
Keterangan Gambar : Embun pagi belum sepenuhnya mengering ketika Pak Pepen mengenakan jaket ojek online yang telah menjadi teman setianya selama bertahun-tahun. Di usianya yang telah melewati enam dekade, ia masih menggenggam erat setang sepeda motor, menembus lalu lintas kota demi mengejar pesanan yang masuk melalui telepon genggamnya. Bagi sebagian orang, perjalanan itu sekadar mencari nafkah. Namun bagi Pak Pepen, setiap kilometer yang ditempuh adalah ikhtiar untuk menjaga dapur tetap mengepul di Panti Al-Hikmah, rumah bagi sekitar tiga puluh lima anak yatim piatu yang memanggilnya dengan satu sapaan penuh makna: "Ayah."
Perwirasatu.co.od, 01 Agustus 2026.
Embun pagi belum sepenuhnya mengering ketika Pak Pepen mengenakan jaket ojek online yang telah menjadi teman setianya selama bertahun-tahun. Di usianya yang telah melewati enam dekade, ia masih menggenggam erat setang sepeda motor, menembus lalu lintas kota demi mengejar pesanan yang masuk melalui telepon genggamnya. Bagi sebagian orang, perjalanan itu sekadar mencari nafkah. Namun bagi Pak Pepen, setiap kilometer yang ditempuh adalah ikhtiar untuk menjaga dapur tetap mengepul di Panti Al-Hikmah, rumah bagi sekitar tiga puluh lima anak yatim piatu yang memanggilnya dengan satu sapaan penuh makna: "Ayah."
Sapaan itu bukan lahir dari hubungan darah, melainkan dari kasih sayang yang dipupuk selama bertahun-tahun. Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif, Pak Pepen memilih jalan yang tidak banyak ditempuh orang. Ia tidak sekadar memberi makan atau menyediakan tempat tinggal, tetapi berusaha menghadirkan rasa aman bagi anak-anak yang pernah kehilangan figur pelindung dalam hidup mereka. Baginya, menjadi ayah bukanlah soal keturunan, melainkan kesediaan memikul tanggung jawab ketika orang lain memilih berpaling.
Di balik kisah yang menghangatkan hati tersebut, sesungguhnya tersimpan potret sosial yang lebih luas. Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam perlindungan anak-anak yang kehilangan orang tua maupun pengasuhan yang layak. Negara memang memiliki berbagai program kesejahteraan sosial, sementara banyak lembaga kemasyarakatan turut mengambil peran. Namun kebutuhan nyata di lapangan sering kali jauh lebih besar daripada kemampuan berbagai pihak untuk menjangkaunya. Dalam ruang kosong itulah muncul sosok-sosok seperti Pak Pepen yang bergerak bukan karena perintah, melainkan karena panggilan nurani.
Pilihan Pak Pepen tetap bekerja sebagai pengemudi ojek online pada usia lanjut juga mencerminkan realitas ekonomi yang dihadapi banyak pekerja sektor informal di Indonesia. Pekerjaan berbasis aplikasi menawarkan kesempatan memperoleh penghasilan tanpa batas usia yang kaku, tetapi juga menghadirkan ketidakpastian. Pendapatan bergantung pada jumlah pesanan, kondisi kesehatan, cuaca, hingga tingkat persaingan di lapangan. Tidak ada kepastian penghasilan bulanan yang benar-benar tetap, sementara kebutuhan hidup terus berjalan tanpa mengenal jeda.
Kondisi tersebut menjadi semakin berat ketika diketahui Pak Pepen pernah mengalami gangguan kesehatan berupa saraf terjepit. Bagi seorang pengemudi, rasa nyeri bukan sekadar persoalan medis, melainkan ancaman terhadap sumber penghasilan. Setiap hari ia harus mengambil keputusan yang tidak mudah: beristirahat demi memulihkan tubuh atau tetap bekerja agar kebutuhan anak-anak di panti tetap terpenuhi. Dilema semacam inilah yang jarang terlihat dalam unggahan media sosial yang hanya menampilkan sisi inspiratif tanpa memperlihatkan beratnya perjuangan di baliknya.
