
Keterangan Gambar : Sepertinya langkah cepat yang diambil Kapolri baru, Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, sehari setelah resmi dilantik Presiden Prabowo, lewat Surat Telegram Nomor ST/2205/X/KEP./2026 tertanggal 2 Oktober 2026, kini mendapat sorotan tajam dari mata publik
Perwirasatu.co.id, Jakarta - Sepertinya langkah cepat yang diambil Kapolri baru, Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, sehari setelah resmi dilantik Presiden Prabowo, lewat Surat Telegram Nomor ST/2205/X/KEP./2026 tertanggal 2 Oktober 2026, kini mendapat sorotan tajam dari mata publik dan malah dianggap positif sebagai realisasi reformasi di tubuh Polri.
Pasalnya, sehari usai pelantikan, Kapolri baru itu langsung melakukan mutasi besar-besaran terhadap 88 perwira tinggi (Pati) dan perwira menengah (Pamen) Polri, termasuk merotasi para pejabat utama Mabes Polri dan 19 Kapolda.
Langkah tersebut dinilai oleh sejumlah pengamat, sebagai bentuk perombakan atau pembersihan gerbong lama di lingkar kekuasaan mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Kapolri Jenderal Suyudi dinilai, sedang menata ulang bidak catur kepemimpinan agar diisi oleh figur-figur baru yang sehaluan untuk menguasai posisi-posisi strategis.
Pergantian Kapolda Metro Jaya di awal masa Kapolri Jenderal Suyudi memunculkan pertanyaan besar soal perubahan konfigurasi komando di tubuh Polri.
Apakah ini sinyal awal upaya menyingkirkan orang-orang yang dekat dengan Jenderal Listyo Sigit Prabowo? Atau justru bagian dari redistribusi elite kepolisian yang lebih halus?
Publik dan internal Polri, kini mencermati langkah-langkah awal Kapolri baru. Kapolda Metro Jaya, adalah jabatan sangat strategis. Jantung pengamanan ibu kota, etalase Polri di mata nasional dan internasional.
Jika orang lama diganti cepat, wajar muncul spekulasi: "Apakah ini bersih-bersih, atau konsolidasi kekuasaan baru?
Bahkan berdasarkan analisis pakar komunikasi politik Prof. Dr. Selamat Ginting, yang juga merupakan pengamat politik militer, menyebut ada dua skenario menurutnya yang mengemuka, yaitu:
1. Penyisihan Orang Lama: Kapolri baru ingin membangun loyalitas baru dengan menempatkan orang-orang kepercayaannya di posisi kunci. Orang-orang yang dianggap dekat dengan era Jenderal Sigit mulai digeser ke posisi non komando atau staf.
2. Redistribusi Elite: Pengaruh era sebelumnya tetap ada, tetapi posisi komando operasional; Kapolda, Kabareskrim, Kakorlantas, mulai diisi oleh konfigurasi baru yang lebih sejalan dengan visi Kapolri Suyudi. Ini bukan pemecatan, tapi pergeseran bidak diatas papan catur.
Sebagaimana terlihat dalam ilustrasi papan catur kekuasaan, satu per satu bidak mulai bergeser. Bukan soal benar-salah, tapi soal siapa yang pegang kendali operasional.
Langkah ini akan menentukan arah Reformasi Polri yang dijanjikan Kapolri baru. Apakah hanya ganti orang, atau ganti sistem?
Terkait hal ini, Forum Wartawan Investigasi Nusantara (For-WIN) akan terus mengawal mutasi-mutasi strategis selanjutnya. Karena, pergantian Kapolda Metro Jaya, itu bisa jadi hanyalah pembuka.
(Red)

















LEAVE A REPLY