Gen Z Berjualan Gorengan di Indramayu Menggugat Stigma Pekerjaan

Gen Z Berjualan Gorengan di Indramayu Menggugat Stigma Pekerjaan Keterangan Gambar : Andri seorang pemuda usia 23 tahun nongkrong setiap hari menjajakan aneka gorengan seperti cakwe cimol dan tahu walik di depan sebuah pusat perbelanjaan di Kabupaten Indramayu Jawa Barat.


Perwirasatu.ci.id - Rabu 25/2/2026.

Di tengah narasi umum bahwa pekerjaan informal kurang menjanjikan bagi generasi muda fenomena penjual gorengan di Indramayu membuka ulang diskusi ekonomi kerja informal dan pilihan hidup generasi Z. Kisah nyata seorang penjual gorengan bernama Andri yang bertahan setiap hari dan menghasilkan ratusan ribu rupiah mengundang pertanyaan tentang nilai kerja otonom dan peluang ekonomi lokal.

Andri seorang pemuda usia 23 tahun nongkrong setiap hari menjajakan aneka gorengan seperti cakwe cimol dan tahu walik di depan sebuah pusat perbelanjaan di Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Ketika ditanya tentang penghasilannya pria ini menjelaskan bahwa pendapatannya tidak pasti tapi pada masa bulan Ramadan ia biasa mengantongi sekitar Rp 500 ribu per hari dan di luar Ramadan bila ramai bisa mencapai sekitar Rp 700 ribu sehari menurut liputan Detik.com yang dipublikasikan 24 Februari 2026 dalam artikel Kisah Andri Gen Z Indramayu Raup Rp 700 Ribu Sehari dari Jual Gorengan. 

Liputan yang sama juga menunjukkan bahwa Andri menjajakan gorengannya mulai sore hari hingga malam sambil menunggu pembeli yang datang silih berganti terutama menjelang buka puasa. Keputusannya untuk berjualan bukan sekadar mencari uang tetapi juga sebagai bentuk pengalaman dalam bisnis dan keterampilan sosial sambil membantu orang tua. 

Kisah ini berangkat dari realitas bahwa pekerjaan formal dengan gaji tetap tidak selalu tersedia bagi semua generasi muda. Banyak anak muda justru menemukan peluang otonomi kerja melalui usaha mikro skala kecil seperti yang dilakukan Andri. Narasi ini menggeser pandangan umum tentang kerja informal yang sering dipandang sebagai alternatif terakhir atau pekerjaan tidak bergengsi.

Secara ekonomi kerja informal seperti dagang gorengan memberikan pembelajaran nyata dalam menghadapi konsumsi biaya hidup harian seperti bahan baku modal dan risiko operasional misalnya cuaca buruk yang dapat mengurangi penghasilan harian. Dalam liputan Detik.com sendiri Andri mengaku bahwa hujan atau kondisi sepi pengunjung berpengaruh langsung pada jumlah penjualan harian. 

Pendapatan harian yang bervariasi ini menunjukkan daya lenting ekonomi informal namun juga menyoroti ketidakpastian pendapatan yang harus dihadapi oleh pelaku usaha kecil. Ketidakpastian ini merupakan tantangan tersendiri yang tidak dimiliki oleh pekerjaan formal dengan gaji bulanan.

Secara statistik tidak ada data resmi nasional yang menyatakan berapa persentase generasi Z yang memilih pekerjaan informal seperti berdagang kaki lima namun secara global tren ini muncul karena pasar kerja formal semakin kompetitif. Banyak ekonom menganggap bahwa kemampuan adaptasi dan keterampilan mikro seperti yang ditunjukkan oleh Andri bisa menjadi indikator penting produktivitas sektor mikro dalam ekonomi domestik.

Perjalanan Andri juga menyentuh tema penting lain yakni tentang stigma sosial. Penjual gorengan seringkali dipandang sebagai pekerjaan marginal namun keberhasilan menghasilkan ratusan ribu rupiah per hari menunjukkan bahwa literasi usaha dan pemilihan lokasi strategis memegang peran besar dalam menentukan hasil.

Selain itu perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap makanan kaki lima terutama di masa seperti Ramadan memperlihatkan bagaimana permintaan pasar dapat menciptakan peluang yang sebelumnya tidak terekspos. Fenomena ini juga tercatat dalam liputan Detik.com bahwa pembeli datang untuk membeli takjil dan gorengan menjelang buka puasa. 

Pekerja informal seperti penjual gorengan sering mengembangkan keterampilan usaha seperti negosiasi harga dengan pemasok adaptasi terhadap tren konsumen dan pengaturan modal sendiri. Relasi dengan pelanggan juga menjadi aset sosial yang tidak kecil bagi pelaku usaha kecil.

Pengalaman ini mencerminkan inclinasi generasi Z terhadap fleksibilitas dan kreativitas dalam mencari rezeki di tengah persaingan kerja yang semakin ketat. Bagi sebagian generasi muda cerita ini bisa menjadi inspirasi bahwa tidak semua jalan menuju stabilitas finansial harus melalui jalur pekerjaan formal.

Namun tidak semua cerita usaha informal selalu mulus. Risiko kerugian cuaca buruk atau biaya modal yang terus meningkat dapat mereduksi margin keuntungan. Hal ini mengingatkan pelaku usaha kecil bahwa diversifikasi produk dan penguasaan pemasaran diperlukan untuk memastikan keberlanjutan usaha.

Ketika dilihat dari perspektif ekonomi lokal fenomena dagang gorengan ini masuk ke dalam ranah strategis upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pemerintah daerah dalam beberapa kesempatan juga mendorong program stabilisasi pangan dan dukungan UMKM agar usaha kecil tetap tumbuh dan memberikan kontribusi kepada perekonomian lokal.

Kisah personal seperti yang dialami Andri bukan sekadar soal omzet tapi juga soal pilihan hidup tentang tanggung jawab risiko dan peluang berkembang di sektor informal. Ini sekaligus tantangan bagi pembuat kebijakan untuk memperhatikan dukungan pendidikan kewirausahaan hingga akses permodalan yang memadai bagi pelaku usaha kecil.

Cerita ini menggambarkan realitas sosial ekonomi di level akar rumput bahwa suatu usaha sederhana sekalipun mempunyai potensi besar apabila dikembangkan dengan strategi pasar yang tepat. Ini menjadi refleksi bahwa ekonomi jalanan merupakan ruang kreativitas dan kerja nyata generasi muda masa kini.

( Red )

Sumber: Dwi Taufan Hidayat.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)