Home Artikel Cerpen: Ketika Bisono Berhenti Memaksa Arah

Cerpen: Ketika Bisono Berhenti Memaksa Arah

34
0
SHARE
Cerpen: Ketika Bisono Berhenti Memaksa Arah

Keterangan Gambar : Cerpen: Ketika Bisono Berhenti Memaksa Arah

Perwirasatu.co.id , Jakarta - Pagi itu Bisono menerima kabar yang membuatnya menatap layar ponsel terlalu lama. Lamaran pekerjaan yang ia perjuangkan berbulan bulan akhirnya ditolak tanpa penjelasan. Di meja, daftar rencana hidupnya masih tertempel rapi, lengkap dengan angka dan batas usia. Ia belum tahu bahwa hari yang dianggapnya sebagai akhir itu justru akan memaksanya belajar berjalan tanpa menuntut Tuhan menunjukkan tujuan yang pasti kepadanya.

Bisono selalu percaya hidup harus memiliki jadwal. Pada usia tiga puluh dua tahun, ia sudah menentukan pekerjaan yang harus diperoleh, rumah yang harus dibeli, tabungan yang harus terkumpul, bahkan tahun ketika ia merasa seharusnya menikah. Semua angka itu tertulis dalam sebuah tabel yang ditempel di dinding kamar, seolah masa depan adalah proyek yang dapat diselesaikan dengan disiplin. Karena itu, penolakan dari perusahaan yang selama ini diincarnya terasa lebih menyakitkan daripada kehilangan pekerjaan.

Ia duduk di tepi ranjang sampai kopi di meja menjadi dingin. Tangannya beberapa kali hendak menghapus pesan penolakan itu, tetapi selalu berhenti karena bagian kecil dalam dirinya masih berharap ada kesalahan. Ibunya masuk membawa singkong rebus, melihat wajah anaknya, lalu meletakkan piring tanpa bertanya banyak. “Makan dulu,” katanya, “orang kecewa juga butuh tenaga.”

Bisono tertawa hambar, kemudian menunjukkan layar ponselnya. Ia bercerita tentang berbulan bulan persiapan, latihan wawancara, sertifikat yang dikejar malam malam, dan rencana pindah ke Jakarta yang sudah hampir selesai. Ibunya mendengarkan sambil mengupas singkong, lalu berkata bahwa manusia boleh menyusun rencana sedetail mungkin, tetapi tidak pernah diberi kewajiban untuk memastikan hasilnya. Bisono tidak menjawab karena menurutnya kalimat itu terlalu mudah bagi seseorang yang tidak sedang kehilangan sesuatu.

Siang harinya ia tetap pergi ke terminal. Seorang sahabat bernama Bayu sudah beberapa kali mengajaknya datang ke kota kecil tempat bengkel miliknya berdiri, dan kali ini Bisono memutuskan menerima ajakan itu. Ia tidak tahu berapa lama akan tinggal, tetapi ia ingin menjauh dari kamar yang penuh angka dan rencana. Sebelum berangkat, ia melepas tabel hidup dari dinding, melipatnya, lalu memasukkannya ke dalam tas.

Bus berjalan meninggalkan kota ketika hujan mulai turun. Bisono duduk di dekat jendela dan melihat air membentuk garis garis panjang pada kaca, sementara jalan di luar berubah menjadi kabur. Ia mencoba tidur, tetapi pikirannya terus menghitung apa yang harus dilakukan berikutnya. Bahkan dalam keadaan kecewa, ia masih ingin segera menemukan jalan pengganti.

Bus berhenti di sebuah warung kecil karena ban belakang bermasalah. Para penumpang turun untuk membeli minuman, sementara sopir dan kernet memeriksa kendaraan di bawah hujan yang mulai reda. Bisono melihat seorang lelaki tua kesulitan mengangkat dua karung beras dari gerobak ke sepeda motor, lalu tanpa berpikir panjang ia membantu. Setelah pekerjaan selesai, lelaki itu mengucapkan terima kasih dan menawarkan teh hangat, tetapi Bisono menolak karena merasa waktunya lebih berharga daripada duduk berbincang dengan orang asing.

