Home Artikel Garry Wills Mengajak Dunia Membaca Al-Qur,an

Garry Wills Mengajak Dunia Membaca Al-Qur,an

43
0
SHARE
Garry Wills Mengajak Dunia Membaca Al-Qur,an

Keterangan Gambar : Kisah Garry Wills menyimpan paradoks intelektual yang menarik. Ia bukan seorang Muslim, melainkan sejarawan, penulis, dan intelektual publik Amerika yang memiliki latar belakang pendidikan Katolik.

Perwirasatu.co.id, 30 Oktober 2026

Seorang intelektual Amerika berlatar tradisi Katolik pernah mengaku malu karena membicarakan Islam tanpa membaca Al-Qur’an. Pengalaman itu mendorong Garry Wills menulis buku yang mengajak masyarakat non-Muslim memahami Islam dari sumber utamanya. Di tengah prasangka, politisasi agama, dan Islamofobia, pengakuan tersebut menghadirkan pertanyaan mendasar: mengapa begitu mudah menghakimi sesuatu yang belum sungguh-sungguh dipahami? Pertanyaan itu juga relevan bagi masyarakat majemuk Indonesia.

Kisah Garry Wills menyimpan paradoks intelektual yang menarik. Ia bukan seorang Muslim, melainkan sejarawan, penulis, dan intelektual publik Amerika yang memiliki latar belakang pendidikan Katolik. Namanya dikenal melalui karya-karya sejarah dan pemikiran keagamaan, termasuk keberhasilannya meraih Pulitzer Prize pada 1993.

Pada 2017, Wills menerbitkan buku What the Qur’an Meant: And Why It Matters. Buku tersebut bukan sekadar upaya memperkenalkan Islam kepada masyarakat Barat, tetapi juga kritik terhadap kebiasaan membicarakan agama lain tanpa memahami sumber ajarannya.

Berawal dari Rasa Malu Pascatragedi 9/11

Dalam wawancara di Carnegie Council yang dipublikasikan 6 Oktober 2017, Wills menceritakan bahwa peristiwa serangan 11 September 2001 mendorongnya mempertanyakan hubungan antara Al-Qur’an dan tindakan terorisme. Ketika berdiskusi dengan sejumlah kolega akademisi, mereka menyadari bahwa tidak seorang pun pernah membaca Al-Qur’an secara memadai.

Wills mengaku malu. Sebagai orang yang dikenal mempelajari agama, ia justru belum membaca secara sungguh-sungguh kitab suci yang menjadi sumber keyakinan miliaran umat manusia.

Pengalaman itu mengubah pendekatannya. Ia mulai membaca, meneliti, dan mempertanyakan berbagai tuduhan terhadap Islam. Menurutnya, ketidaktahuan masyarakat menjadi lahan subur bagi propaganda dan agitasi politik. Orang dapat dengan mudah mempercayai tuduhan tentang Islam karena tidak memiliki pengetahuan langsung untuk mengujinya.

Membongkar Prasangka terhadap Islam

Salah satu hal yang disoroti Wills adalah anggapan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab yang mengajarkan kekerasan. Ia menolak generalisasi yang menyamakan tindakan kelompok ekstremis dengan keyakinan seluruh umat Islam.

Ia juga mengkritik penyempitan makna jihad menjadi perang suci. Dalam pembacaannya, jihad mengandung pengertian kesungguhan dan perjuangan, termasuk melawan kelemahan diri. Namun, istilah tersebut juga memiliki penggunaan dalam konteks perjuangan menghadapi permusuhan. Karena itu, pemahamannya harus mempertimbangkan konteks ayat dan penafsiran para ulama.

Mengenai ayat yang populer disebut ayat pedang, Wills mengingatkan bahwa QS. At-Taubah ayat 5 tidak dapat dilepaskan dari rangkaian ayat sebelumnya dan sesudahnya. Konteks perjanjian, pelanggaran, serta pengecualian bagi pihak yang tetap mematuhi perjanjian menjadi bagian penting dalam memahami pesan ayat tersebut.

