
Keterangan Gambar : Seandainya Allah langsung menghukum setiap dosa manusia, mungkin tidak ada seorang pun yang mampu bertahan di bumi
Perwirasatu.co.id , Jakarta - Seandainya Allah langsung menghukum setiap dosa manusia, mungkin tidak ada seorang pun yang mampu bertahan di bumi. Namun, Allah Yang Maha Pengasih masih memberi waktu, kesempatan, kesehatan, dan jalan untuk kembali. Ditangguhkannya hukuman bukan berarti dosa diabaikan, melainkan pintu taubat masih dibentangkan. Karena itu, umur yang tersisa hendaknya menjadi perjalanan pulang menuju ampunan dan keridaan-Nya sebelum ajal benar-benar datang.
Allah berfirman dalam QS. Fathir ayat 45:
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَٰكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا
“Sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu makhluk pun yang bergerak dan bernyawa di bumi ini. Akan tetapi, Dia menangguhkan (hukuman)-nya sampai waktu yang sudah ditentukan. Maka, apabila datang ajal mereka, sesungguhnya Allah Maha Melihat keadaan hamba-hamba-Nya.” (QS. Fathir: 45)
Ayat ini mengajarkan kerendahan hati yang sangat dalam. Jangan merasa hidup kita baik-baik saja semata-mata karena kita lebih suci daripada orang lain. Bisa jadi kita masih berdiri hari ini karena Allah menutupi aib, menangguhkan balasan, dan memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Betapa banyak kesalahan yang hanya diketahui Allah, tetapi Dia tidak mempermalukan kita di hadapan manusia.
Karena itu, ketika Allah masih memberikan umur, jangan memandangnya hanya sebagai tambahan waktu untuk mengejar dunia. Umur adalah kesempatan bertaubat. Kesehatan adalah kesempatan beribadah. Rezeki adalah kesempatan berbagi. Pertemuan adalah kesempatan meminta maaf. Kesendirian adalah kesempatan bermuhasabah. Bahkan kegelisahan karena mengingat dosa dapat menjadi rahmat apabila mendorong seseorang kembali kepada Allah.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)
Jangan menjadikan luasnya rahmat Allah sebagai alasan untuk menunda taubat. Kita tidak mengetahui berapa lama kesempatan itu diberikan. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat kesalahan pada siang hari bertaubat, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang berbuat kesalahan pada malam hari bertaubat, hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya.” (HR. Muslim)
Maka jangan menunggu menjadi sempurna untuk mendekat kepada Allah. Datanglah kepada-Nya membawa segala kekurangan. Akui kesalahan, tinggalkan kemaksiatan, kembalikan hak orang lain, perbanyak istighfar, dan perbaiki amal selagi kesempatan masih tersedia.
Bila hari ini Allah belum menghukum kita atas banyak kesalahan, jangan berkata, “Berarti semuanya tidak apa-apa.” Katakanlah dalam hati, “Allah masih memberiku kesempatan.” Sebab penangguhan bukan pembebasan dari pertanggungjawaban. Ia adalah rahmat sekaligus peringatan.
Semoga setiap tambahan umur menjadikan kita semakin dekat kepada Allah, semakin lembut kepada manusia, semakin takut berbuat zalim, semakin ringan meminta maaf, dan semakin banyak beristighfar. Jangan sampai kita baru ingin kembali ketika waktu telah habis. Selagi jantung masih berdetak dan pintu taubat masih terbuka, pulanglah kepada Allah. Sebab salah satu nikmat terbesar bukanlah hidup tanpa dosa, melainkan masih diberi waktu untuk memperbaiki dosa sebelum menghadap-Nya.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)


















LEAVE A REPLY