Home Tokoh Membaca Islam dari Perspektif Kaum Tertindas

Membaca Islam dari Perspektif Kaum Tertindas

18
0
SHARE
Membaca Islam dari Perspektif Kaum Tertindas

Keterangan Gambar : Ali Syariati dikenal sebagai pemikir Muslim Iran yang banyak mengembangkan gagasan pembaruan pemikiran Islam. Dalam buku ini, ia menawarkan perspektif kritis mengenai hubungan antara agama, masyarakat, kekuasaan, dan perubahan sosial.

Perwirasatu.co.id, 04 November 2026

Buku Paradigma Kaum Tertindas: Sebuah Kajian Sosiologi Islam karya Ali Syariati merupakan salah satu karya pemikiran Islam yang mengajak pembaca memahami agama bukan sekadar sebagai kumpulan doktrin, ritual, dan kewajiban individual, melainkan sebagai kekuatan yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial, sejarah, dan perjuangan manusia. Melalui pendekatan sosiologi Islam, Syariati berusaha membongkar cara pandang yang menjauhkan agama dari persoalan kemanusiaan, terutama ketidakadilan dan penindasan.

Ali Syariati dikenal sebagai pemikir Muslim Iran yang banyak mengembangkan gagasan pembaruan pemikiran Islam. Dalam buku ini, ia menawarkan perspektif kritis mengenai hubungan antara agama, masyarakat, kekuasaan, dan perubahan sosial. Islam tidak seharusnya dipahami sebagai ajaran yang hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memberikan landasan moral untuk membangun kehidupan masyarakat yang adil dan bermartabat.

Pembahasan buku disusun dalam lima bagian utama. Bagian pertama, Cara Memahami Islam, menguraikan bagaimana agama dapat dipahami melalui pendekatan yang lebih mendalam. Bagian kedua, Manusia dan Islam, menghubungkan pemahaman tentang manusia dengan pandangan Islam. Bagian ketiga, Pandangan Hidup Tauhid, menempatkan tauhid sebagai dasar pandangan hidup yang menyatukan berbagai dimensi kehidupan. Bagian keempat, Qabil dan Habil, mengangkat kisah dua putra Adam sebagai gambaran pertentangan sosial dan sejarah manusia. Di dalamnya terdapat pembahasan tentang filsafat sejarah, dialektika sosiologi, masyarakat ideal, serta manusia ideal. Bagian kelima, Wajah Muhammad, menghadirkan gambaran Nabi Muhammad dalam perspektif kehidupan dan perjuangan sosial.

Salah satu kekuatan pemikiran Syariati terletak pada keberaniannya membaca ajaran agama melalui realitas masyarakat. Dalam pembahasan sosiologi, ia menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari struktur sosial, kepemilikan, kekuasaan, dan hubungan antarkelompok. Masyarakat bukan sesuatu yang berdiri tanpa pertentangan. Ada kelompok yang memiliki kekuatan dan sumber daya, sementara kelompok lain berada dalam posisi lemah. Situasi semacam ini membutuhkan kesadaran kritis, bukan sikap pasrah yang membiarkan ketidakadilan berlangsung.

Pembahasan tentang Qabil dan Habil menjadi salah satu bagian penting. Kisah tersebut tidak berhenti sebagai cerita sejarah keagamaan, tetapi digunakan untuk membaca pertentangan dalam kehidupan manusia. Syariati mengajak pembaca melihat bagaimana perbedaan kepentingan, kepemilikan, dan kekuasaan dapat membentuk struktur masyarakat. Sementara itu, tauhid ditempatkan sebagai pandangan hidup yang memberikan arah bagi pembebasan manusia dari berbagai bentuk penghambaan selain kepada Allah.

Buku ini menarik karena tidak menyajikan Islam secara sempit dan terpisah dari persoalan sosial. Pembaca diajak menghubungkan keyakinan dengan tanggung jawab kemanusiaan. Agama semestinya melahirkan kesadaran, keberanian berpikir, dan kepedulian terhadap mereka yang mengalami ketidakadilan. Dengan demikian, keberagamaan tidak cukup diukur dari kesalehan pribadi, tetapi juga dari sikap terhadap kehidupan bersama.

Meski demikian, pemikiran Syariati membutuhkan pembacaan yang kritis. Pendekatan sosiologis dan dialektis yang digunakannya perlu ditempatkan secara proporsional agar tidak menyederhanakan kompleksitas persoalan masyarakat. Pembaca juga perlu membedakan antara penafsiran sosial penulis dan ketentuan normatif dalam sumber-sumber Islam.

Secara keseluruhan, Paradigma Kaum Tertindas merupakan bacaan penting bagi mereka yang ingin memahami Islam melalui perspektif sosial, sejarah, dan kemanusiaan. Buku ini relevan bagi mahasiswa, aktivis dakwah, pemerhati sosial, serta siapa pun yang ingin mengembangkan pemikiran Islam yang kritis dan membumi. Pesan utamanya mengingatkan bahwa tauhid bukan hanya keyakinan dalam hati, melainkan juga fondasi untuk membangun kehidupan yang bebas dari penindasan dan ketidakadilan.

Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home