
Keterangan Gambar : Ada tiga perkara yang menentukan arah kehidupan seorang Muslim: lisan yang terjaga, hati yang dipenuhi syukur, dan tubuh yang digunakan untuk beramal saleh.
Perwirasatu.co.id, 16 Oktober 2026.
Ada tiga perkara yang menentukan arah kehidupan seorang Muslim: lisan yang terjaga, hati yang dipenuhi syukur, dan tubuh yang digunakan untuk beramal saleh. Nasihat untuk mengosongkan lisan dari perkataan sia-sia, hati dari keluh kesah, serta tubuh dari kemalasan bukanlah ajakan meninggalkan kehidupan dunia, melainkan tuntunan agar setiap ucapan, perasaan, dan tindakan bernilai ibadah di hadapan Allah.
Menjaga lisan bukan berarti tidak boleh berbicara, melainkan membiasakan diri berkata benar, menyampaikan kebaikan, dan menjauhi perkataan yang menyakiti. Lisan dapat menjadi jalan pahala melalui zikir, nasihat, dan silaturahmi, tetapi juga dapat menjadi sumber dosa melalui fitnah, gibah, dusta, serta penghinaan. Allah SWT berfirman dalam Surah Qaf ayat 18:
وَمَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18).
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap perkataan memiliki pertanggungjawaban. Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Diam dalam tuntunan Islam bukanlah sikap acuh terhadap kemungkaran, melainkan kemampuan menahan ucapan ketika perkataan tidak membawa manfaat. Jika kebenaran perlu disampaikan, sampaikanlah dengan hikmah, santun, dan tanggung jawab.
Selanjutnya, mengosongkan hati kecuali untuk bersyukur berarti melatih diri agar tidak diperbudak oleh iri hati, keserakahan, dan ketidakpuasan. Bersyukur bukan berarti menolak kesedihan atau berhenti memperbaiki keadaan. Syukur adalah menyadari nikmat Allah, mengucapkan pujian kepada-Nya, dan menggunakan karunia-Nya untuk kebaikan. Allah berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.’” (QS. Ibrahim: 7).
Syukur menjadikan hati lebih lapang dalam menghadapi ujian. Orang yang bersyukur tidak selalu memiliki kehidupan tanpa masalah, tetapi berusaha menemukan hikmah, menjaga harapan, dan tidak melupakan pertolongan Allah. Ia tetap berikhtiar, berdoa, serta memperbaiki diri tanpa kehilangan kerendahan hati.
Adapun mengosongkan tubuh kecuali untuk bekerja keras merupakan ajakan menjauhi kemalasan dan mengisi waktu dengan amal bermanfaat. Bekerja mencari nafkah halal, belajar, membantu keluarga, melayani masyarakat, dan merawat sesama dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar serta cara yang dibenarkan syariat. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 105:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Bekerjalah! Maka, Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu.’” (QS. At-Taubah: 105).
Namun, bekerja keras bukan berarti mengabaikan kesehatan, keluarga, dan kewajiban lainnya. Islam mengajarkan keseimbangan: tubuh memiliki hak untuk beristirahat, keluarga memiliki hak untuk diperhatikan, dan Allah memiliki hak untuk disembah. Kesalehan tidak diukur dari kesibukan semata, tetapi juga dari keikhlasan, kejujuran, dan manfaat perbuatan bagi sesama.
Karena itu, nasihat tersebut hendaknya menjadi pedoman untuk memperbaiki diri setiap hari. Basahi lisan dengan zikir dan perkataan baik, penuhi hati dengan syukur dan tawakal, serta gerakkan tubuh untuk ikhtiar dan amal kebajikan. Jangan merasa paling saleh hanya karena rajin beribadah, sebab akhlak kepada manusia juga merupakan bagian penting dari penghambaan kepada Allah.
Semoga Allah membimbing kita menjadi hamba yang mampu menjaga ucapan, mensyukuri nikmat, tekun beramal, dan tetap rendah hati. Sebab, kesalehan sejati bukan sekadar tampak dalam kata-kata, melainkan tumbuh dalam hati, terbukti melalui perbuatan, dan menghadirkan kebaikan bagi kehidupan.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat

















LEAVE A REPLY