Di sinilah kisah Pak Pepen berubah menjadi cermin bagi masyarakat. Kita sering mengagumi orang-orang yang mampu berbagi ketika memiliki kelebihan materi, tetapi jauh lebih jarang memperhatikan mereka yang tetap memberi meskipun hidup dalam keterbatasan. Nilai kemanusiaan justru menemukan maknanya ketika seseorang bersedia mengurangi haknya sendiri agar orang lain tetap memiliki harapan. Pak Pepen memperlihatkan bahwa kemurahan hati tidak selalu lahir dari kelimpahan, melainkan dari keikhlasan untuk mendahulukan kebutuhan sesama.
Sayangnya, kisah seperti ini juga menyisakan pertanyaan yang tidak boleh diabaikan. Apakah keberlangsungan sebuah panti asuhan seharusnya bergantung pada penghasilan harian seorang pengemudi ojek online yang telah memasuki usia lanjut? Pertanyaan tersebut bukan untuk mengurangi penghargaan terhadap perjuangan Pak Pepen, melainkan untuk mengajak publik melihat persoalan secara lebih utuh. Ketulusan individu memang patut diapresiasi, tetapi sistem perlindungan sosial yang kuat tidak boleh bertumpu pada pengorbanan satu orang semata.
Karena itu, memandang Pak Pepen hanya sebagai sosok inspiratif tidaklah cukup. Ia adalah pengingat bahwa masih terdapat ruang-ruang kemanusiaan yang membutuhkan perhatian bersama. Di balik setiap pesanan yang diterimanya, sesungguhnya terdapat cerita tentang pendidikan anak-anak, biaya makan, kebutuhan kesehatan, perlengkapan sekolah, serta harapan agar mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang kelak mampu berdiri di atas kaki sendiri. Perjuangan tersebut tidak seharusnya menjadi beban seorang diri, melainkan menjadi panggilan gotong royong seluruh elemen masyarakat.
Banyak orang menganggap kepedulian sosial selalu identik dengan kekuatan finansial. Anggapan itu dipatahkan oleh kehidupan Pak Pepen. Penghasilannya sebagai pengemudi ojek online tidak pernah pasti. Ada hari-hari ketika pesanan datang silih berganti, tetapi tidak sedikit pula waktu yang berlalu dengan menunggu tanpa kepastian. Di tengah situasi seperti itu, ia tetap berusaha memastikan anak-anak di Panti Al-Hikmah memperoleh makanan, pendidikan, pakaian, dan perhatian yang layak. Baginya, ketidakpastian pendapatan bukan alasan untuk mengurangi tanggung jawab sebagai seorang ayah bagi puluhan anak yang bergantung kepadanya.
Kisah tersebut sesungguhnya memperlihatkan bahwa kemiskinan bukanlah penghalang untuk berbagi. Justru dalam banyak keadaan, mereka yang pernah merasakan kesulitan hidup lebih memahami arti empati dibandingkan orang yang tidak pernah mengalami kekurangan. Pengalaman hidup membentuk kepekaan sosial yang sulit diajarkan melalui teori. Pak Pepen tidak sedang mengajarkan konsep filantropi melalui seminar atau pidato. Ia mengajarkannya melalui tindakan sederhana yang dilakukan setiap hari dengan penuh konsistensi.
Di sisi lain, perjuangan Pak Pepen juga menjadi kritik terhadap cara masyarakat memaknai kepahlawanan. Selama ini, penghargaan sering diberikan kepada mereka yang berhasil menciptakan sesuatu dalam skala besar atau memperoleh pencapaian yang spektakuler. Padahal, ada kepahlawanan yang tumbuh dalam kesunyian, jauh dari sorotan kamera dan panggung penghargaan. Kepahlawanan itu hadir ketika seseorang memilih memikul beban orang lain tanpa berharap dikenal. Pak Pepen adalah gambaran bahwa kepahlawanan tidak selalu lahir di medan perang atau ruang kekuasaan, tetapi juga dapat ditemukan di jalan-jalan kota yang setiap hari dilaluinya untuk mencari nafkah.
