Home Artikel Ilmu Tinggi, Hati Yang Tersesat

Ilmu Tinggi, Hati Yang Tersesat

11
0
SHARE
Ilmu Tinggi, Hati Yang Tersesat

Keterangan Gambar : Ilmu adalah cahaya yang menuntun manusia menuju Allah. Namun, ilmu yang tinggi tidak selalu menjamin keselamatan seseorang. Tanpa keikhlasan, ketakwaan, dan pengamalan, ilmu justru dapat menjadi ujian.

Perwirasatu.co.id, 15 Oktober 2026

Ilmu adalah cahaya yang menuntun manusia menuju Allah. Namun, ilmu yang tinggi tidak selalu menjamin keselamatan seseorang. Tanpa keikhlasan, ketakwaan, dan pengamalan, ilmu justru dapat menjadi ujian. Kisah Bal'am bin Ba'ura mengingatkan bahwa seseorang yang pernah memperoleh petunjuk dapat tergelincir ketika hatinya dikuasai hawa nafsu, kecintaan terhadap harta, dan ambisi kedudukan dunia yang bersifat sementara.

Al-Qur'an mengabadikan kisah seseorang yang memperoleh pengetahuan tentang ayat-ayat Allah, tetapi kemudian meninggalkan petunjuk-Nya. Dalam sejumlah riwayat tafsir, ia dikenal sebagai Bal'am bin Ba'ura, meskipun namanya tidak disebutkan secara langsung dalam Al-Qur'an.

Allah berfirman dalam Surah Al-A'raf ayat 175:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ الَّذِيْٓ اٰتَيْنٰهُ اٰيٰتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَاَتْبَعَهُ الشَّيْطٰنُ فَكَانَ مِنَ الْغٰوِيْنَ

Artinya: "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat."

Betapa menggetarkan peringatan ini. Seseorang yang mengetahui kebenaran ternyata dapat meninggalkannya. Ilmu masih tersimpan dalam ingatan, tetapi tidak lagi membimbing hati dan perilakunya.

Allah menjelaskan penyebab kejatuhannya dalam Surah Al-A'raf ayat 176:

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰكِنَّهٗٓ اَخْلَدَ اِلَى الْاَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوٰىهُۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْكَلْبِۚ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْۗ ذٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

Artinya: "Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing yang jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir."

Inilah bahaya ketika kecintaan terhadap dunia mengalahkan ketaatan. Harta dan kedudukan sebenarnya merupakan amanah. Namun, ketika dijadikan tujuan tertinggi, manusia dapat mengorbankan kejujuran, keadilan, dan prinsip agama.

Allah menegaskan dalam Surah Al-A'raf ayat 177:

سَاۤءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَاَنْفُسَهُمْ كَانُوْا يَظْلِمُوْنَ

Artinya: "Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim."

Rasulullah ﷺ mengajarkan pentingnya memohon ilmu yang bermanfaat melalui doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah merasa puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan." (HR. Muslim).

Kisah ini mengajarkan bahwa ilmu harus melahirkan ketakwaan, kerendahan hati, dan amal nyata. Jangan sampai kita pandai menasihati orang lain, tetapi mengabaikan kewajiban memperbaiki diri sendiri.

Allah mengajarkan doa dalam Surah Ali Imran ayat 8:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةًۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

Artinya: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi."

Marilah menjaga ilmu dengan amal, amal dengan keikhlasan, dan keikhlasan dengan kerendahan hati. Jangan merasa aman dari godaan dunia, sebab hati manusia dapat berubah.

Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap istiqamah, menjadikan ilmu sebagai cahaya kehidupan, serta membimbing kita dalam kebenaran hingga akhir hayat.

Sebab kemuliaan bukan ditentukan oleh banyaknya ilmu yang diketahui, melainkan oleh kesungguhan mengamalkannya dalam ketaatan kepada Allah.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home