Beberapa langkah kemudian, Bisono mendengar suara benda jatuh. Sebuah buku catatan milik lelaki tua itu tergeletak di tanah basah, sebagian halamannya terbuka dan terkena air. Bisono memungutnya, membersihkan sampulnya dengan ujung baju, lalu mengembalikannya. Lelaki itu menerima buku tersebut dengan hati hati dan berkata bahwa ada hal yang tidak boleh dibiarkan basah, meski kelihatannya hanya kertas biasa.

“Catatan apa?” tanya Bisono.

“Nama anak anak yang harus dikirimi buku,” jawab lelaki itu.

Bisono hanya mengangguk. Lelaki tersebut kemudian naik ke sepeda motornya dan pergi sebelum Bisono sempat bertanya lebih jauh. Ketika bus kembali berjalan, Bisono melihatnya dari kaca belakang sampai tubuh lelaki itu hilang di tikungan. Pertemuan itu segera dilupakannya.

Di kota tujuan, Bisono tinggal di kamar kecil belakang bengkel Bayu. Selama beberapa minggu ia membantu mencatat transaksi, membeli suku cadang, dan mengurus pelanggan ketika Bayu sedang keluar. Pekerjaan itu jauh dari rencana hidupnya, tetapi untuk sementara ia menikmatinya karena tidak ada target yang harus dikejar. Hanya saja, setiap malam sebelum tidur, ia masih membuka situs lowongan pekerjaan dan mengirim lamaran ke berbagai perusahaan.

Suatu sore Bayu memintanya membantu sebuah sekolah dasar yang berada tidak jauh dari bengkel. Komputer sekolah itu sudah lama tidak digunakan karena guru gurunya tidak memahami cara memperbaikinya, sementara beberapa murid membutuhkan bantuan belajar matematika. Bisono awalnya menolak karena merasa waktunya harus digunakan untuk mencari pekerjaan. Bayu hanya berkata bahwa membantu dua jam tidak akan membuat masa depannya hancur.

Bisono datang dengan niat menyelesaikan masalah teknis lalu pulang. Ternyata ia tinggal lebih lama karena seorang anak laki laki terus bertanya tentang cara kerja komputer dan tidak mau berhenti sebelum mengerti. Anak itu bernama Fajar, duduk di bangku paling belakang, dan selalu membawa buku yang sampulnya hampir terlepas. Ketika Bisono hendak pulang, Fajar bertanya apakah ia akan datang lagi besok.

Pertanyaan sederhana itu membuat Bisono diam. Ia terbiasa mengejar sesuatu yang memberikan keuntungan jelas, sementara anak itu hanya menunggu seseorang yang bersedia kembali. Keesokan harinya Bisono datang lagi, lalu hari berikutnya, hingga tanpa sadar ia mulai mengajar tiga kali seminggu. Ia masih mengirim lamaran pekerjaan setiap malam, tetapi kini ia tidak lagi merasa bahwa hari harinya sia sia ketika tidak mendapat panggilan.

Beberapa bulan kemudian, Bisono mulai mengenal keadaan anak anak di sekolah itu. Ada yang sering mengantuk karena membantu orang tuanya berjualan hingga malam, ada yang datang tanpa sarapan, dan ada pula yang menyembunyikan buku pelajaran karena takut diejek teman. Bisono mulai membeli beberapa buku dengan uangnya sendiri, tetapi ia tidak pernah mengatakan kepada siapa pun bahwa buku buku itu berasal darinya. Ia hanya meletakkannya di meja guru sebelum kelas dimulai.

Kebiasaan itu akhirnya diketahui oleh seorang guru bernama Bu Sari. Perempuan itu tidak memuji Bisono, tetapi justru mengajaknya melihat gudang sekolah yang penuh kardus. Di dalamnya terdapat komputer bekas, buku pelajaran, dan beberapa meja yang belum pernah digunakan karena tidak ada biaya untuk memperbaikinya. Bu Sari berkata bahwa sekolah itu tidak kekurangan anak yang ingin belajar, melainkan kekurangan orang yang mau bertahan cukup lama untuk membantu mereka.

Kalimat itu mengusik Bisono. Ia teringat tabel hidup yang tersimpan di dalam tas, lalu teringat betapa sering dirinya berpindah perhatian hanya karena sesuatu tidak segera memberikan hasil. Malam itu ia membuka kembali tabel tersebut dan melihat angka angka yang dulu membuatnya merasa aman. Untuk pertama kalinya, semua angka itu tampak seperti pagar yang ia bangun sendiri.