Namun demikian, kisah ini tidak boleh berhenti sebagai cerita yang mengundang rasa haru. Jika masyarakat hanya merasa terenyuh lalu melupakannya beberapa hari kemudian, maka nilai yang terkandung di dalamnya akan hilang begitu saja. Kisah Pak Pepen seharusnya menjadi momentum untuk membangun kesadaran bahwa pengasuhan anak-anak yatim merupakan tanggung jawab bersama. Kehadiran individu yang berdedikasi tinggi memang sangat penting, tetapi keberlanjutan pengasuhan memerlukan dukungan sistem yang lebih kokoh melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga sosial, organisasi keagamaan, perguruan tinggi, dan masyarakat.
Panti asuhan bukan sekadar tempat menyediakan makan dan tempat tinggal. Anak-anak yang tumbuh di dalamnya memerlukan lingkungan yang mampu membentuk karakter, memberikan pendidikan yang berkualitas, membangun rasa percaya diri, serta menyiapkan keterampilan agar kelak mampu hidup mandiri. Semua itu membutuhkan biaya, tenaga, waktu, dan perhatian yang tidak sedikit. Karena itulah, keberhasilan sebuah panti tidak cukup diukur dari jumlah anak yang diasuh, melainkan dari kualitas kehidupan yang mampu mereka peroleh selama berada di dalamnya.
Pak Pepen tampaknya memahami kenyataan tersebut. Oleh sebab itu, ia tidak sekadar memenuhi kebutuhan fisik anak-anak asuhnya. Kehadirannya setiap hari menjadi teladan tentang arti kerja keras, disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran. Anak-anak belajar bahwa kehidupan tidak selalu berjalan mudah, tetapi kesulitan bukan alasan untuk menyerah. Mereka melihat sendiri bagaimana sosok yang mereka panggil "Ayah" tetap berangkat bekerja meskipun usia terus bertambah dan kondisi kesehatan tidak lagi seprima dahulu. Keteladanan seperti inilah yang sering kali lebih membekas daripada ribuan nasihat yang hanya berhenti sebagai kata-kata.
Dari sudut pandang pembangunan sosial, pengalaman Pak Pepen menunjukkan bahwa modal terpenting dalam membangun bangsa bukan hanya anggaran atau infrastruktur, melainkan manusia-manusia yang memiliki kepedulian. Infrastruktur dapat dibangun dalam hitungan tahun, tetapi karakter membutuhkan waktu panjang untuk dibentuk. Ketika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, memiliki teladan yang baik, dan memperoleh kesempatan belajar, sesungguhnya masyarakat sedang menanam investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
Oleh karena itu, kisah Pak Pepen tidak semestinya dipahami hanya sebagai cerita tentang seorang pengemudi ojek online yang mengasuh puluhan anak yatim. Kisah ini adalah refleksi mengenai arti tanggung jawab sosial, pentingnya gotong royong, dan perlunya membangun sistem perlindungan anak yang lebih kuat. Sosok seperti Pak Pepen memang pantas diapresiasi, tetapi penghargaan yang paling bermakna bukan sekadar pujian. Penghargaan sejati adalah ketika semakin banyak orang tergerak untuk ikut mengambil bagian, sehingga perjuangan yang selama ini dipikulnya tidak lagi menjadi beban seorang diri, melainkan menjadi ikhtiar bersama dalam menjaga masa depan anak-anak Indonesia.
Akan tetapi, terdapat pelajaran yang jauh lebih penting daripada kisah tentang perjuangan seorang lansia yang bekerja tanpa mengenal lelah. Pak Pepen memperlihatkan bahwa nilai kemanusiaan tidak pernah diukur dari besarnya penghasilan, melainkan dari luasnya manfaat yang diberikan kepada orang lain. Di tengah budaya yang kerap mengaitkan kesuksesan dengan kekayaan dan popularitas, ia justru menghadirkan ukuran keberhasilan yang berbeda. Kesuksesan baginya adalah ketika anak-anak yang diasuh dapat tersenyum, tetap bersekolah, tumbuh dalam kasih sayang, dan memiliki harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik daripada generasi sebelumnya.
