
Keterangan Gambar : Tehran masih mengirim pesan melalui Qatar dan Pakistan, menawarkan jalan keluar melalui perundingan, dan menunggu respons Washington
Perwirasatu.co.id , Iran - Iran mengatakan tidak lagi percaya kepada Amerika Serikat. Namun pada saat yang sama, Tehran masih mengirim pesan melalui Qatar dan Pakistan, menawarkan jalan keluar melalui perundingan, dan menunggu respons Washington. Kontradiksi itu menjadi inti persoalan: diplomasi belum ditinggalkan, tetapi kepercayaan yang menjadi fondasinya telah terkikis oleh perang, sanksi, dan gagalnya kesepakatan sebelumnya.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Tehran tidak lagi mempercayai perundingan dengan Washington. Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada 26 September 2026, ia mempertanyakan dasar bagi tercapainya kesepahaman baru dengan Amerika setelah pengalaman sebelumnya diikuti serangan dan sanksi. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa hambatan diplomasi kini bukan hanya perbedaan kepentingan, tetapi juga persoalan kredibilitas komitmen.
Namun, mengatakan tidak percaya bukan berarti Iran menutup pintu diplomasi. Qatar dan Pakistan masih menjadi penghubung antara Tehran dan Washington. Iran juga tetap menunggu tanggapan Amerika terhadap proposal yang dibawa melalui jalur mediator. Di sinilah paradoks diplomasi muncul: kedua pihak saling mencurigai, tetapi tetap membutuhkan saluran komunikasi untuk mencegah konflik bergerak lebih jauh.
Proposal terbaru Iran menunjukkan bahwa jalur negosiasi belum sepenuhnya mati. Tehran menawarkan peta jalan tujuh hari yang mengaitkan penghentian perang dengan pembukaan kembali Selat Hormuz. Dalam rancangan tersebut, Iran menginginkan pencabutan blokade laut, keringanan sanksi minyak dan pelepasan aset Iran yang dibekukan. Sebagai imbalannya, Selat Hormuz akan dibuka kembali dan pembicaraan mengenai program nuklir dilanjutkan.
Tetapi Washington tidak menerima tawaran tersebut. Presiden Donald Trump menyatakan proposal Iran ditolak. Penolakan itu memperlihatkan betapa jauhnya posisi kedua negara: Tehran melihat pembukaan Hormuz sebagai bagian dari paket kesepakatan, sedangkan Washington menilai proposal tersebut belum memenuhi kepentingannya.
Perbedaan itu membuat Selat Hormuz bukan lagi sekadar persoalan pelayaran. Jalur strategis tersebut telah berubah menjadi instrumen tawar-menawar. Iran menghubungkan pembukaannya dengan terpenuhinya sejumlah syarat, sementara Amerika menjadikannya bagian dari tekanan terhadap Tehran. Ketika jalur energi global masuk ke meja perundingan, konsekuensi kebuntuan tidak lagi terbatas pada hubungan bilateral.
Masalah kepercayaan memiliki akar yang lebih panjang. Pezeshkian mengatakan pengalaman perundingan sebelumnya justru diikuti serangan. Associated Press pada 22 September melaporkan pernyataan Pezeshkian bahwa Iran telah mengalami serangan ketika proses negosiasi berlangsung. Bagi Tehran, pengalaman semacam itu menjadi alasan untuk mempertanyakan apakah kesepakatan diplomatik benar-benar dapat menjamin penghentian tekanan setelah konsesi diberikan.
Persoalan tersebut juga berkaitan dengan memorandum of understanding yang pernah dicapai kedua pihak. Al Jazeera melaporkan pada 1 September bahwa Iran meminta Amerika memenuhi komitmen dalam MoU tersebut. Kesepakatan itu kemudian tidak bertahan, sehingga pengalaman tersebut menjadi beban baru ketika kedua negara mencoba membuka kembali komunikasi.
Dari sudut pandang diplomasi, persoalannya menjadi lebih sulit ketika masing-masing pihak mempunyai tafsir berbeda mengenai kewajiban. Iran menuntut kepastian bahwa konsesi akan dibalas dengan tindakan Amerika. Washington, sebaliknya, menginginkan perubahan kebijakan Iran sebelum tekanan dikurangi. Tanpa mekanisme verifikasi dan jaminan pelaksanaan yang dipercaya kedua pihak, kesepakatan baru akan tetap rentan.
Meski demikian, pernyataan Pezeshkian tidak menunjukkan bahwa Tehran menganggap perang sebagai satu-satunya jalan. Reuters melaporkan pada 27 September bahwa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kembali menegaskan diplomasi sebagai jalan penyelesaian konflik setelah Trump menolak proposal Tehran. Iran bahkan menyatakan masih menunggu posisi resmi Amerika melalui mediator.
Sikap tersebut memperlihatkan bahwa krisis diplomasi Iran-Amerika bukan persoalan sederhana antara berunding atau berperang. Kedua pilihan itu berjalan bersamaan. Iran menolak memberikan kepercayaan penuh kepada Washington, tetapi tetap membutuhkan perundingan. Amerika mempertahankan tekanan, tetapi komunikasi melalui mediator tetap berlangsung.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukan lagi apakah Iran dan Amerika masih berbicara. Mereka jelas masih berbicara, meskipun melalui perantara. Pertanyaan yang lebih menentukan adalah apakah komunikasi itu mampu menghasilkan kesepakatan yang dapat diverifikasi dan bertahan setelah kepentingan jangka pendek berubah.
Jika tidak, diplomasi akan terus bergerak dalam lingkaran yang sama: perundingan, kesepakatan, kecurigaan, tekanan, kemudian konflik kembali. Pernyataan Pezeshkian tentang hilangnya kepercayaan menjadi tanda bahwa masalah terbesar bukan ketiadaan meja perundingan, melainkan semakin sulitnya membuat kedua pihak percaya bahwa kesepakatan di atas meja akan tetap berlaku setelah perang berhenti.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)

















LEAVE A REPLY