Home Artikel Peluru dan Kata-kata Seorang Ksatria

Peluru dan Kata-kata Seorang Ksatria

9
0
SHARE
Peluru dan Kata-kata Seorang Ksatria

Keterangan Gambar : PELURU pada saat di medan peperangan, mampu menembus tubuh merenggut nyawa. Namun, kata-kata yang dilontarkan di medan kehidupan, bisa melukai dan menembus jiwa ratusan orang. Peluru hanya mampu membungkam satu nyawa, namun ucapan dan kata-kata bisa mengguncang suatu bangsa, merubah barisan, bahkan arah dari sejarah.

Perwirasatu.co.id, 31 Juli 2026.

PELURU pada saat di medan peperangan, mampu menembus tubuh merenggut nyawa. Namun, kata-kata yang dilontarkan di medan kehidupan, bisa melukai dan menembus jiwa ratusan orang. Peluru hanya mampu membungkam satu nyawa, namun ucapan dan kata-kata bisa mengguncang suatu bangsa, merubah barisan, bahkan arah dari sejarah. 

Senjata seorang Ksatria sejati, sesungguhnya bukanlah pistol di pinggangnya. Melainkan juga, kata-katanya yang berjiwa penuh hati nurani. Perwira sejati, adalah manusia yang sadar, bahwa kata-katanya adalah peluru yang bisa menembus jiwa ratusan orang dan merusak moral. Sebab, sekali kata-kata dilontarkan, tak akan bisa dia tarik kembali.

Satu kalimat salah, bisa menyalakan bara perpecahan, tetapi satu kalimat yang benar akan mampu menyalakan obor keberanian dalam dada rakyat dan prajuritnya. Maka hati-hatilah, ketika seorang perwira bicara, itu bukan cuma sekadar bisa menggerakkan lidah melepaskan kata-kata. Namun sepatutnya juga mampu menimbang rasa dengan hati nurani yang berbudi pekerti.

Karena, mulut seorang ksatria sejati, bukanlah alat buat mengancam apalagi menyakiti rakyatnya sendiri. Tetapi adalah alat, untuk menyampaikan dan menegakkan kebenaran dengan ucapan penuh kebijaksanaan. 

Seorang Ksatrian, setiap kata-kata dari lisannya merupakan kalimat yang bisa menuntun, bukan menyesatkan. Ucapan yang keluar dari mulutnya, selalu mampu menyatukan, bukan malah memecah-belah, serta menumbuhkan keyakinan, bukan ketakutan. Karena, dalam diamnya terkandung wibawa, dan dalam kata-kata yang diteriakkannya akan memberikan keberanian yang meyakinkan serta memiliki karakteristik kewibawaan semesta.

Ksatria sejati itu, bukanlah yang bersuara keras saat bicara, melainkan yang bisa berucap dengan kejernihan jiwa dan juga tahu kapan dia harus diam. Karena, diamnya saja pun sesungguhnya adalah sabda yang memancarkan kebijaksanaan. Ksatria sejati itu, ketika ia bersuara, dunia akan berhenti khusus cuma untuk mendengarnya. 

Sebab sesungguhnya seorang Ksatria sejati itu, saat ia berbicara bukanlah dengan lidahnya, melainkan juga dengan jiwa penuh wibawa rasa  kemanusiaan yang adil dan beradab

( Red)

Oleh: Fajar Chaniago/Inisiator Forum Wartawan Investigasi Nusantara (For-WIN)

Iklan Detail Video

Iklan_home