu mendadak diam. Wajahnya berubah seperti seseorang yang baru saja menemukan potongan cerita lama yang selama ini hanya dikenalnya dari cerita orang lain.

“Jono yang dulu tinggal di dekat rumah Pak Darto?”

Jono merasa tengkuknya dingin.

“Bapak kenal Pak Darto?”

Perempuan itu mengangguk. “Beliau ayah saya.”

Jono tidak tahu harus menjawab apa. Nama Pak Darto yang telah bertahun tahun tidak pernah disebutnya tiba tiba terasa begitu dekat. Ia memandang Dimas dan baru menyadari bahwa anak itu memiliki tatapan mata yang mengingatkannya pada lelaki tua yang dulu pernah berdiri di depan pagar bambu.

Pak Darto telah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Putrinya bercerita bahwa ayahnya tidak pernah banyak membicarakan pertengkaran dengan Jono, bahkan ketika keluarga mereka sesekali membicarakan masa lalu.

“Bapak justru sering bilang satu hal,” katanya.

“Apa?”

“Katanya, anak itu sebenarnya baik. Waktu kecil dia hanya belum tahu cara mengendalikan marah.”

Jono menelan ludah. Ia teringat kalimat yang pernah dilontarkannya puluhan tahun lalu dan merasa malu karena selama ini ia bahkan tidak pernah meminta maaf.

Perempuan itu kemudian masuk ke rumah dan kembali membawa sebuah amplop cokelat yang sudah tua.

“Ini disimpan Bapak. Saya tidak tahu untuk siapa sampai tadi Anda menyebut nama.”

Jono menerima amplop itu dengan tangan bergetar. Namanya tertulis di bagian depan dengan tinta yang mulai pudar.

Ia membukanya di dalam mobil.

Tulisan tangan Pak Darto memenuhi selembar kertas.

Tidak ada kemarahan di sana.

Tidak ada kata yang menyalahkan.

Pak Darto menulis bahwa manusia sering mengatakan sesuatu ketika marah dan baru memahami maknanya setelah waktu berjalan terlalu jauh. Ia juga menulis bahwa ia pernah melihat Jono menolong seorang anak kecil yang jatuh dari sepeda, lalu diam diam merasa bahwa anak itu sebenarnya memiliki hati yang baik.

Di bagian akhir hanya terdapat beberapa kalimat.

“Kalau suatu hari surat ini sampai kepada Jono, saya tidak ingin dia mengingat saya sebagai orang yang pernah dimarahinya. Saya ingin dia mengingat bahwa setelah hari itu saya selalu berharap dia tumbuh menjadi lelaki yang kata katanya membuat orang lain merasa aman.”

Jono berhenti membaca.

Hujan masih turun.

Untuk beberapa saat ia hanya duduk di dalam mobil dengan surat di tangannya. Kemudian ia menundukkan kepala dan menangis, bukan karena Pak Darto telah memaafkannya, tetapi karena ia baru menyadari bahwa selama puluhan tahun ia telah membawa kebencian kepada dirinya sendiri untuk sebuah pertengkaran yang ternyata tidak pernah disimpan orang lain.

Ketika pulang malam itu, Bu Salma masih terjaga. Jono tidak berkata apa apa, hanya meletakkan amplop tua tersebut di atas meja.

Bu Salma melihatnya dan tersenyum.

“Ibu sudah tahu?”

“Sejak kapan?”

“Sejak Pak Darto menitipkan surat itu.”

Jono terdiam.

“Kenapa Ibu tidak memberikannya sejak dulu?”

Bu Salma menarik napas panjang. “Karena waktu itu kamu masih ingin menang. Ibu tahu kalau surat itu kuberikan ketika kamu belum mengerti, kamu hanya akan membacanya sebagai alasan untuk merasa benar.”

Jono menatap ibunya.

“Jadi Ibu menunggu?”

“Ibu menunggu sampai kamu tahu bagaimana rasanya terluka oleh kata kata.”

