Home Artikel Negara Terbaik Ditinggali, Benarkah Pilihan Terbaik?

Negara Terbaik Ditinggali, Benarkah Pilihan Terbaik?

15
0
SHARE
Negara Terbaik Ditinggali, Benarkah Pilihan Terbaik?

Keterangan Gambar : Rumavi menempatkan Estonia sebagai negara terbaik untuk relokasi pada tahun 2026 dengan skor 72,8. Singapura berada di posisi kedua dengan 72,6 dan Malaysia ketiga dengan 72,0.

perwirasatu.co.id , Jakarta - Estonia berada di puncak, Singapura dan Malaysia menyusul, sementara Indonesia tertahan di peringkat 84. Namun daftar negara terbaik untuk ditinggali versi Rumavi Global Relocation Index 2026 menyimpan paradoks menarik: negara dengan biaya hidup sangat murah belum tentu unggul dalam peluang bisnis, kepastian hukum, kualitas lingkungan dan kemudahan membangun masa depan.

Rumavi menempatkan Estonia sebagai negara terbaik untuk relokasi pada tahun 2026 dengan skor 72,8. Singapura berada di posisi kedua dengan 72,6 dan Malaysia ketiga dengan 72,0. Portugal, Taiwan, Lithuania, Hong Kong, Saint Kitts dan Nevis, Czechia serta Malta melengkapi sepuluh besar. Indeks ini mencakup 192 negara dan wilayah dengan 24 metrik yang mencerminkan empat pilar: finansial dan pajak, kelayakan hidup dan kesehatan, keamanan dan stabilitas, serta kemudahan menetap dan peluang. Rumavi, 30 Juni dan 1 Juli 2026.

Angka tersebut menarik karena menunjukkan bahwa ukuran negara, kekuatan ekonomi atau popularitas global tidak secara otomatis menentukan posisi teratas. Rumavi secara khusus mengukur daya tarik dari sudut pandang orang yang ingin membangun kehidupan di negara lain. Oleh karena itu, indeks ini berbeda dari ukuran kesejahteraan nasional atau kebahagiaan penduduk.

Indonesia berada di posisi ke-84 dengan skor 62,4. Tetapi angka itu tidak berarti Indonesia adalah negara dengan kualitas hidup terburuk ke-84. Rumavi membuat indeks untuk kebutuhan relokasi, dengan enam perspektif berbeda: umum, pensiunan, digital nomad, keluarga, pengusaha dan pencari negara ramah pajak. Indonesia bahkan berada di posisi ke-23 untuk digital nomad dan ke-58 untuk pensiunan. Rumavi, 1 Juli 2026.

Didalam paradoks Indonesia terlihat jelas. Negara ini memperoleh nilai yang sangat tinggi untuk keterjangkauan, yakni 95,1, sementara keterjangkauan perumahan mencapai 90. Bagi orang yang mempunyai penghasilan dari luar negeri, biaya hidup rendah tentu menjadi daya tarik besar.

Namun keunggulan tersebut dihadapkan pada sejumlah kelemahan. Rumavi memberikan skor hanya 20 untuk peluang bisnis, 42 untuk hak kepemilikan properti bagi warga negara asing, 52 untuk supremasi hukum dan sekitar 46 untuk kualitas udara. Dengan kata lain, murah belum tentu mudah. Harga hidup yang terjangkau tidak otomatis berarti lingkungan bisnis, kepastian hukum dan kualitas hidup berada pada tingkat yang sama. Rumavi, 1 Juli 2026.

Metodologi Rumavi juga perlu dibaca kritis. Tidak seluruh angka berasal dari satu sumber statistik internasional. Sebagian merupakan data institusional, sebagian berupa estimasi, dan sebagian lagi merupakan penilaian ahli Rumavi, terutama pada aspek seperti hak properti warga asing, jalur visa dan peluang menetap. Rumavi menyebut sekitar 127 negara memiliki cakupan data yang kuat hingga penuh, sementara 65 negara memiliki tingkat kepercayaan lebih rendah. Rumavi, 30 Juni 2026.

Catatan tersebut bukan berarti indeks Rumavi tidak berguna. Justru transparansi metodologi memungkinkan pembaca memahami batasnya. Pemeringkatan tersebut lebih tepat digunakan sebagai titik awal untuk membandingkan suatu negara, bukan sebagai keputusan akhir tentang tempat terbaik untuk hidup.

Perbedaan itu terlihat jika dibandingkan dengan World Happiness Report 2026. Laporan tersebut menempatkan Finlandia di posisi pertama, disusul Islandia dan Denmark, berdasarkan evaluasi kehidupan penduduk menggunakan data rata-rata 2023–2025. Ukurannya berbeda dari Rumavi. World Happiness Report menanyakan bagaimana penduduk menilai kehidupannya, sedangkan Rumavi berusaha menilai daya tarik suatu negara bagi orang yang mempertimbangkan relokasi. Laporan Kebahagiaan Dunia, 2026.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika suatu negara dapat memperoleh posisi tinggi dalam satu indeks tetapi tidak dalam indeks lainnya. Kebahagiaan, keamanan, biaya hidup, layanan kesehatan, kepastian hukum, peluang usaha dan kemudahan memperoleh izin tinggal merupakan dimensi yang saling berkaitan, tetapi tidak identik.

Bagi Indonesia, posisi ke-84 seharusnya tidak dibaca sebagai vonis. Justru data itu menunjukkan modal sekaligus pekerjaan rumah. Indonesia memiliki keunggulan besar dalam hal keterjangkauan biaya hidup dan perumahan, namun masih menghadapi tantangan pada peluang bisnis, kepastian hukum, kualitas udara dan sebagian aspek terkait pendatang.

Pentingnya bukan sekadar mengapa Indonesia berada di peringkat 84. Pertanyaan yang lebih strategis adalah mengapa keunggulan biaya hidup belum sepenuhnya berubah menjadi kualitas hidup dan peluang yang lebih tinggi.

Di situlah ranking Rumavi menjadi cermin yang berguna. Negara terbaik bukan semata-mata negara dengan angka tertinggi dalam sebuah tabel. Negara yang benar-benar menarik untuk ditinggali adalah negara yang mampu menggabungkan biaya hidup yang masuk akal dengan keamanan, kesehatan, kepastian hukum, lingkungan yang baik, kesempatan ekonomi dan harapan masa depan.

Peringkat bisa berubah setiap tahun. Namun pekerjaan rumah sebuah negara tetap sama: mengubah angka statistik menjadi pengalaman hidup yang lebih baik bagi manusia.
Sumber
(dwi taufan hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home