
Keterangan Gambar : Gambar berwarna yang tampak bergerak ini kembali beredar sebagai “tes stres”. Konon, semakin cepat lingkarannya berputar, semakin berat tekanan psikologis seseorang. Klaim itu terdengar ilmiah, tetapi tidak memiliki dasar diagnostik yang kuat. Di balik ilusi tersebut justru terdapat fenomena menarik tentang cara mata dan otak mengolah kontras, luminans, perhatian, dan gerakan semu dari gambar yang sebenarnya diam di depan mata.
Perwirasatu.co.id, 29 Agustus 2026.
Gambar berwarna yang tampak bergerak ini kembali beredar sebagai “tes stres”. Konon, semakin cepat lingkarannya berputar, semakin berat tekanan psikologis seseorang. Klaim itu terdengar ilmiah, tetapi tidak memiliki dasar diagnostik yang kuat. Di balik ilusi tersebut justru terdapat fenomena menarik tentang cara mata dan otak mengolah kontras, luminans, perhatian, dan gerakan semu dari gambar yang sebenarnya diam di depan mata.
Perbedaan pengalaman itu kemudian dijadikan dasar pesan berantai: gambar diam dianggap menandakan sehat, gerakan ringan dikaitkan dengan stres atau kurang tidur, sedangkan gerakan cepat disebut tanda stres berat yang membutuhkan perhatian medis.
Masalahnya, kesimpulan tersebut melompat terlalu jauh dari fenomena visual menuju diagnosis kesehatan. Tidak ada dasar memadai untuk menjadikan kecepatan gerak yang dirasakan pada gambar sebagai skala klinis pengukur stres.
Asal-usul gambarnya pun berbeda dari cerita yang menyertainya. AFP Factuel membantah klaim tersebut pada 11 Januari 2019 dan memperbaruinya pada 22 Januari 2019. Melalui pencarian gambar terbalik, AFP menelusurinya ke Shutterstock dan menemukan keterkaitan dengan Yurii Perepadia, desainer grafis Ukraina. AFP juga menghubungi Perepadia. Pemeriksaan fakta Lead Stories pada 16 Agustus 2024 kembali menemukan atribusi yang sama. Dengan demikian, cerita bahwa gambar dibuat neurolog Jepang bernama Yamamoto untuk mengukur stres tidak memiliki dasar yang dapat diverifikasi.
Terbantahnya klaim itu bukan berarti gambarnya tidak menarik secara ilmiah. Justru sebaliknya. Gambar semacam ini menjadi jendela untuk memahami bagaimana otak membangun pengalaman visual. Mata menerima cahaya, tetapi apa yang kita rasakan sebagai gerakan merupakan hasil pemrosesan sistem visual yang berlangsung sangat cepat.
Fenomena ini dikenal sebagai ilusi gerak semu. Salah satu keluarga ilusi yang berkaitan dengannya adalah peripheral drift illusion. Akiyoshi Kitaoka dari Ritsumeikan University dikenal melalui berbagai karya yang memperlihatkan efek tersebut, termasuk “Rotating Snakes”. Situs resminya mencatat karya “Rotating Snakes” bertanggal 2 September 2003 dan menjelaskan bahwa lingkaran dapat tampak berputar secara spontan meskipun gambar sebenarnya statis.
Mengapa gambar diam terasa bergerak? Salah satu jawabannya terletak pada luminans, yaitu tingkat terang atau gelap yang diterima sistem penglihatan. Warna memang berperan dalam tampilan, tetapi ilusi gerak tidak semata-mata disebabkan warna. Penelitian Bevil Conway, Akiyoshi Kitaoka dan koleganya yang diterbitkan The Journal of Neuroscience pada 8 Juni 2005 menunjukkan bahwa hubungan luminans antarelemen statis merupakan faktor penting dalam menghasilkan gerakan semu.
Penelitian itu menunjukkan bahwa orang dapat melihat gerakan walaupun gambar tetap diam. Para peneliti juga menemukan respons terarah pada neuron korteks visual monyet terhadap pasangan elemen statis. Artinya, sistem visual memiliki mekanisme pemrosesan gerak yang dapat merespons pola tertentu meskipun rangsang visual tidak benar-benar berpindah.
