Home Artikel Mengejar Akhirat, Meraih Kebaikan Dunia

Mengejar Akhirat, Meraih Kebaikan Dunia

45
0
SHARE
Mengejar Akhirat, Meraih Kebaikan Dunia

Keterangan Gambar : Dunia memang tempat bekerja, berusaha, membangun keluarga, mencari rezeki, dan menunaikan amanah. Namun, seorang mukmin hendaknya menjadikan akhirat sebagai arah utama, sehingga setiap pekerjaan dunia bernilai ibadah, setiap rezeki menjadi sarana kebaikan, dan setiap keberhasilan semakin mendekatkan dirinya kepada Allah.

Perwirasatu.co.id , Jakarta - Jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat hati lupa kepada tujuan akhir perjalanan. Dunia memang tempat bekerja, berusaha, membangun keluarga, mencari rezeki, dan menunaikan amanah. Namun, seorang mukmin hendaknya menjadikan akhirat sebagai arah utama, sehingga setiap pekerjaan dunia bernilai ibadah, setiap rezeki menjadi sarana kebaikan, dan setiap keberhasilan semakin mendekatkan dirinya kepada Allah.

Allah SWT memberikan gambaran yang sangat jelas tentang perbedaan orientasi manusia dalam kehidupan. Allah berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الْاٰخِرَةِ نَزِدْ لَهٗ فِيْ حَرْثِهٖۚ وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۙ وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ نَّصِيْبٍ

"Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat." (QS. Asy-Syura: 20). 0

Ayat ini bukan berarti Islam memerintahkan manusia meninggalkan dunia, berhenti bekerja, atau tidak boleh memiliki kekayaan. Islam justru mengajarkan manusia untuk bekerja dan mencari rezeki dengan cara yang halal. Yang perlu diluruskan adalah orientasi hati. Dunia boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai menguasai hati. Harta boleh banyak, tetapi jangan sampai membuat seseorang kehilangan rasa syukur, meninggalkan kewajiban, meremehkan sesama, atau melupakan kehidupan setelah kematian.

Karena itu, seorang Muslim yang cerdas bukan sekadar bertanya, "Berapa banyak yang saya dapatkan?" Ia juga bertanya, "Untuk apa rezeki ini saya gunakan? Apakah pekerjaan ini mendekatkan saya kepada Allah? Apakah penghasilan ini membawa keberkahan? Apakah kesibukan saya hari ini akan menjadi bekal ketika saya menghadap-Nya?"

Allah mengingatkan manusia bahwa ada kecenderungan untuk lebih mencintai kenikmatan yang segera terlihat. Allah berfirman:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ۝ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

"Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal." (QS. Al-A'la: 16–17). 1

Dunia itu sementara. Kekayaan dapat berkurang, jabatan dapat berakhir, rumah dapat ditinggalkan, tubuh akan menua, dan pada akhirnya semua manusia akan kembali kepada Allah. Sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang lebih kekal. Karena itu, jangan menukar sesuatu yang kekal dengan sesuatu yang sementara.

Rasulullah ﷺ juga memberikan tuntunan yang sangat kuat tentang orientasi hidup. Beliau bersabda:

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

"Barangsiapa dunia menjadi perhatiannya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran berada di depan matanya, dan ia tidak akan mendapatkan dari dunia kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa akhirat menjadi niatnya, Allah akan menyatukan urusannya, menjadikan kekayaan berada di dalam hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk." (HR. Ibnu Majah, no. 4105; Ahmad). Hadis ini dinilai sahih dalam sejumlah rujukan hadis. 2

Perhatikan ungkapan "menjadikan kekayaan berada di dalam hatinya". Kekayaan yang paling penting ternyata bukan sekadar banyaknya harta, melainkan kayanya jiwa. Seseorang dapat memiliki sedikit tetapi merasa cukup, bersyukur, tenang, dan ringan berbagi. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki banyak harta tetapi hatinya selalu merasa kurang, takut kehilangan, iri kepada orang lain, dan tidak pernah merasa cukup.

Inilah mengapa seorang Muslim perlu bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi beribadah dengan lebih sungguh-sungguh. Ia boleh menjadi pedagang, pengusaha, pegawai, petani, profesional, atau menjalankan berbagai pekerjaan halal lainnya. Ia boleh membangun rumah yang baik, memiliki kendaraan, menabung, dan merencanakan masa depan. Namun semua itu hendaknya ditempatkan sebagai sarana, bukan tujuan akhir.

Ketika seseorang menjadikan akhirat sebagai orientasi, pekerjaan tidak lagi sekadar mencari uang. Ia menjadi jalan menunaikan amanah. Menafkahi keluarga menjadi ibadah. Membantu orang lain menjadi amal saleh. Menjaga kejujuran menjadi bentuk ketakwaan. Menghindari riba, penipuan, kecurangan, dan kezaliman menjadi bukti bahwa ia lebih takut kehilangan keberkahan daripada kehilangan keuntungan.

Maka, jangan hanya menjadi manusia yang sibuk mengumpulkan sesuatu yang kelak ditinggalkan. Jadilah manusia yang menggunakan apa yang dimiliki untuk membeli bekal yang akan dibawa menghadap Allah. Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah seberapa panjang daftar kepemilikan kita, melainkan seberapa banyak amal yang dapat kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Bekerjalah untuk dunia, tetapi hidupkan hati dengan akhirat. Carilah rezeki dengan tangan, tetapi gantungkan harapan kepada Allah. Bangun masa depan keluarga, tetapi jangan lupakan masa depan setelah kematian. Milikilah dunia secukupnya, tetapi jadikan keridaan Allah sebagai cita-cita tertinggi.

Sebab orang yang benar-benar memahami kehidupan akan menyadari bahwa mengejar akhirat tidak membuatnya kehilangan dunia. Justru ketika dunia ditempatkan sebagai sarana menuju Allah, pekerjaan memperoleh makna, harta memperoleh keberkahan, hati memperoleh ketenangan, dan hidup memiliki arah yang lebih jauh daripada sekadar batas usia.

Maka, mari kita ubah pertanyaan dalam hidup: bukan hanya "Apa yang akan saya dapatkan hari ini?", tetapi juga "Apa yang sedang saya tanam untuk kehidupan setelah mati?" Sebab dunia adalah ladang, sedangkan akhirat adalah tempat menuai hasilnya. Beruntunglah orang yang menggunakan ladang dunia untuk menanam amal yang kelak dipanen sebagai keselamatan, ampunan, dan keridaan Allah SWT.

Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home