Home Artikel Menjaga Adab Menyempurnakan Kemuliaan

Menjaga Adab Menyempurnakan Kemuliaan

8
0
SHARE
Menjaga Adab Menyempurnakan Kemuliaan

Keterangan Gambar : Keindahan pakaian, kemewahan harta, tingginya jabatan, dan eloknya penampilan sering kali menjadi ukuran manusia dalam menilai seseorang. Namun di sisi Allah, kemuliaan sejati tidak pernah diukur dari apa yang melekat di tubuh, melainkan dari apa yang bersemayam di hati dan tercermin dalam akhlak.

Perwirasatu.co.id, 27 Agustus 2026.

Keindahan pakaian, kemewahan harta, tingginya jabatan, dan eloknya penampilan sering kali menjadi ukuran manusia dalam menilai seseorang. Namun di sisi Allah, kemuliaan sejati tidak pernah diukur dari apa yang melekat di tubuh, melainkan dari apa yang bersemayam di hati dan tercermin dalam akhlak. Sebab ada sifat-sifat yang tidak akan pernah mampu ditutupi oleh pakaian semahal apa pun, yaitu buruknya tata krama, kesombongan diri, dan dangkalnya cara berpikir.

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi adab. Bahkan sebelum seseorang dikenal karena ilmunya, ia akan terlebih dahulu dikenal melalui akhlaknya. Tidak sedikit orang yang memiliki ilmu luas, tetapi kehilangan wibawa karena lisannya kasar. Sebaliknya, banyak orang yang ilmunya sederhana, namun dicintai banyak orang karena kelembutan sikap dan kemuliaan perangainya. Hal ini menunjukkan bahwa akhlak adalah pakaian hati yang jauh lebih berharga daripada pakaian yang menutupi tubuh.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu."

(QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah penampilan, kedudukan, warna kulit, keturunan, ataupun kekayaan. Kemuliaan hakiki hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki ketakwaan, yang tercermin dalam akhlak mulia, rendah hati, santun dalam berbicara, dan bijaksana dalam bertindak.

Kurangnya tata krama merupakan pertanda bahwa seseorang belum berhasil mendidik jiwanya. Tata krama bukan sekadar sopan santun yang dibuat-buat, melainkan cerminan kebersihan hati. Orang yang beradab akan menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, menghargai perbedaan pendapat, menjaga lisan, dan tidak mudah merendahkan orang lain. Sebaliknya, orang yang kehilangan adab akan mudah menyakiti hati sesama walaupun ia mengenakan pakaian yang sangat terhormat.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya."

(HR. At-Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan akhlak dalam Islam. Kedekatan dengan Rasulullah pada hari kiamat bukan ditentukan oleh kemewahan dunia, melainkan oleh kemuliaan akhlak yang terus dijaga sepanjang kehidupan.

Kesombongan adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Kesombongan membuat seseorang merasa lebih baik daripada orang lain. Ia sulit menerima nasihat, enggan mengakui kesalahan, dan selalu ingin dipuji. Padahal semua kelebihan yang dimiliki hanyalah titipan Allah yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali.

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

"Janganlah engkau memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."

(QS. Luqman: 18)

Kesombongan tidak selalu tampak dalam ucapan. Ia bisa muncul melalui cara memandang orang lain, sikap meremehkan, enggan mendengar, bahkan merasa paling benar dalam setiap keadaan. Orang yang sombong sesungguhnya sedang mempersempit ruang hatinya sendiri sehingga sulit menerima cahaya petunjuk.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar zarah."

(HR. Muslim)

Sabda Rasulullah ini menjadi peringatan keras agar setiap Muslim senantiasa membersihkan hatinya dari sifat ujub dan takabur. Kerendahan hati bukan berarti merendahkan diri, tetapi menyadari bahwa segala nikmat berasal dari Allah dan seluruh manusia memiliki kedudukan yang sama sebagai hamba-Nya.

Selain adab dan kerendahan hati, Islam juga mendorong umatnya untuk memiliki pikiran yang luas. Kedangkalan pikiran membuat seseorang mudah menyebarkan fitnah, percaya berita tanpa tabayun, menghakimi tanpa ilmu, serta menolak kebenaran hanya karena berbeda dengan kebiasaannya. Islam mengajarkan agar setiap Muslim berpikir dengan ilmu, menggunakan akal yang sehat, dan selalu mencari kebenaran dengan penuh kejujuran.

Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

"Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya."

(QS. Al-Isra': 36)

Ayat ini mengajarkan agar setiap Muslim tidak berbicara tanpa ilmu, tidak mudah menghakimi, serta selalu mendasarkan setiap sikap pada pengetahuan yang benar. Pikiran yang matang lahir dari kerendahan hati untuk terus belajar, bukan dari merasa paling mengetahui.

Seorang Mukmin yang sejati akan selalu memperbaiki dirinya dari dalam. Ia lebih sibuk memperbaiki hati daripada mempercantik penampilan. Ia lebih senang memperhalus tutur kata daripada memperindah pakaian. Ia lebih berusaha membersihkan niat daripada mencari pujian manusia. Sebab ia memahami bahwa Allah melihat hati dan amal, bukan sekadar rupa dan penampilan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan tidak pula harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal-amal kalian."

(HR. Muslim)

Marilah menjadikan nasihat ini sebagai cermin untuk mengevaluasi diri. Jangan sampai kita sibuk menghias penampilan, tetapi melupakan adab. Jangan sampai kita mengejar penghormatan manusia, tetapi kehilangan kerendahan hati. Jangan sampai kita merasa paling benar, padahal masih sangat membutuhkan ilmu dan bimbingan Allah. Semoga Allah menghiasi hati kita dengan iman, memperindah akhlak kita dengan adab yang mulia, membersihkan jiwa kita dari kesombongan, melapangkan pikiran kita dengan ilmu yang bermanfaat, serta mengumpulkan kita bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan. Aamiin.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home