
Keterangan Gambar : INACRAFT 2026 tidak sekadar membawa kerajinan ke ruang pamer.
Perwirasatu.co.id , Jakarta - INACRAFT 2026 tidak sekadar membawa kerajinan ke ruang pamer. Pameran ini menawarkan pertanyaan lebih besar: bisakah tradisi bertahan sekaligus tumbuh ketika pasar menuntut teknologi, mutu, skala, dan regenerasi?
Mengusung tema “Techno Craft”, INACRAFT mempertemukan keterampilan artisan dengan desain, inovasi, dan teknologi digital. Teknologi ditempatkan bukan sebagai pengganti tangan perajin, melainkan sarana memperkuat kualitas, produksi, distribusi, dan pemasaran. Namun teknologi hanya berarti jika pelaku memiliki pengetahuan, modal, perangkat, dan akses pasar.
INACRAFT October 2026 diikuti 829 stan dan menargetkan 80.000 pengunjung berbayar, 120 potential buyers internasional, transaksi ritel Rp100 miliar, serta kontrak dagang US$2,7 juta. Angka ini memperlihatkan pergeseran INACRAFT dari etalase budaya menuju platform bisnis.
Namun transaksi lima hari belum otomatis berarti kesejahteraan perajin meningkat. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah pintu pameran ditutup. Berapa kontrak terealisasi, dan berapa pelaku memperoleh repeat order, distributor baru, akses ekspor, atau peningkatan kapasitas? Keberhasilan INACRAFT seharusnya diukur dari hubungan bisnis yang bertahan setelah lampu pameran padam.
Konteks industrinya cukup menjanjikan. Kementerian Perindustrian mencatat ekspor produk kerajinan Indonesia pada 2025 mencapai US$806,63 juta, tumbuh 15,46 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut ikut memperkuat posisi perajin.
Regenerasi menjadi persoalan lain. Kehadiran youthpreneurs penting, tetapi anak muda tidak cukup hanya memamerkan desain baru. Mereka perlu memahami branding, riset pasar, kekayaan intelektual, kualitas produksi, logistik, pemasaran digital, dan negosiasi dengan buyer. Tenun, ukiran, anyaman, batik, keramik, dan keterampilan lokal juga harus memiliki nilai ekonomi agar generasi berikutnya mau mempelajarinya.
Modernisasi tidak harus menghapus identitas. Teknologi dapat ditempatkan pada proses, desain, pemasaran, produksi, dan akses pasar, sementara karakter budaya tetap menjadi pembeda. Perpaduan keduanya dapat membuat kriya tetap relevan tanpa kehilangan akar.
Pasar global membawa standar lebih keras. Buyer tidak cukup melihat produk yang indah. Mereka membutuhkan mutu konsisten, kapasitas produksi, ketepatan pengiriman, kemasan, dan kepastian pasokan. Perlindungan merek, desain, dan Indikasi Geografis penting ketika karya lokal masuk pasar.
Ujian INACRAFT 2026 berlangsung lebih lama daripada lima hari pameran. Ukurannya ada pada kontrak yang menjadi pesanan, buyer yang kembali, perajin yang memperoleh pendapatan lebih baik, teknologi yang meningkatkan produktivitas, serta generasi muda yang melihat kriya sebagai masa depan. Jika tradisi, teknologi, modal, pengetahuan, dan pasar terhubung secara berkelanjutan, INACRAFT bukan hanya panggung perdagangan, melainkan bagian dari masa depan industri kriya Indonesia.
(Dwi Taufan Hidayat)


















LEAVE A REPLY