Pada bulan berikutnya, Bisono mendapat panggilan dari sebuah perusahaan di kota besar. Posisi itu tidak sama persis dengan pekerjaan yang sebelumnya ditolak, tetapi gajinya lebih tinggi dan jenjang kariernya jauh lebih jelas. Bayu mengucapkan selamat, sedangkan Bisono hanya membaca surat elektronik itu berkali kali. Ia tahu kesempatan tersebut mungkin membawa dirinya kembali ke kehidupan yang pernah ia rancang.

Selama tiga hari Bisono tidak memberi jawaban. Ia datang ke sekolah seperti biasa, tetapi pikirannya terus berada di tempat lain. Ketika Fajar menunjukkan hasil ujian matematikanya yang meningkat drastis, Bisono tersenyum dan mengatakan bahwa ia harus segera kembali ke kota besar. Fajar mengangguk, lalu memasukkan kertas ujiannya ke dalam tas tanpa bertanya apa apa.

Keesokan harinya Bisono datang untuk berpamitan. Ia mengira anak anak akan kecewa, tetapi mereka justru sibuk menyiapkan sesuatu di ruang kelas. Bu Sari memberikan sebuah kotak kardus kecil yang di dalamnya terdapat buku catatan milik Bisono, berisi jadwal pelajaran dan nama anak anak yang pernah dibantunya. Di halaman terakhir, seseorang menggambar jalan panjang dengan banyak persimpangan.

“Ini dari Fajar,” kata Bu Sari.

Bisono membuka halaman itu dan menemukan tulisan yang masih penuh kesalahan ejaan. Anak itu menulis bahwa dahulu ia takut memilih jalan karena semua orang mengatakan bahwa hanya ada satu jalan menuju cita cita. Sekarang ia tahu bahwa selama masih mau belajar dan tidak berhenti melangkah, seseorang dapat menemukan jalan lain ketika jalan pertama tidak bisa dilewati.

Bisono menutup buku itu perlahan. Tidak ada kalimat yang menyuruhnya tinggal, tidak ada anak yang memintanya membatalkan pekerjaan, dan tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa menjadi pengajar adalah pilihan yang lebih mulia. Justru karena tidak ada yang memaksanya, keputusan itu terasa sepenuhnya miliknya. Ia kemudian sadar bahwa selama ini ia selalu bertanya pekerjaan mana yang akan membuat hidupnya berhasil, bukan kehidupan seperti apa yang ingin ia jalani.

Sore itu ia duduk sendirian di bangku depan sekolah. Jalan raya di depannya ramai oleh sepeda motor dan kendaraan yang bergerak menuju berbagai arah. Ia mengeluarkan ponsel, membuka surat penerimaan pekerjaan tersebut, lalu membaca seluruh isinya sekali lagi. Setelah itu ia menelepon perusahaan dan mengatakan bahwa ia belum dapat menerima tawaran tersebut.

Malamnya Bisono kembali ke kamar belakang bengkel. Ia mengambil tabel hidup dari tas dan membentangkannya di lantai. Ada target rumah, jabatan, tabungan, usia pernikahan, dan berbagai angka yang dahulu dianggapnya sebagai bukti bahwa hidupnya berjalan dengan benar. Ia tidak merobek kertas itu, melainkan melipatnya dengan rapi dan menyimpannya di laci.

Keesokan pagi, Bisono kembali ke sekolah membawa beberapa komputer bekas yang berhasil diperbaikinya bersama Bayu. Anak anak menyambutnya seperti biasa, tanpa mengetahui bahwa sehari sebelumnya ia baru saja menolak pekerjaan yang mungkin akan mengubah seluruh hidupnya. Bisono tidak merasa telah membuat keputusan terbesar dalam hidupnya, sebab ia hanya merasa sedang memilih langkah yang paling jujur untuk hari itu. Tentang hari esok, ia belum tahu.

