Home Artikel Whey di Tengah Pusaran Perang Dagang

Whey di Tengah Pusaran Perang Dagang

13
0
SHARE
Whey di Tengah Pusaran Perang Dagang

Keterangan Gambar : Whey, produk sampingan pembuatan keju, menjadi salah satu titik panas perang dagang Amerika Serikat dan Kanada

Perwirasatu.co.id , Jakarta - Di balik bubuk protein yang dikonsumsi penggemar kebugaran, tersimpan rantai perdagangan lintas batas yang kini terguncang. Whey, produk sampingan pembuatan keju, menjadi salah satu titik panas perang dagang Amerika Serikat dan Kanada. Setelah tarif 50 persen diberlakukan, Washington menjadwalkan larangan impor sejumlah produk whey Kanada mulai 29 September, memperbesar tekanan bagi industri dan konsumen di kedua negara yang saling bergantung.

Whey selama ini nyaris tak terlihat dalam percakapan geopolitik. Ia lahir sebagai produk sampingan keju, lalu diproses menjadi bahan bubuk protein, minuman, makanan ringan, hingga es krim. Popularitas pola makan tinggi protein membuatnya bergerak dari ceruk kebugaran menuju industri pangan massal.

CNN, 27 September 2026, melaporkan bahwa Kanada mengenakan tarif 50 persen terhadap whey Amerika, sementara Amerika Serikat bersiap melarang sejumlah produk whey Kanada. Bagi industri, masalahnya bukan sekadar tarif, melainkan ketergantungan pada bahan dengan spesifikasi tertentu yang tidak mudah diganti.

Kronologinya memperlihatkan eskalasi. Pemerintahan Donald Trump pada Juli menetapkan tambahan tarif terhadap produk Kanada, termasuk produk susu. Kanada kemudian menerapkan tarif balasan. Government of Canada, 26 Agustus 2026, mencantumkan whey protein concentrate dan sejumlah kategori whey Amerika dalam daftar barang yang dikenai tarif 50 persen efektif 8 September.

Eskalasi berikutnya lebih keras. Reuters, 8 September 2026, melaporkan keputusan Washington melarang berbagai produk Kanada, termasuk sejumlah produk susu. Dokumen White House pada tanggal yang sama mencantumkan whey protein concentrate dalam daftar produk yang akan dilarang masuk ke Amerika Serikat mulai 29 September 2026.

Bagi produsen Kanada, alternatif belum siap. CNN melaporkan Jim McMahon dari Fit Foods membeli seluruh whey dari Amerika karena whey olahan dengan spesifikasi yang dibutuhkan perusahaannya sangat terbatas di Kanada. Mengganti whey dengan protein lain memerlukan perubahan formula, rasa, tekstur dan rantai pasok.

Masalah terlihat dari harga. CNN, 27 September 2026, mengutip data USDA bahwa harga grosir whey protein concentrate mencapai sekitar 13 dolar per pon pada Juni, sekitar 250 persen lebih tinggi dibanding setahun sebelumnya. Harga kemudian berada di sekitar 10–11 dolar, tetapi tekanan itu belum sepenuhnya sampai kepada konsumen.

Di sinilah perang dagang masuk ke keranjang belanja. Produk protein berpotensi menghadapi kenaikan biaya ketika bahan baku mahal. Pelaku usaha harus menaikkan harga, menekan margin, mengubah formula, atau mencari pemasok baru. Amerika dan Kanada membangun industri pangan yang saling terhubung, sehingga rantai pasok tidak mudah dipindahkan.

Bagi Indonesia, perkembangan ini patut diperhatikan tanpa buru-buru menyimpulkan harga domestik akan melonjak. Pertanyaan pentingnya adalah seberapa besar ketergantungan industri terhadap impor whey dan apakah tersedia pemasok alternatif. Pada akhirnya, whey menjadi pelajaran ekonomi global: perang dagang dimulai dengan tarif, tetapi dampaknya dapat berakhir di pabrik, toko, dan meja makan.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home