Home Daerah Gempa Susulan Menguji Ketahanan Sumba Barat Daya

Gempa Susulan Menguji Ketahanan Sumba Barat Daya

15
0
SHARE
Gempa Susulan Menguji Ketahanan Sumba Barat Daya

Keterangan Gambar : pukul 04.38.04 WIB, gempa berkekuatan 4,6 mengguncang wilayah sekitar 14 kilometer selatan Kodi. Gempa berkedalaman 19 kilometer itu dirasakan II MMI di Sumba Barat Daya dan tidak berpotensi tsunami

perwirasatu.co.id , NTT - Pagi belum sepenuhnya terang ketika bumi kembali bergerak di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Selasa, 6 Oktober 2026, pukul 04.38.04 WIB, gempa berkekuatan 4,6 mengguncang wilayah sekitar 14 kilometer selatan Kodi. Gempa berkedalaman 19 kilometer itu dirasakan II MMI di Sumba Barat Daya dan tidak berpotensi tsunami. Bagi wilayah yang baru dua hari sebelumnya diguncang gempa lebih besar, getaran tersebut bukan sekadar angka dalam catatan seismik.

Pada tanggal 4 Oktober, gempa yang pada parameter awal tercatat M6,1 kemudian diperbarui BMKG menjadi M5,9. Episentrumnya berada di laut sekitar 59 kilometer barat daya Kodi dengan kedalaman 30 kilometer. BMKG mengategorikannya sebagai gempa yang dikikis akibat aktivitas sesar aktif yang diduga berkaitan dengan Sesar Waikabubak, dengan mekanisme pergerakan turun atau sesar normal. Guncangan terkuat mencapai VI MMI di Kodi, Kodi Balaghar, dan Kodi Bangedo.

Dampaknya masih dirasakan ketika gempa susulan terus terjadi. Hingga 5 Oktober pukul 08.05 WIB, BMKG mencatat sedikitnya 62 gempa susulan dengan magnitudo 1,5 hingga 4,3. Pada tanggal 5 Oktober, gempa M3,9 dan M4,3 kembali tercatat di sekitar Kodi. Kemudian M4,6 kembali mengejutkan pada Selasa pagi.

Angka kerusakan pun bergerak seiring verifikasi lapangan. Data awal mencatat 20 rumah terdampak. Pemerintah daerah kemudian melaporkan 56 rumah dan 13 fasilitas umum rusak. Pemutakhiran BNPB per 5 Oktober pukul 00.15 WIB mencatat 95 rumah rusak di Sumba Barat Daya, terdiri atas satu rumah rusak berat, 12 rusak sedang, dan 82 rusak ringan. Sejumlah tempat ibadah, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan rumah dinas juga terdampak.

Perbedaan angka itu tidak otomatis menunjukkan kekacauan data. Dalam situasi bencana, pendataan memang berkembang setelah petugas melakukan verifikasi. Namun betapa pentingnya transparansi. Setiap perubahan harus disertai waktu pendataan dan penjelasan agar masyarakat memahami mana data sementara dan mana hasil pemutakhiran.

Gempa juga menguji sesuatu yang lebih penting daripada kemampuan menghitung kerusakan: ketahanan bangunan dan kesiapan pemerintah. Rumah yang masih berdiri belum tentu aman apabila mengalami keretakan atau perubahan struktur. Oleh karena itu, bangunan terdampak perlu diperiksa sebelum digunakan kembali, terutama setelah gempa utama diikuti rangkaian susulan.

BNPB menyebut pos komando tanggap darurat telah diaktifkan Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya untuk mempercepat penanganan. Ukuran keberhasilannya bukan sekadar keberadaan posko, melainkan seberapa cepat warga memperoleh tempat aman, air bersih, makanan, layanan kesehatan, informasi, serta kepastian mengenai kondisi rumah mereka.

Dilihatnya bencana harus dibaca sebagai ujian tata kelola. Gempa memang tidak dapat dicegah, namun kerentanannya dapat dikurangi. Bangunan harus memenuhi standar keselamatan, fasilitas publik perlu diperkuat, jalur evakuasi harus jelas, dan masyarakat perlu dilatih menghadapi gempa tanpa menunggu bencana berikutnya.

Informasi juga menjadi bagian dari keselamatan. Masyarakat membutuhkan keterangan yang cepat sekaligus akurat dari BMKG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah. Tidak berpotensi tsunami bukan berarti seluruh risiko hilang. Bahaya akibat bangunan retak, benda jatuh, gangguan infrastruktur, atau ketakutan tetap harus diwaspadai.

Sumba Barat Daya kini memiliki kesempatan untuk mengubah rangkaian gempa menjadi pembelajaran. Pemulihan tidak seharusnya hanya mengembalikan rumah dan fasilitas umum seperti sebelum bencana. Yang lebih penting adalah memperbaiki kelemahan yang membuat kerusakan terjadi.

Gempa M4,6 akhirnya hanya menjadi satu getaran dalam rangkaian aktivitas bumi. Namun pertanyaan yang ditinggalkannya jauh lebih besar: apakah Sumba Barat Daya akan kembali ke keadaan semula, atau menggunakan pengalaman ini untuk membangun masyarakat, bangunan, informasi, dan pemerintahan yang lebih tangguh?

Jawabannya tidak berada di bawah tanah.

Jawabannya berada pada keputusan manusia di atasnya.
sumber
(Dwi Taufan Hidayat
Iklan Detail Video

Iklan_home