
Keterangan Gambar : Tidak semua ucapan manis lahir dari hati yang tulus. Ada orang yang pandai berbicara tentang kebaikan, membawa nama Allah untuk meyakinkan sesama, tetapi perilakunya justru menyakiti, menyimpan dendam, dan menolak kebenaran.
Perwirasatu.co.id, 29 Oktober 2026
Tidak semua ucapan manis lahir dari hati yang tulus. Ada orang yang pandai berbicara tentang kebaikan, membawa nama Allah untuk meyakinkan sesama, tetapi perilakunya justru menyakiti, menyimpan dendam, dan menolak kebenaran. Islam mengajarkan kita agar tidak mudah terpesona oleh kata-kata, melainkan menilai akhlak, kejujuran, dan ketakwaan melalui perbuatan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kehidupan, kita akan menjumpai manusia yang pandai merangkai kata, seolah-olah seluruh hidupnya dipenuhi kebijaksanaan dan ketulusan. Lisannya berbicara tentang kedamaian, keikhlasan, dan kasih sayang, bahkan nama Allah disebut untuk memperkuat keyakinan orang lain terhadap dirinya. Namun, ketika kepentingannya terganggu atau pendapatnya dibantah, tampaklah kemarahan, kesombongan, kebencian, dan keengganannya menerima kebenaran. Keadaan ini mengingatkan kita bahwa keindahan ucapan belum tentu mencerminkan kebersihan hati.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 204:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ
Artinya: “Dan di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau, dan dia menjadikan Allah sebagai saksi atas isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.” (QS. Al-Baqarah: 204).
Ayat ini memberikan peringatan yang sangat mendalam. Allah mengungkap adanya manusia yang ucapannya memikat, tetapi sikapnya bertentangan dengan nilai kebenaran. Mereka dapat menggunakan sumpah dan bahasa keagamaan untuk membangun kepercayaan, sementara perilakunya justru melukai orang lain. Akan tetapi, ayat ini bukan alasan untuk sembarangan menuduh seseorang munafik atau merasa paling mengetahui isi hati manusia. Kita diperintahkan mengambil pelajaran, memperbaiki diri, dan berhati-hati dalam menilai perilaku berdasarkan bukti yang nyata.
Allah SWT melanjutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 205:
وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
Artinya: “Dan apabila dia berpaling dari engkau, dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanam-tanaman dan ternak, sedang Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al-Baqarah: 205).
Pesan ayat ini mengajak kita memahami bahwa kualitas seseorang tidak cukup dinilai dari apa yang dikatakannya di hadapan orang banyak. Perhatikan pula bagaimana ia memperlakukan orang lain ketika tidak sedang mencari pujian. Apakah ia menjaga amanah? Apakah ia menghormati perbedaan? Apakah ia mampu mengendalikan amarah? Apakah kehadirannya membawa manfaat atau justru menimbulkan permusuhan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu kita membedakan antara kesalehan yang diwujudkan melalui perbuatan dan kesalehan yang sekadar dijadikan penampilan.
Rasulullah SAW juga memperingatkan bahaya ketidaksesuaian antara perkataan dan perilaku. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
Artinya: “Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, dia berdusta; apabila berjanji, dia mengingkari; dan apabila diberi amanah, dia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini merupakan peringatan agar kita menjaga kejujuran, menepati janji, dan memelihara amanah. Namun, menyaksikan satu perilaku buruk tidak serta-merta memberi kita hak untuk menetapkan status kemunafikan seseorang secara mutlak. Yang paling penting ialah menjadikan hadis ini sebagai cermin untuk memeriksa diri sendiri. Jangan sampai kita sibuk mengungkap kebohongan orang lain, tetapi membiarkan kebohongan tumbuh dalam ucapan kita. Jangan sampai kita menuntut kesetiaan, sementara kita sendiri mengkhianati kepercayaan.
Dalam perdebatan, karakter seseorang sering terlihat lebih jelas. Orang yang mencintai kebenaran akan berusaha memahami pendapat lawan bicaranya, mempertimbangkan bukti, dan bersedia mengakui kesalahan. Sebaliknya, orang yang dikuasai kesombongan cenderung menganggap perbedaan sebagai penghinaan. Ia meninggikan suara, menyerang pribadi, mengungkit kesalahan lama, dan memelintir perkataan demi memenangkan pertengkaran. Baginya, menang lebih penting daripada menemukan kebenaran.
Padahal, Rasulullah SAW bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ
Artinya: “Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia benar, sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun sedang bercanda, dan sebuah rumah di bagian tertinggi surga bagi orang yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud, no. 4800).
Hadis ini mengajarkan bahwa tidak setiap perdebatan harus diteruskan. Ada kalanya diam lebih bijaksana daripada membalas hinaan, menjauh lebih menenteramkan daripada mempertahankan pertengkaran, dan memaafkan lebih mulia daripada memelihara dendam. Meninggalkan perdebatan bukan berarti mengalah terhadap kebatilan, melainkan menolak pertengkaran yang tidak menghasilkan manfaat. Kebenaran tetap perlu disampaikan, tetapi dengan ilmu, kesantunan, dan tujuan memperbaiki keadaan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Fussilat ayat 34:
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
Artinya: “Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.” (QS. Fussilat: 34).
Ayat ini bukan perintah untuk membiarkan kezaliman atau terus bertahan dalam hubungan yang merusak. Islam mengajarkan kelembutan sekaligus ketegasan. Kita boleh memaafkan, tetapi tetap menetapkan batas. Kita boleh berprasangka baik, tetapi tidak harus menyerahkan kepercayaan kepada orang yang berulang kali menyalahgunakannya. Kita boleh mendoakan seseorang agar berubah, sembari menjaga diri dari perkataan, tindakan, dan perselisihan yang membahayakan.
Apabila bertemu orang yang gemar menyimpan dendam, jangan biarkan keburukannya mengubah hati kita menjadi serupa dengannya. Jangan membalas kebohongan dengan kebohongan, hinaan dengan hinaan, atau fitnah dengan fitnah. Tegakkan kebenaran melalui cara yang terhormat. Jika perlu, hentikan percakapan, sampaikan keberatan dengan jelas, dan carilah bantuan pihak yang bijaksana ketika masalah semakin besar. Menjaga jarak dari perilaku yang menyakitkan bukanlah kebencian, melainkan bagian dari menjaga ketenangan dan martabat diri.
Ukuran kemuliaan seorang hamba bukanlah seberapa indah ia berbicara tentang Allah, melainkan kesungguhannya menaati Allah dalam perkataan dan perbuatan. Lisan yang menyebut nama-Nya seharusnya menjadi lisan yang jujur. Hati yang mengaku beriman seharusnya terus belajar membersihkan dengki. Ilmu agama seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan untuk menghakimi orang lain.
Marilah kita menjadikan peringatan ini sebagai kesempatan untuk bercermin. Sebelum menilai orang yang manis lisannya tetapi keras hatinya, tanyakan kepada diri sendiri: apakah ucapan kita sudah sesuai dengan tindakan? Apakah kita mampu meminta maaf ketika salah? Apakah kita masih memelihara dendam yang menghalangi kedamaian? Jangan sampai kita fasih menasihati orang lain, tetapi lalai menasihati diri sendiri.
Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari kesombongan, kebencian, kedengkian, dan keinginan untuk selalu menang dalam perdebatan. Semoga Dia membimbing lisan kita agar berkata benar, menjaga langkah kita agar tidak menzalimi sesama, dan mengaruniakan akhlak yang indah dalam keadaan lapang maupun sempit. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat





.jpg)











LEAVE A REPLY