Home Artikel Eskalator Stasiun Duri Menguji Keselamatan Publik

Eskalator Stasiun Duri Menguji Keselamatan Publik

11
0
SHARE
Eskalator Stasiun Duri Menguji Keselamatan Publik

Keterangan Gambar : Pagi di Stasiun Duri berubah menjadi kepanikan ketika eskalator menuju jalur 5 tiba tiba bergerak mundur pada Sabtu, 3 Oktober 2026

Perwirasatu.co.id , Jakarta - Pagi di Stasiun Duri berubah menjadi kepanikan ketika eskalator menuju jalur 5 tiba tiba bergerak mundur pada Sabtu, 3 Oktober 2026 sekitar pukul 07.45 WIB. Dua belas pengguna terjatuh dan mengalami luka ringan. Lima orang kemudian dirujuk ke RS Duta Indah, dua menjalani observasi, sedangkan lima lainnya melanjutkan perjalanan mendapat penanganan awal.

Peristiwa itu segera ditangani petugas. Eskalator dihentikan, pengguna yang terdampak dievakuasi ke Pos Kesehatan Stasiun Duri, sementara fasilitas tersebut diamankan dan diperiksa tim teknis. Penumpang yang hendak menuju jalur 5 diarahkan menggunakan akses tangga lain. Pada siang hari, eskalator masih belum dapat digunakan dan bagian fasilitas tersebut ditutup untuk kepentingan pemeriksaan.

Yang menarik bukan hanya bagaimana eskalator itu mengalami gangguan, tetapi bagaimana sebuah fasilitas yang dirancang untuk membantu mobilitas justru dapat berubah menjadi sumber risiko ketika mekanismenya tidak berjalan sebagaimana mestinya.

KAI Commuter telah menyampaikan permohonan maaf dan memastikan korban telah mendapat penanganan. Namun perusahaan juga menyatakan kondisi serta penyebab gangguan masih dalam pemeriksaan tim teknis. Oleh karena itu, tidak tepat jika publik buru buru menyimpulkan bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh pemeliharaan yang tidak normal, kerusakan komponen tertentu, atau kegagalan pengamanan sistem.

Justru di titik pentingnya persoalan berada. Pemeriksaan teknis harus mampu menjawab bukan hanya apa yang rusak, tetapi mengapa kerusakan itu bisa terjadi dan bagaimana sistem keselamatan bekerja ketika arah gerakan eskalator berubah secara tidak normal.

Pertanyaan berikutnya adalah soal pencegahan. Kapan eskalator tersebut terakhir menjalani pemeriksaan berkala? Apakah terdapat catatan gangguan sebelumnya? Bagaimana mekanisme pengoperasian otomatis bekerja? Apakah eskalator seperti di Stasiun Duri akan diperiksa? Dan apakah hasil pemeriksaan akan menjadi dasar evaluasi terhadap fasilitas serupa di stasiun lain?

Pertanyaan tersebut bukan tuduhan. Sebaliknya, itu merupakan bagian dari tuntutan wajar pengguna transportasi publik. Penumpang menggunakan fasilitas stasiun karena percaya bahwa perangkat yang disediakan untuk umum telah diperiksa dan dinyatakan layak digunakan.

Stasiun Duri sendiri memiliki posisi penting dalam jaringan perjalanan komuter Jakarta dan sekitarnya. Ketika arus pengguna tinggi, gangguan pada fasilitas perpindahan antarlantai bukan sekadar masalah kenyamanan. Penutupan satu eskalator berarti sebagian arus penumpang harus dialihkan ke jalur lain. Oleh karena itu, kemampuan stasiun menyediakan akses alternatif juga menjadi bagian dari keselamatan manajemen.

Insiden ini sekaligus menampilkan bahwa kualitas transportasi publik tidak hanya ditentukan oleh kereta yang datang tepat waktu atau sistem pembayaran yang semakin mudah. Keselamatan juga ditentukan oleh fasilitas yang sering luput dari perhatian: eskalator, tangga, lift, lantai, pagar pembatas, penerangan, hingga jalur evakuasi.

Eskalator mungkin terlihat sebagai perangkat sederhana. Namun ketika digunakan secara bersamaan oleh banyak orang, kegagalan kecil dapat menimbulkan konsekuensi yang berat. Satu orang yang kehilangan keseimbangan dapat membuat pengguna lain ikut terjatuh. Dalam kondisi seperti itu, keberadaan petugas yang cepat merespons memang penting, tetapi pencegahan tetap lebih penting daripada penanganan setelah korban terjatuh.

Oleh karena itu, ukuran keberhasilan operator tidak berarti berhenti pada seberapa cepat petugas mengevakuasi korban. Ukuran yang lebih penting adalah apakah setelah kejadian tersebut sistem diperbaiki sehingga kemungkinan kejadian serupa dapat ditekan.

Dua anak yang termasuk dalam 12 korban juga mengingatkan bahwa pengguna transportasi umum memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menghadapi keadaan darurat. Anak-anak, lansia, dan pengguna dengan keterbatasan mobilitas membutuhkan sistem yang tidak hanya berfungsi normal, tetapi juga memiliki tingkat perlindungan ketika terjadi keadaan yang tidak terduga.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu berpikir adil. Video yang beredar dapat menampilkan akibat kejadian, tetapi belum tentu menjelaskan penyebabnya. Kesimpulan teknis harus menunggu pemeriksaan. Kritik yang sehat bukan mencari pihak untuk segera disalahkan, melainkan memastikan fakta ditemukan dan langkah pencegahan dilakukan.

Mencerahkan transparansi KAI Commuter menjadi penting. Setelah pemeriksaan selesai, masyarakat dapat mengetahui penyebab gangguan, tindakan perbaikan yang dilakukan, serta langkah-langkah untuk memastikan fasilitas tersebut tetap aman. Informasi tersebut bukan sekedar kebutuhan komunikasi perusahaan, tetapi bagian dari upaya memulihkan kepercayaan pengguna.

Eskalator Stasiun Duri pada akhirnya bukan hanya soal satu mesin yang berhenti beroperasi. Kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa infrastruktur transportasi publik selalu berhubungan langsung dengan keselamatan manusia.

Mesin dapat mengalami gangguan. Tetapi sistem pelayanan harus mampu memastikan gangguan tersebut tidak berkembang menjadi risiko yang lebih besar. Setelah 12 pengguna terluka, pekerjaan terpenting bukan sekadar membuat eskalator kembali bergerak.

Pekerjaan terpenting adalah memastikan ketika fasilitas itu kembali dibuka, penumpang memiliki alasan yang cukup untuk percaya bahwa mereka dapat menggunakannya dengan aman.

Sebab dalam transportasi umum, eskalator bukan sekadar benda mekanis yang membawa orang dari satu lantai ke lantai lain. Ia membawa manusia. Dan setiap manusia yang menggunakannya berhak sampai di tujuan dengan selamat.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home