Home Artikel Dua Emas, Air Mata, dan Keluarga

Dua Emas, Air Mata, dan Keluarga

13
0
SHARE
Dua Emas, Air Mata, dan Keluarga

Keterangan Gambar : Selasa, 20 Oktober, kebahagiaan perenang para Indonesia itu bercampur kerinduan kepada istri dan anaknya. Air mata yang menetes setelah kemenangan memperlihatkan sisi lain prestasi: di balik catatan waktu, ada keluarga yang tetap menjadi sumber kekuatan.

Perwirasatu.co.id, 21 Oktober 2026

Emas kedua Maulana Rifky Yavianda di Asian Para Games Aichi–Nagoya 2026 lahir bersama rekor Asia. Namun, seusai berlomba di Nagoya, Jepang, Selasa, 20 Oktober, kebahagiaan perenang para Indonesia itu bercampur kerinduan kepada istri dan anaknya. Air mata yang menetes setelah kemenangan memperlihatkan sisi lain prestasi: di balik catatan waktu, ada keluarga yang tetap menjadi sumber kekuatan.

Di kolam renang Nagoya City General Gymnasium, Rifky menuntaskan final 100 meter gaya punggung putra klasifikasi S12 dengan waktu 1 menit 3,07 detik. Ia mengungguli wakil tuan rumah, Genki Saito, yang finis dalam 1 menit 3,76 detik. Selisih 0,69 detik memastikan Rifky berdiri di podium tertinggi sekaligus menambah emas bagi Indonesia. 

Namun, angka pada papan skor tidak sepenuhnya menggambarkan apa yang dirasakan sang juara. “Perasaan saya senang (dengan medali emas kedua), sama seperti yang kemarin, cuma saya semakin kangen sama (keluarga) yang di rumah,” kata Rifky seusai pertandingan. Kalimat itu sederhana, tetapi mengungkap kenyataan yang kerap tersembunyi di balik kemenangan: keberhasilan di arena tidak menghapus kerinduan kepada orang-orang terdekat. 

Rifky juga membukukan rekor Asia pada catatan split 50 meter sebesar 30,31 detik, serta rekor nomor 100 meter gaya punggung dengan waktu 1 menit 3,07 detik. Sehari sebelumnya, ia telah merebut emas nomor 100 meter gaya bebas S12 dengan catatan 55,34 detik. Dua kemenangan itu menunjukkan konsistensi performanya dalam dua nomor berbeda, bukan sekadar keberuntungan pada satu perlombaan. 

Di balik keberhasilan tersebut, ada keluarga yang menunggu di tanah air. Rifky mengungkapkan keinginannya bertemu istri dan anaknya. Selama berada di Jepang, komunikasi melalui panggilan video menjadi penghubung di tengah jarak. Teknologi memungkinkan mereka saling menyapa, tetapi tidak sepenuhnya menggantikan kehadiran. Bagi seorang atlet yang harus berkonsentrasi menghadapi persaingan internasional, dukungan emosional keluarga memiliki arti yang tidak tercantum dalam catatan waktu.

Air mata Rifky bukan tanda kelemahan. Justru, momen itu mengingatkan bahwa atlet bukan mesin pencetak medali. Mereka menghadapi tekanan, kelelahan, dan keterpisahan dari kehidupan sehari-hari. Ketangguhan tidak berarti harus menekan semua perasaan, melainkan tetap menjalankan tanggung jawab sambil menghadapi pergulatan batin. Dalam kisah Rifky, kebanggaan dan kerinduan hadir bersamaan, tanpa harus saling meniadakan.

Prestasi atlet para juga seharusnya tidak berhenti menjadi bahan perayaan ketika medali diraih. Di balik hasil yang membanggakan, terdapat proses latihan, disiplin, dukungan keluarga, dan pembinaan yang perlu dijaga secara berkelanjutan. Kesejahteraan atlet, termasuk kebutuhan fisik dan psikologis, layak menjadi bagian dari perhatian dunia olahraga. Itu bukan berarti menganggap Rifky kekurangan dukungan, melainkan melihat prestasi sebagai hasil kerja manusia yang membutuhkan ekosistem yang kuat.

Dua emas dan rekor Asia akan menjadi bagian dari catatan karier Rifky. Namun, kisahnya menyampaikan sesuatu yang tidak dapat diukur dengan stopwatch. Di satu sisi, ia berjuang membawa nama Indonesia; di sisi lain, ia merindukan istri dan anak yang menunggu di rumah. Prestasi mengantarkannya ke podium, tetapi keluarga tetap menjadi bagian penting dari hidupnya.

Rifky telah membuktikan kecepatannya di kolam renang Nagoya. Tantangan berikutnya bukan hanya menjaga performa, melainkan memastikan perjuangan atlet dihargai melampaui seremoni kemenangan. Sebab, ukuran keberhasilan olahraga tidak semata-mata berapa banyak medali yang dibawa pulang, tetapi juga bagaimana prestasi diraih dengan tetap menghormati manusia di baliknya.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home