
Keterangan Gambar : Hujan turun sejak menjelang Magrib ketika seorang lelaki tua berhenti di depan rumah paling megah di Desa Karangjati. Tubuhnya basah kuyup, tongkat kayu yang menemaninya bergetar di antara jemarinya yang renta.
Perwirasatu.co.id, 05 September 2026.
Hujan turun sejak menjelang Magrib ketika seorang lelaki tua berhenti di depan rumah paling megah di Desa Karangjati. Tubuhnya basah kuyup, tongkat kayu yang menemaninya bergetar di antara jemarinya yang renta. Tidak seorang pun mengetahui bahwa langkahnya hari itu membawa sebuah harapan yang telah dipelihara selama puluhan tahun. Sementara itu, di balik dinding rumah yang kokoh, seorang lelaki sedang sibuk menikmati pujian yang kelak akan menjadi awal dari kehancuran batinnya.
Desa Karangjati mengenal Arman sebagai sosok yang sukses. Ia membangun perusahaan mebel dari sebuah bengkel kecil hingga memiliki puluhan karyawan dan pelanggan dari berbagai kota. Hampir setiap pembangunan fasilitas umum melibatkan bantuannya sehingga namanya selalu disebut dalam berbagai acara desa. Warga menghormatinya bukan hanya karena kekayaannya, tetapi juga karena kepandaiannya mengembangkan usaha yang memberi lapangan pekerjaan bagi banyak orang.
Namun keberhasilan sering membawa tamu yang tidak diundang. Setiap pujian yang diterima Arman perlahan berubah menjadi cermin yang hanya memantulkan dirinya sendiri. Ia mulai menikmati setiap tepuk tangan, setiap ucapan kagum, dan setiap penghormatan yang diberikan orang lain. Tanpa disadari, rasa syukur yang dahulu memenuhi dadanya perlahan digantikan keyakinan bahwa semua keberhasilan itu lahir semata karena kecerdasan dan kerja kerasnya.
Arman sebenarnya bukan lelaki yang kejam. Ia sangat menyayangi istrinya dan begitu bangga kepada putri semata wayangnya yang sedang menempuh pendidikan kedokteran. Ia tidak pernah lalai menunaikan salat berjamaah jika berada di rumah dan selalu menyisihkan sebagian keuntungan usahanya untuk membantu masyarakat. Sayangnya, setiap kebaikan itu mulai ternoda oleh keinginan agar semua orang mengetahui dan mengaguminya.
Suatu sore, panitia pembangunan musala mengadakan syukuran sederhana. Seorang perantau yang tidak ingin disebutkan namanya memberikan bantuan jauh lebih besar daripada sumbangan Arman. Warga bertepuk tangan penuh rasa syukur, sedangkan Arman hanya tersenyum tipis. Seusai acara ia memilih pulang lebih awal, dan sejak hari itu wajahnya tak lagi sehangat biasanya setiap kali mendengar nama sang dermawan disebut.
"Ayah terlihat gelisah sejak pulang dari musala," kata putrinya saat makan malam. Arman hanya tersenyum sambil mengalihkan pembicaraan. Istrinya menatap lembut lalu berkata, "Jangan biarkan pujian manusia lebih kita dengarkan daripada bisikan hati sendiri." Arman mengangguk sekadarnya, meski jauh di dalam dirinya ia merasa nasihat itu tidak perlu ditujukan kepadanya.
Di sudut desa tinggal seorang lelaki sepuh bernama Pak Rahmat. Rumahnya sederhana dengan dinding papan yang mulai lapuk, tetapi halaman kecilnya selalu dipenuhi bunga yang dirawat dengan penuh kasih. Seusai salat Subuh, ia kerap mengajari anak anak membaca Al Quran tanpa meminta imbalan sedikit pun. Banyak warga datang kepadanya untuk meminta nasihat karena tutur katanya selalu lahir dari pengalaman hidup yang panjang.
