Home Artikel Ketika Kuas Menjadi Bahasa Bioskop Indonesia

Ketika Kuas Menjadi Bahasa Bioskop Indonesia

68
0
SHARE
Ketika Kuas Menjadi Bahasa Bioskop Indonesia

Keterangan Gambar : Gambar itu bukan hasil mesin cetak, melainkan sapuan kuas pelukis yang bekerja mengejar jadwal tayang. Salah satunya A.R. Tanjung, yang sejak remaja menjadikan bioskop sebagai ruang belajar sekaligus tempat menemukan jalan hidup melalui poster film.

Perwirasatu.co.id , Jakarta - Sebelum promosi film memenuhi layar ponsel, wajah aktor berukuran besar menyambut penonton di depan bioskop. Gambar itu bukan hasil mesin cetak, melainkan sapuan kuas pelukis yang bekerja mengejar jadwal tayang. Salah satunya A.R. Tanjung, yang sejak remaja menjadikan bioskop sebagai ruang belajar sekaligus tempat menemukan jalan hidup melalui poster film.

Pada 1980-an, poster film yang dilukis dengan tangan masih menjadi bagian dari pemandangan bioskop Indonesia. Kain dan papan tripleks menjadi kanvas. Wajah aktor dibuat mencolok, warna ditarik berani, judul film ditulis besar agar terbaca dari kejauhan. Poster bukan sekadar hiasan, tetapi alat promosi yang memperkenalkan film kepada calon penonton. (detikNews, 26 Maret 2023)

A.R. Tanjung mengenal dunia itu sejak duduk di bangku SMP. Ia biasa membuat sketsa ulang poster yang dilihatnya di depan bioskop, lalu membandingkannya dengan gambar asli. Dari kebiasaan itu, ia masuk ke Liem Studio sebagai asisten. Mencuci kuas, membeli cat, melipat poster dan mengantar pesanan menjadi sekolah pertamanya sebelum akhirnya dipercaya menggambar wajah para aktor. (detikNews, 26 Maret 2023)

Pekerjaan itu menuntut keterampilan yang berbeda dari melukis biasa. Menurut Tanjung, poster harus menggunakan warna cemerlang dan kontras karena dilihat dari jarak beberapa meter. Pelukis terlebih dahulu membuat kisi-kisi berdasarkan foto yang diberikan kantor film, kemudian menyusun sketsa, menentukan warna, melukis dan menambahkan judul serta nama pemain. Tantangan terbesarnya adalah membuat wajah aktor tetap dikenali. (detikNews, 26 Maret 2023)

Di tangan pelukis, promosi film sekaligus menjadi pertunjukan visual. Wajah bintang diperbesar, adegan laga, romansa atau horor dipilih untuk memancing perhatian. Tetapi di balik romantisme itu terdapat pekerjaan komersial yang harus tunduk pada pesanan industri. Tanjung, misalnya, pernah mendapat kritik karena melukis adegan yang dianggap terlalu vulgar. Ia menjelaskan bahwa materi tersebut berasal dari permintaan kantor film. (detikNews, 26 Maret 2023)

Yang kemudian berubah bukan hanya cara membuat poster. Seluruh ekosistem bioskop ikut berubah. Bioskop modern banyak berpindah ke pusat perbelanjaan dan tidak lagi membutuhkan papan besar di ruang terbuka. Poster berukuran lebih kecil sudah cukup. Bersamaan dengan itu, digital printing mampu menghasilkan gambar dalam ukuran besar secara lebih cepat, murah dan seragam. Profesi pelukis poster pun kehilangan pasar utamanya. (Jawa Pos, 5 Januari 2022)

A.R. Tanjung menyebut digitalisasi, kenaikan pajak reklame dan ketiadaan regenerasi sebagai beberapa faktor yang membuat profesi tersebut semakin surut. Poster terakhir yang ia lukis adalah Sang Kiai pada 2013, atas pesanan sebuah gedung bioskop. Setelah permintaan menyusut, ia tetap berada di dunia seni sebagai guru gambar dan pelukis. (detikNews, 26 Maret 2023)