Gerakan mata ikut memengaruhi pengalaman. Mata manusia tidak pernah benar-benar diam; gerakan kecil terus berlangsung ketika kita memandang sesuatu. Penelitian mengenai “Rotating Snakes” menunjukkan bahwa karakteristik pandangan dan kestabilan fiksasi dapat memengaruhi kekuatan ilusi. Karena itu, pengalaman setiap orang tidak harus sama. Perbedaan dapat berkaitan dengan perhatian, posisi pandangan, karakteristik visual, usia, dan cara sistem saraf memproses rangsangan.
Dari sini terlihat mengapa klaim “kalau gambar diam berarti sehat” tidak dapat dipertahankan. Orang yang melihat gambar bergerak belum tentu stres. Orang yang melihatnya diam juga belum tentu bebas stres. Ilusi visual bukan pemeriksaan kesehatan mental atau neurologis.
Stres memang dapat memengaruhi perhatian, tidur. Kurang tidur juga dapat mengganggu fungsi perseptual. Tetapi hubungan tersebut tidak menjadikan gambar ini alat diagnosis. Meta-analisis yang diterbitkan Acta Psychologica pada Mei 2026, dengan versi daring terbit 18 Maret 2026, menganalisis 56 studi independen tentang kurang tidur total selama 12 sampai 48 jam. Hasilnya menunjukkan perlambatan respons perseptual dan penurunan beberapa ukuran akurasi, terutama pada tugas visual. Penelitian itu tidak menjadikan gambar ilusi sebagai tes stres atau kurang tidur.
Perbedaan ini penting. Penelitian mengatakan kurang tidur dapat memengaruhi fungsi persepsi. Pesan viral mengatakan seberapa cepat gambar berputar menunjukkan tingkat stres. Dua pernyataan itu tidak sama. Mengubah hubungan umum antara tidur dan persepsi menjadi alat tes sederhana adalah kesimpulan yang tidak didukung penelitian.
Klaim bahwa gerakan sangat cepat berarti seseorang membutuhkan perhatian medis juga harus ditolak. Melihat ilusi visual bukan diagnosis neurologis. Yang perlu diperhatikan secara medis adalah gejala nyata seperti sensasi lingkungan benar-benar berputar, gangguan penglihatan menetap, penglihatan ganda, kelemahan, gangguan bicara, pingsan, atau keluhan neurologis lain. Kondisi seperti itu perlu dinilai melalui pemeriksaan klinis.
Gambar ini lebih layak diperlakukan sebagai demonstrasi tentang kerja otak daripada alat pemeriksaan kesehatan. Jika seseorang melihat lingkarannya bergerak, tidak perlu panik. Jika orang lain melihatnya lebih lambat atau hampir diam, juga tidak perlu merasa dirinya lebih sehat.
Dalam kasus gambar ini, fakta ilmiahnya justru lebih menarik daripada mitosnya. Sebuah gambar statis dapat menghasilkan pengalaman gerak karena sistem visual manusia sangat peka terhadap pola luminans, kontras dan susunan spasial. Ilusi tersebut bukan tanda bahwa otak rusak. Ia adalah contoh bahwa otak bekerja aktif untuk membangun dunia yang kita alami.
Maka, jika gambar itu tampak berputar, nikmatilah sebagai ilusi optik. Jangan menjadikannya vonis atas kondisi psikologis sendiri atau orang lain. Jika sedang merasa stres, evaluasilah kondisi kehidupan nyata: kualitas tidur, beban pekerjaan, kecemasan, konsentrasi dan kemampuan beristirahat. Jika keluhan menetap atau mengganggu, carilah bantuan profesional.
Gambar ini memberi pelajaran sederhana: mata menerima cahaya, otak membangun persepsi, dan keduanya tidak selalu menghasilkan gambaran yang identik dengan kenyataan fisik. Sesuatu yang tampak bergerak belum tentu bergerak. Begitu pula sesuatu yang tampak ilmiah belum tentu memiliki dasar ilmiah. Di tengah derasnya informasi media sosial, kemampuan berhenti sejenak dan bertanya “apa buktinya?” merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat

















LEAVE A REPLY