Suatu malam pengajian, Pak Rahmat menyampaikan kisah tentang Iblis yang terusir dari surga. Ia menjelaskan bahwa kesombongan tidak selalu lahir dari kekayaan atau kekuasaan, melainkan bisa tumbuh dari amal yang dibanggakan dan merasa diri lebih mulia daripada orang lain. "Manusia bahkan belum mengetahui di mana akhir perjalanannya, tetapi sering berjalan di bumi seolah telah menggenggam kunci surga," ucapnya dengan suara tenang. Kalimat itu membuat sebagian jamaah menundukkan kepala, sementara Arman hanya memandang langit langit masjid tanpa banyak bereaksi.
Hari hari berikutnya Arman semakin sibuk mengejar keberhasilan. Ia mulai mengukur nilai seseorang dari penampilan dan pencapaiannya. Tanpa sadar ia menjadi lebih cepat menghakimi, lebih sulit mendengarkan, dan lebih mudah merasa tersinggung. Kesombongan ternyata tidak datang sebagai badai, melainkan sebagai embun tipis yang perlahan menutupi kejernihan hati.
Pada suatu sore yang mendung, seorang lelaki tua terlihat berdiri cukup lama di depan rumah Arman. Pakaiannya lusuh, wajahnya dipenuhi keriput, dan matanya memandang halaman rumah itu dengan sorot yang sulit dijelaskan. Beberapa kali ia mengeluarkan secarik foto yang telah kusam sebelum kembali menyimpannya ke dalam saku. Satpam sempat bertanya siapa yang hendak ditemui, tetapi lelaki tua itu hanya menjawab bahwa ia ingin bertemu pemilik rumah sebentar saja.
Ketika hujan mulai turun deras, lelaki tua itu akhirnya mengetuk pintu. Arman membukanya sedikit sambil tetap berdiri di balik daun pintu yang kokoh. Lelaki tua itu tersenyum lemah dan berkata bahwa ia hanya ingin berbicara beberapa menit. Namun sebelum kalimatnya selesai, Arman memotong dengan suara datar, "Kalau Bapak ingin meminta bantuan, silakan ke balai desa. Saya sedang sibuk."
Lelaki tua itu tidak membalas. Ia hanya memandang wajah Arman beberapa saat seolah ingin menghafalkan setiap garis yang ada di sana. Bibirnya bergerak pelan seperti hendak mengucapkan sesuatu, tetapi akhirnya ia hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Dengan langkah perlahan ia kembali berjalan menembus hujan yang semakin deras.
Dari balik jendela lantai dua, putri Arman memperhatikan pemandangan itu. "Ayah, mengapa tidak dipersilakan masuk dahulu?" tanyanya. Arman menjawab singkat bahwa tidak semua orang yang datang memiliki niat baik. Putrinya tidak membantah, tetapi ada kegelisahan yang terus mengendap di dalam hatinya.
Esok paginya desa digemparkan kabar bahwa seorang lelaki tua ditemukan meninggal dunia di sebuah gardu dekat persawahan. Warga bergotong royong mengurus jenazahnya karena tidak ditemukan identitas yang jelas selain sebuah tas kecil berisi pakaian lusuh, Al Quran yang sudah usang, dan sebuah buku catatan. Arman mendengar kabar itu sekilas, lalu kembali tenggelam dalam kesibukan pekerjaannya.
Beberapa bulan kemudian keadaan berubah drastis. Kebakaran melanda gudang utama milik Arman, disusul pembatalan kontrak besar dari luar negeri dan kegagalan investasi yang selama ini dianggap menjanjikan. Dalam waktu singkat kekayaan yang dibangunnya bertahun tahun mulai runtuh satu demi satu. Orang orang yang dahulu mengelilinginya perlahan menghilang tanpa meninggalkan kabar.