Namun mengatakan poster lukis telah mati sepenuhnya juga tidak tepat. Di Bioskop Rajawali Purwokerto, tradisi tersebut masih dipertahankan. Parsan, yang mulai bekerja di bioskop itu pada 1987, dipercaya melukis poster sejak 1990 dan masih mengerjakannya hingga kini. Dalam sebulan ia dapat melukis sekitar 13 judul. (detikJateng, 9 Oktober 2023)

Bioskop Rajawali menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu harus menghapus tradisi. Lukisan manual justru menjadi identitas yang membedakannya dari jaringan bioskop modern. Bahkan papan tripleks dapat digunakan berulang kali dengan cara ditimpa kembali setelah film selesai diputar. Di tempat itu, poster bukan hanya iklan, tetapi bagian dari karakter sebuah gedung dan pengalaman penontonnya. (detikJateng, 9 Oktober 2023)

Di sinilah persoalan poster film menjadi lebih besar daripada nostalgia. Perpustakaan Nasional RI menerbitkan buku Poster Film Indonesia: Masa 1980-1990 pada 2011, sebuah penanda bahwa poster film dapat dibaca sebagai bagian dari dokumentasi visual perfilman Indonesia. Poster menyimpan jejak tentang aktor yang populer, genre yang digemari, bahasa visual yang digunakan dan cara industri membujuk penonton untuk datang ke bioskop. (Perpustakaan Nasional RI, 2011)

Yang menarik, para pelukis poster justru sering berada di balik layar dari sebuah industri yang menjadikan wajah bintang sebagai daya jual. Mereka membuat wajah aktor semakin besar, tetapi nama pembuatnya jarang diketahui publik. Ketika teknologi digital datang, yang hilang bukan hanya pekerjaan menggambar di atas papan, melainkan juga sebuah rantai pengetahuan: cara membuat komposisi, memilih warna, menggambar wajah, membuat lettering dan bekerja dengan tenggat tayang.

Karena itu, menyelamatkan poster lukis tidak berarti memaksa bioskop kembali menggunakan teknologi lama. Yang lebih penting adalah menyelamatkan pengetahuan dan karya yang tersisa. Arsip perlu dikumpulkan, karya perlu didokumentasikan, teknik perlu diajarkan dan nama para pelukis perlu dicatat dalam sejarah perfilman Indonesia.

A.R. Tanjung pernah menyimpan gagasan untuk mendirikan museum poster film bernama Art Tanjung Center. Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa persoalannya bukan sekadar kehilangan pekerjaan, tetapi juga kekhawatiran bahwa karya dan sejarah sebuah profesi akan ikut hilang dari ingatan. (detikNews, 26 Maret 2023)

Hari ini, poster film datang kepada kita melalui layar digital, media sosial dan berbagai platform promosi. Lebih cepat, lebih murah dan jauh lebih mudah disebarkan. Tetapi poster lukis mengingatkan bahwa sebelum gambar menjadi file yang dapat dikirim dalam hitungan detik, pernah ada manusia yang menghabiskan waktu untuk membuat satu wajah terlihat hidup di atas papan.

Maka pertanyaan tentang poster film apa yang paling diingat sebenarnya bukan sekadar permainan nostalgia. Di balik satu gambar yang pernah berdiri di depan bioskop, ada seniman, pekerja, teknologi, industri dan sebuah cara masyarakat membangun ingatan tentang film.

Poster itu bekerja sebelum film dimulai. Ia menjual cerita sebelum tiket dibeli.

Dan ketika kuas tersingkir dari depan bioskop, yang perlu kita tanyakan bukan hanya apa yang telah digantikan oleh teknologi, tetapi juga apa yang harus diselamatkan sebelum sebuah bagian dari sejarah visual Indonesia benar-benar terlupakan.
(Dwi Taufan Hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home