Kenyataan itu sekaligus mengingatkan bahwa persoalan anak yatim dan anak terlantar tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan karitatif. Bantuan sesaat memang mampu mengurangi beban, tetapi belum tentu mampu mengubah masa depan mereka. Yang lebih dibutuhkan adalah ekosistem kepedulian yang berkelanjutan, mulai dari akses pendidikan, layanan kesehatan, pendampingan psikologis, pelatihan keterampilan, hingga kesempatan memperoleh pekerjaan ketika mereka memasuki usia dewasa. Tanpa dukungan yang menyeluruh, anak-anak tersebut tetap berisiko kembali menghadapi lingkaran kemiskinan yang sama.
Dalam konteks itulah, keberadaan masyarakat sipil menjadi sangat penting. Organisasi sosial, lembaga keagamaan, komunitas, dunia usaha, akademisi, hingga individu memiliki ruang yang luas untuk mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing. Ada yang mampu membantu melalui dana, ada yang menyediakan pelatihan, ada yang membuka kesempatan kerja, bahkan ada pula yang cukup meluangkan waktu menjadi pendamping belajar bagi anak-anak. Setiap bentuk kontribusi memiliki arti karena persoalan besar tidak pernah diselesaikan oleh satu orang, melainkan oleh kepedulian yang tumbuh secara kolektif.
Kisah Pak Pepen juga memberikan pelajaran mengenai kepemimpinan yang lahir dari keteladanan. Ia tidak pernah mengajak orang lain melalui pidato yang berapi-api ataupun slogan yang menggugah emosi. Ia memilih berbicara melalui tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun. Dari sanalah tumbuh kepercayaan. Keteladanan seperti ini menjadi modal sosial yang sangat berharga karena mampu menginspirasi tanpa memaksa. Orang mengikuti bukan karena diperintah, tetapi karena menyaksikan sendiri nilai-nilai yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kisah-kisah seperti Pak Pepen memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi konten inspiratif. Kisah ini mengingatkan bahwa masih ada ruang bagi empati, gotong royong, dan kepedulian di tengah masyarakat. Namun, inspirasi hanya akan memiliki makna apabila diikuti tindakan nyata. Mengagumi perjuangan seseorang tanpa berbuat apa pun pada akhirnya hanya akan menjadi konsumsi emosi yang cepat berlalu. Sebaliknya, ketika kisah tersebut mampu menggerakkan masyarakat untuk ikut membantu, nilai kemanusiaannya akan terus hidup dan berkembang.
Bagi pemerintah, pengalaman Pak Pepen juga menjadi pengingat bahwa perlindungan sosial memerlukan sinergi yang lebih kuat dengan masyarakat. Kehadiran individu-individu yang bekerja secara sukarela patut diapresiasi, tetapi tidak boleh dijadikan alasan untuk mengurangi tanggung jawab negara dalam menjamin kesejahteraan anak-anak yang kehilangan pengasuhan. Kolaborasi yang baik antara pemerintah, lembaga sosial, sektor swasta, dan masyarakat akan menciptakan sistem yang lebih tangguh sehingga keberlangsungan pengasuhan tidak bergantung pada pengorbanan satu orang semata.
Pak Pepen telah menunjukkan bahwa kebesaran seseorang tidak selalu tercermin dari jabatan, kekuasaan, ataupun kekayaan yang dimilikinya. Kebesaran sejati justru lahir dari keberanian memikul tanggung jawab yang tidak ringan demi masa depan orang lain. Setiap pagi ketika ia menyalakan sepeda motornya untuk menerima pesanan, yang sedang ia bawa bukan hanya harapan memperoleh penghasilan, melainkan juga harapan puluhan anak yang menggantungkan masa depannya kepada sosok yang mereka panggil "Ayah". Dari jalan-jalan yang setiap hari ia lalui, lahir pelajaran tentang keikhlasan, ketangguhan, dan kasih sayang yang melampaui batas hubungan keluarga. Kisah inilah yang semestinya tidak hanya dikenang sebagai cerita inspiratif, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah bangsa pada akhirnya ditentukan oleh sejauh mana warganya bersedia saling menjaga, menguatkan, dan menghadirkan harapan bagi mereka yang paling membutuhkan.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
















LEAVE A REPLY