Home Politik DI BALIK RESHUFFLE KETUJUH KABINET PRABOWO

DI BALIK RESHUFFLE KETUJUH KABINET PRABOWO

20
0
SHARE
DI BALIK RESHUFFLE KETUJUH KABINET PRABOWO

Keterangan Gambar : Perombakan kali ini bukan sekadar mengganti nama. Sejumlah figur tetap berada dalam orbit pemerintahan, tetapi memperoleh tanggung jawab berbeda

Perwirasatu.co.id , Jakarta - Satu demi satu pejabat berdiri di hadapan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026. Sebagian datang untuk menduduki kursi baru, sebagian lainnya berpindah dari satu pusat kekuasaan ke pusat kekuasaan berbeda. Siang itu, wajah Kabinet Merah Putih kembali berubah. Namun, reshuffle ketujuh ini menyimpan pertanyaan lebih penting: apa yang sesungguhnya hendak dicapai dari perubahan tersebut?

Perombakan kali ini bukan sekadar mengganti nama. Sejumlah figur tetap berada dalam orbit pemerintahan, tetapi memperoleh tanggung jawab berbeda. Polanya memperlihatkan penataan ulang simpul penting pemerintahan, mulai dari hilirisasi dan energi, pembangunan manusia, perekonomian, diplomasi dan keamanan hingga lembaga-lembaga strategis di sekitar Presiden.

Bahlil Lahadalia menjadi salah satu figur yang menonjol. Menteri ESDM itu mendapat mandat sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi. Secara kelembagaan, konfigurasi tersebut berpotensi memperpendek koordinasi kebijakan hilirisasi dan energi. Namun kewenangan yang semakin besar juga menghadirkan tuntutan akuntabilitas yang semakin tinggi.

Pergeseran strategis terjadi pada Sugiono. Dari Menteri Luar Negeri, ia berpindah menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Kursi Menteri Luar Negeri kemudian dipercayakan kepada Arrmanatha Nasir. Sementara poros politik dan keamanan mengalami perubahan dengan masuknya Dudung Abdurachman sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.

Sektor industri juga memperoleh nakhoda baru. M. Sarmuji dipercaya sebagai Menteri Perindustrian. Posisi ini strategis karena agenda industrialisasi akan bersinggungan langsung dengan hilirisasi, investasi, perdagangan, energi dan penciptaan lapangan kerja. Di sinilah koordinasi antara kementerian ekonomi dan sektor riil akan diuji.

Perubahan juga menjangkau lapis wakil menteri. Drajat Hari Wibowo menempati posisi Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Di Kementerian Keuangan, Luky Alfirman dan Nurkholish Ibnu Amman dipercaya sebagai wakil menteri. Muhamad Soleh Mustofa menjadi Wakil Menteri Pertanian, sedangkan Irwan Meilano menempati posisi Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan.

Masuknya sejumlah figur tersebut memperlihatkan bahwa reshuffle tidak hanya bekerja pada lapisan politik kabinet. Penguatan jajaran wakil menteri dapat dibaca sebagai upaya memperbesar kapasitas eksekusi pemerintahan. Tantangannya adalah memastikan penambahan atau pergantian pejabat benar-benar mempercepat pekerjaan, bukan justru menambah panjang rantai koordinasi.

Perubahan bahkan menjangkau lembaga strategis. Listyo Sigit Prabowo meninggalkan pucuk pimpinan Polri untuk mengisi posisi Kepala Staf Kepresidenan. Dedi Prasetyo dipercaya memimpin Badan Reforma Agraria Nasional, Fadhil Imran menjadi Wakil Kepala Badan Otorita Pantai Utara Jawa, sementara Arianto Wibowo menempati posisi Wakil Kepala BPKP.

Pergantian Kapolri sendiri tidak berlangsung seperti pergantian menteri. Presiden lebih dahulu mengusulkan Komjen Suyudi Ario Seto kepada DPR. Komisi III melakukan uji kelayakan dan kepatutan sebelum memberikan persetujuan. Rapat Paripurna DPR kemudian menyetujui pengangkatannya sekaligus pemberhentian dengan hormat Listyo Sigit.

Dari rangkaian itu terlihat satu pola penting. Reshuffle kali ini bukan semata memasukkan dan mengeluarkan orang, tetapi juga menggeser figur dari satu pusat tanggung jawab menuju pusat tanggung jawab lainnya, sekaligus menata sejumlah posisi pada lapisan kedua pemerintahan.

Pergantian pejabat memang merupakan hak prerogatif Presiden. Namun setiap perubahan membawa konsekuensi transisi. Pejabat baru harus memahami organisasi, membangun koordinasi dengan birokrasi, menentukan prioritas dan memastikan program tidak kehilangan momentum. Semakin luas perubahan dilakukan, semakin besar pula tuntutan agar hasilnya dapat diukur publik.

Karena itu, pertanyaan setelah reshuffle bukan semata siapa mendapatkan kursi dan siapa kehilangan jabatan. Pertanyaan yang lebih substantif adalah apakah konfigurasi baru mampu membuat pemerintahan bekerja lebih cepat, terkoordinasi dan efektif.

Ketika sumpah selesai diucapkan dan para pejabat meninggalkan Istana, reshuffle secara seremonial telah berakhir. Namun bagi publik, pengujiannya justru baru dimulai. Sebab kabinet pada akhirnya tidak dinilai dari seberapa sering kursinya berganti penghuni, melainkan dari apa yang benar-benar berubah setelah mereka duduk di sana.

(RED)

Iklan Detail Video

Iklan_home