Beberapa minggu kemudian, lelaki tua dari warung dahulu datang ke sekolah. Bisono mengenalinya dari buku catatan yang pernah basah terkena hujan, tetapi kali ini lelaki itu tidak membawa karung beras. Ia datang membawa beberapa dus buku dan sebuah surat dari yayasan pendidikan yang selama ini membantu sekolah tersebut. Setelah berbincang dengan Bu Sari, lelaki itu memandang Bisono dan bertanya apakah ia bersedia membantu mengelola program komputer untuk beberapa sekolah di desa sekitar.

Bisono terdiam cukup lama. Tawaran itu bukan pekerjaan dengan gedung tinggi, kartu nama mengilap, atau angka gaji yang pernah ia bayangkan ketika menyusun tabel hidup. Namun pekerjaan itu memberi kesempatan kepadanya untuk melakukan sesuatu yang selama berbulan bulan ternyata sudah ia kerjakan tanpa menunggu siapa pun menyebutnya sebagai pekerjaan. Ia menerima tawaran tersebut dengan satu syarat, yaitu tetap bisa mengajar di sekolah itu.

Sebelum pulang, Bisono menghampiri lelaki tua tersebut. Ia baru mengetahui bahwa lelaki itu adalah salah satu pengurus yayasan yang dulu rutin mengantarkan buku dan beras ke sekolah sekolah terpencil. Bisono bertanya mengapa lelaki itu memilih menawarinya pekerjaan. Lelaki itu tersenyum dan menjawab bahwa ia pernah melihat banyak orang pintar datang untuk membantu, tetapi sedikit yang bersedia datang kembali setelah tidak lagi dibutuhkan.

Jawaban itu membuat Bisono teringat pada hari di terminal. Ia sadar bahwa lelaki tersebut sebenarnya tidak pernah mengenalnya dengan baik ketika mereka bertemu, dan mungkin tidak ada sesuatu yang istimewa dalam pertemuan itu. Ia hanya kebetulan membantu mengangkat karung, kebetulan memungut buku, lalu kebetulan bertemu lagi di tempat yang berbeda. Tetapi bagi Bisono, rangkaian kebetulan itu telah mengajarinya sesuatu yang tidak pernah berhasil ia dapatkan dari ribuan perhitungan.

Malam itu hujan turun lagi. Bisono berdiri di depan jendela kamar belakang bengkel dan melihat air mengalir di sepanjang jalan. Dahulu ia akan bertanya ke mana jalan itu menuju, berapa lama perjalanan, dan apakah tempat di ujungnya sesuai dengan rencana. Kali ini ia hanya mengambil payung dan keluar untuk mengantar buku yang sudah dijanjikannya kepada Fajar.

Di tengah perjalanan, ia melewati persimpangan yang menuju terminal. Bus bus masih datang dan pergi membawa orang menuju kota yang berbeda. Bisono berhenti sebentar, lalu tersenyum mengingat hari ketika ia meninggalkan kota dengan perasaan kalah. Ia baru mengerti bahwa hari itu bukan tentang pekerjaan yang gagal ia dapatkan, melainkan tentang sebuah rencana yang akhirnya berhenti menguasai hidupnya.

Sesampainya di sekolah, Fajar sudah menunggu di teras. Anak itu bertanya apakah Bisono jadi pergi ke kota besar. Bisono mengangguk dan menjawab bahwa ia tetap pergi suatu hari nanti, tetapi belum tahu kapan dan untuk apa. Fajar tertawa, lalu berkata bahwa kalau begitu Pak Bisono tidak perlu membawa peta.

Bisono ikut tertawa. Ia memandang jalan yang basah di depan sekolah, kemudian berjalan bersama Fajar menuju ruang kelas. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak merasa harus mengetahui di mana langkah itu akan berakhir. Ia hanya tahu bahwa pagi akan datang, pekerjaan menunggu, anak anak akan belajar, dan langkah berikutnya selalu bisa diambil dengan sungguh sungguh.

Di laci kamarnya, tabel hidup itu masih tersimpan. Tidak ada yang ia ubah, tidak ada angka yang ia coret, dan tidak ada target baru yang ia tulis di atasnya. Hanya ada satu kalimat yang ia tambahkan di bagian paling bawah, dengan tulisan tangannya sendiri. “Aku boleh merencanakan perjalanan, tetapi aku tidak harus memaksa arah.”
(Dwi Taufan Hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home