Jono mengusap wajahnya. Untuk pertama kalinya ia memahami bahwa selama ini Bu Salma bukan sekadar mengajarinya berbicara sopan. Ia sedang menunggu anaknya mengalami sendiri beratnya kata kata sebelum akhirnya mampu memahami mengapa lisan harus dijaga.

Beberapa bulan berikutnya tidak membuat hidup Jono langsung mudah. Ia tetap harus menjual sebagian aset, membayar utang sedikit demi sedikit, dan meminta maaf kepada orang orang yang pernah diperlakukannya dengan buruk. Tetapi setiap permintaan maaf membuat langkahnya terasa sedikit lebih ringan.

Ia kemudian menggunakan sebuah rumah kosong milik keluarganya untuk membuka tempat belajar kecil bagi anak anak kampung. Tidak ada papan nama besar, tidak ada sumbangan mewah, hanya beberapa meja, rak buku, dan tikar yang dibeli dari uang yang berhasil ia kumpulkan.

Setiap sore ia mengajari anak anak membaca. Jika ada yang bertengkar, ia tidak langsung memarahi mereka.

“Coba ulangi kalimatmu,” katanya.

Anak itu biasanya mengulang dengan suara lebih pelan.

“Sekarang pikirkan bagaimana perasaan orang yang mendengarnya.”

Suatu sore, Dimas datang membawa buku tulis. Ia duduk paling depan dan bertanya, “Om Jono, kalau ada kata yang sudah terlanjur diucapkan, bagaimana cara menghapusnya?”

Jono terdiam cukup lama.

Ia teringat Pak Darto.

Ia teringat ibunya.

Ia teringat dirinya sendiri ketika berusia sebelas tahun, berdiri di depan pagar bambu dengan dada penuh amarah.

“Tidak bisa dihapus,” jawab Jono. “Tetapi kita bisa membuat kata berikutnya menjadi lebih baik.”

Dimas membuka bukunya.

“Kalau begitu, saya mau belajar menulis kata yang baik.”

Jono tersenyum dan mengambil pensil dari tangannya.

Di halaman pertama buku itu, Dimas menulis satu kata dengan huruf yang masih miring dan tidak rapi.

Maaf.

Jono memandangi tulisan tersebut cukup lama.

Kemudian ia mendengar suara Bu Salma dari pintu.

“Jon.”

Jono menoleh.

Ibunya berdiri sambil membawa sebuah kotak kayu tua.

“Kamu belum pernah melihat ini.”

Jono menerima kotak itu dan membukanya.

Di dalamnya ada bola sepak kecil yang kulitnya sudah mengelupas, beberapa foto lama, dan sebuah kertas lusuh yang dilipat berkali kali. Jono mengambil kertas itu, lalu membukanya.

Tulisan di sana bukan milik Pak Darto.

Itu tulisan tangan ibunya.

Hanya satu kalimat.

“Ya Allah, kalau suatu hari anakku salah memilih kata, jangan jadikan kata itu sebagai jalan hidupnya. Beri dia kesempatan untuk belajar mengucapkan yang lebih baik.”

Jono membaca kalimat itu dua kali.

Lalu ia menatap ibunya.

“Ini Ibu tulis kapan?”

Bu Salma tersenyum.

“Malam setelah kamu bertengkar dengan Pak Darto.”

Jono tidak mampu berkata kata.

Selama ini ia mengira nasihat ibunya hanyalah nasihat seorang ibu kepada anak yang sedang marah. Ia baru memahami malam itu bahwa sejak awal, ketika ia masih terlalu kecil untuk mengerti arti sebuah doa, seseorang telah memilih kata yang baik untuk masa depannya.

Jono melipat kertas itu dengan hati hati.

Di hadapannya, Dimas masih memegang pensil.

“Om,” katanya, “setelah kata maaf, saya mau menulis apa?”

Jono memandang anak itu, kemudian melihat tulisan kecil di halaman pertama.

“Terima kasih,” jawabnya.

Dimas menulis perlahan.

Dan untuk pertama kalinya, Jono tidak takut pada kata kata yang pernah keluar dari mulutnya.

Ia hanya ingin memastikan bahwa kata kata yang keluar setelah hari itu menemukan jalan pulang yang lebih baik.

Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home