Home Pendidikan MBG PRASMANAN, SIAPA MEMBAYAR WAKTU SISWA?

MBG PRASMANAN, SIAPA MEMBAYAR WAKTU SISWA?

14
0
SHARE
MBG PRASMANAN, SIAPA MEMBAYAR WAKTU SISWA?

Keterangan Gambar : Mereka mendapat giliran melayani makan siang teman dan gurunya. Inilah wajah baru Makan Bergizi Gratis yang sedang diuji Badan Gizi Nasional.

perwirasatu.co.id , Jakarta - Lima atau enam siswa mengenakan celemek dan sarung tangan. Mereka tidak sedang mengikuti praktik tata boga. Mereka mendapat giliran melayani makan siang teman dan gurunya. Inilah wajah baru Makan Bergizi Gratis yang sedang diuji Badan Gizi Nasional. Makanan diharapkan lebih hangat, segar, dan sedikit terbuang. Namun ada pertanyaan yang belum banyak dibicarakan: berapa waktu sekolah yang dibutuhkan untuk menjalankannya?

Kepala BGN Sudaryono mengatakan pada 5 Oktober 2026, sistem prasmanan telah diuji di lebih dari 60 dapur SPPG di Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta hingga Jayapura. Makanan dimasak di dapur, dibawa hangat ke sekolah, lalu disajikan di kelas. Menurutnya, waktu tunggu yang lebih pendek diharapkan mengurangi risiko kerusakan makanan. Laporan awal BGN juga menyebut makanan lebih banyak dikonsumsi dan sisa makanan berkurang.

Gagasan itu layak diuji. Masalahnya muncul ketika sebagian proses pelayanan masuk semakin jauh ke ruang pendidikan. Siswa dijadwalkan bergiliran menjadi petugas prasmanan. Sekolah pun perlu mendapat pelatihan. Sebelumnya, BGN juga telah meminta kepala sekolah dan guru untuk tidak membagikan MBG jika wadah tidak memiliki label waktu yang sesuai. Guru Ditempatkan sebagai lapisan terakhir yang memastikan juga makanan aman sebelum disantap siswa.

Di batas tanggung jawab perlu diperjelas. Dapur memasak, tetapi sekolah ikut memeriksa. Makanan didistribusikan melalui sistem MBG, tetapi guru juga memastikan kelayakannya. Kini siswa dilibatkan dalam pelayanan. Sampai di mana tanggung jawab SPPG dan mulai dari mana tanggung jawab sekolah?

Persoalan berikutnya adalah waktu. Jadwal sekolah bukan ruang kosong yang bisa terus diisi tugas baru. Ada pelajaran, istirahat, kegiatan kokurikuler, ibadah dan berbagai aktivitas pendidikan lainnya. Belum jelas berapa menit yang diperlukan siswa untuk bersiap, memakai perlengkapan, menata makanan, melayani teman dan guru, makan, kemudian membereskan kembali.

Karena piket dilakukan bergiliran, dampaknya terhadap setiap siswa tentu berbeda. Namun sekolah tetap harus menyediakan waktu setiap hari. Oleh karena itu evaluasi MBG prasmanan seharusnya tidak hanya menghitung berapa porsi yang habis dan berapa sedikit makanan yang terbuang. BGN juga perlu mengukur berapa menit waktu sekolah digunakan dan apakah proses tersebut mengganggu pembelajaran.

Sudaryono menyebut praktik itu menyerupai sistem di Jepang. Perbandingan ini menarik, tetapi tidak boleh berhenti pada celemek, sarung tangan dan siswa yang melayani temannya. Di Jepang, makan siang sekolah memang menjadi bagian dari kegiatan pendidikan. Siswa biasanya membantu menata dan mengatur makanan. Namun praktik tersebut berada dalam sistem sekolah yang memang menyediakan waktu makan sekaligus menerapkan standar higiene dan sanitasi khusus.

Oleh karena itu, jika Jepang dijadikan rujukan, yang dipelajari seharusnya bukan hanya siapa yang membagikan makanan. Pelajari pula desain waktunya, standar kebersihannya, pengawasan, fasilitas, pelatihan dan pembagian tanggung jawabnya.

BGN sendiri menyatakan proyek percontohan ini bukan sekadar mencari cerita sukses, tetapi juga menemukan permasalahan sebelum sistem rumit. Justru di dalam kesempatan melakukan evaluasi secara jernih. Ukur suhu makanan saat tiba, waktu penyajian, sisa makanan, kebersihan, beban guru, waktu yang digunakan siswa, serta dampaknya terhadap kegiatan belajar.

Pelibatan siswa sebenarnya dapat bernilai pendidikan. Anak dapat belajar disiplin, kebersihan, kerja sama dan tanggung jawab. Tetapi harus ada garis tegas antara karakter pendidikan dan transfer program operasional pekerjaan pemerintah ke sekolah.

Alternatifnya, petugas SPPG atau tenaga khusus menyiapkan makanan sampai siap disajikan. Siswa cukup mengambil porsi, makan dan membersihkan tempat masing-masing. Ketidakmampuan tetap hidup tanpa menjadikan siswa mata rantai penting dalam distribusi makanan.

MBG adalah investasi besar agar anak Indonesia tumbuh sehat dan mampu belajar lebih baik. Karena itu ukuran keberhasilannya jangan berhenti pada makanan hangat, piring kosong atau mengurangi sisa makanan.

Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika gizi membaik, keamanan pangan terjaga dan sekolah tidak kehilangan pekerjaan yang mengalihkan fungsi utamanya.

Makan bergizi penting. Pendidikan pun sama pentingnya.

Tantangan BGN bukan sekedar membuktikan prasmanan MBG dapat berjalan, melainkan memastikan sistem itu berjalan tanpa memakan waktu yang seharusnya menjadi milik siswa untuk belajar.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home