Ia juga membantah anggapan bahwa Al-Qur’an secara eksplisit menjanjikan 72 bidadari kepada orang yang membunuh atas nama agama. Angka tersebut memang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an, meskipun pembahasannya terdapat dalam tradisi hadis yang memerlukan kajian tersendiri.

Menemukan Jembatan Antaragama

Hal lain yang menarik perhatian Wills adalah penghormatan Al-Qur’an terhadap para nabi dalam tradisi Yahudi dan Kristen, seperti Ibrahim, Musa, dan Isa. Ia juga menyoroti QS. Al-Hajj ayat 40 yang menyebut biara, gereja, sinagoge, dan masjid sebagai tempat ibadah yang harus dilindungi.

Bagi Wills, pesan tersebut memperlihatkan adanya landasan moral untuk membangun penghormatan antarumat beragama. Perbedaan keyakinan tidak semestinya menjadi pembenaran bagi permusuhan dan perusakan tempat ibadah.

Ia juga mencermati ketentuan Al-Qur’an mengenai hak perempuan atas kepemilikan harta, warisan, dan mahar. Dalam konteks masyarakat abad ketujuh, ketentuan tersebut merupakan perkembangan penting. Meski demikian, persoalan kesetaraan perempuan dalam hukum Islam tetap memerlukan pembacaan yang lebih luas, termasuk memperhatikan perbedaan antara teks, tafsir, dan praktik sosial.

Apresiasi Tidak Berarti Tanpa Kritik

Menariknya, upaya Wills tersebut juga mendapat catatan kritis. Publishers Weekly dalam ulasannya pada 14 Agustus 2017 menyebut bahwa Wills tidak menguasai bahasa Arab dan memiliki keterbatasan latar belakang studi Islam. Ia banyak mengandalkan sumber sekunder, termasuk The Study Qur’an.

Kritik ini penting. Buku Wills lebih tepat dipahami sebagai refleksi intelektual dan jembatan dialog lintas agama, bukan karya tafsir yang memiliki otoritas keilmuan Islam. Menghargai keberaniannya belajar tidak berarti menerima seluruh kesimpulannya tanpa pemeriksaan kritis.

Justru di situlah kedewasaan intelektual diperlukan: mengapresiasi keterbukaan sekaligus menguji argumentasi.

Membaca untuk Memahami, Bukan Membenci

Kisah Garry Wills relevan bagi Indonesia yang memiliki keragaman agama, tradisi, dan keyakinan. Toleransi tidak cukup dibangun melalui slogan kerukunan atau seremoni lintas agama. Ia membutuhkan pengetahuan, kesediaan berdialog, dan keberanian mengoreksi prasangka.

Ironisnya, masyarakat yang memiliki akses luas terhadap kitab suci masih sering menilai agama lain melalui potongan ceramah, unggahan media sosial, dan informasi yang belum teruji kebenarannya.

Ajakan Wills sesungguhnya juga menjadi cermin bagi umat Islam sendiri. Membaca Al-Qur’an tidak cukup hanya untuk membenarkan identitas keagamaan, tetapi harus dilanjutkan dengan memahami pesan moral, keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab kemanusiaan yang dikandungnya.

Kisah seorang intelektual berlatar Katolik yang bersedia membaca Al-Qur’an menghadirkan pelajaran universal: berbeda keyakinan bukan alasan untuk menutup pintu pengetahuan. Membaca tidak harus membuat seseorang berpindah agama, tetapi dapat membuatnya lebih bijaksana dalam memahami keyakinan orang lain.

Sebab, seseorang tidak harus menyetujui semua hal untuk menghormati perbedaan. Namun, ia perlu memiliki pengetahuan sebelum menjatuhkan penilaian.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home