Arman mulai merasakan sunyi yang belum pernah dikenalnya. Rumah megah itu terasa begitu luas dan dingin ketika tamu sudah tidak lagi berdatangan. Telepon yang dahulu nyaris tidak pernah berhenti berdering kini lebih sering terdiam. Baru saat itulah ia menyadari bahwa sebagian penghormatan yang diterimanya selama ini ternyata mengikuti arah kekayaan, bukan ketulusan persahabatan.
Dalam kegelisahan itu Arman kembali mendatangi masjid. Seusai salat Isya ia duduk cukup lama hingga hanya tersisa dirinya dan Pak Rahmat. Lelaki sepuh itu tidak langsung memberi nasihat. Ia hanya duduk di samping Arman sambil memandang langit yang dipenuhi bintang.
"Pak, mengapa hati saya terasa kosong padahal dulu saya memiliki segalanya?" tanya Arman lirih. Pak Rahmat tersenyum tipis lalu menjawab, "Karena hati tidak pernah bisa dipenuhi oleh pujian manusia. Ia hanya tenang jika dipenuhi kerendahan hati di hadapan Allah." Jawaban sederhana itu membuat Arman menundukkan kepala dan untuk pertama kalinya menangis tanpa mampu menahan air matanya.
Sejak malam itu hidup Arman perlahan berubah. Ia kembali membantu orang lain tanpa mencantumkan namanya. Ia menyapa para buruh dengan ramah dan sering duduk bersama petani yang dahulu jarang dipandangnya. Bahkan ia mulai membersihkan musala setiap pagi sebelum orang lain datang tanpa seorang pun mengetahui siapa yang melakukannya.
Suatu hari Pak Rahmat datang membawa sebuah tas kecil yang ditemukan bersama jenazah lelaki tua beberapa bulan lalu. "Pemiliknya pernah berpesan agar tas ini diberikan kepada seseorang jika ia tidak sempat menyampaikan sendiri," katanya. Arman menerima tas itu dengan tangan bergetar, meski ia belum mengerti mengapa benda itu diserahkan kepadanya.
Di dalam tas terdapat sebuah foto keluarga yang mulai pudar. Pada foto itu tampak seorang anak kecil dengan tanda lahir di belakang telinga kiri yang sangat mirip dengan miliknya. Ada pula sebuah surat yang belum sempat terkirim serta buku catatan tua dengan halaman yang telah menguning dimakan waktu.
Dengan napas tertahan Arman membuka halaman terakhir buku itu. Tulisan tangan yang mulai memudar masih dapat dibaca dengan jelas. "Jika Allah mengizinkan aku bertemu anakku, aku hanya ingin melihat wajahnya sekali saja. Aku tidak datang untuk meminta apa pun. Aku hanya ingin memastikan ia hidup sebagai lelaki yang baik dan rendah hati."
Arman membalik halaman berikutnya dan menemukan sebuah kalimat yang membuat tubuhnya seakan kehilangan tenaga. "Rumah megah itu memang milik anakku. Hari ini aku melihatnya dari dekat, tetapi aku tidak sanggup mengatakan bahwa aku adalah ayahnya. Mungkin Allah sedang mengajarkannya sesuatu yang tidak mampu aku ajarkan selama kami terpisah."
Tas itu terjatuh dari genggaman Arman. Air matanya mengalir tanpa dapat dibendung ketika ia menyadari bahwa lelaki tua yang diusirnya pada malam hujan itu adalah ayah kandung yang telah mencarinya selama puluhan tahun. Ia berlari menuju makam sederhana di pinggir desa, memeluk batu nisannya sambil memohon ampun dalam isak yang panjang. Saat itulah Arman memahami bahwa kesombongan bukan hanya dapat menjauhkan manusia dari rahmat Allah, tetapi juga mampu menutup pintu hati hingga ia gagal mengenali kasih sayang yang telah berdiri di depan rumahnya sendiri.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat

















LEAVE A REPLY