Home Daerah RINJANI TERBAKAR, ALARM EKOSISTEM MULAI BERBUNYI

RINJANI TERBAKAR, ALARM EKOSISTEM MULAI BERBUNYI

12
0
SHARE
RINJANI TERBAKAR, ALARM EKOSISTEM MULAI BERBUNYI

Keterangan Gambar : Kebakaran bermula di Bukit Setampol, Resor Torean, Lombok Utara, pada 22 September 2026. Dalam perkembangannya, api merembet ke arah Puncak Sangkareang dan kawasan Senaru

Perwirasatu.co.id , Lombok - Api di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani belum sepenuhnya padam ketika estimasi areal terdampak terus berubah. Dari 723,7 hektare pada 25 September, angka itu meningkat menjadi 977,74 hektare sehari kemudian. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kebakaran bukan sekadar persoalan memadamkan api, tetapi juga ujian terhadap kesiapsiagaan, medan, konservasi, keselamatan petugas, dan kemampuan membaca risiko ekologis.

Kebakaran bermula di Bukit Setampol, Resor Torean, Lombok Utara, pada 22 September 2026. Dalam perkembangannya, api merembet ke arah Puncak Sangkareang dan kawasan Senaru. Pada 25 September, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani masih menyebut luas 723,7 hektare sebagai estimasi sementara yang akan diperbarui melalui pemantauan lapangan, dokumentasi udara menggunakan drone, serta verifikasi batas areal. Sehari kemudian, luas estimasi meningkat menjadi 977,74 hektare. (ANTARA, 26 September 2026; detikBali, 26 September 2026)

Kenaikan sekitar 254 hektare itu tidak boleh dibaca secara sederhana sebagai seluruh tambahan kawasan yang terbakar dalam sehari. Angka tersebut merupakan perkembangan estimasi areal terdampak. Namun, perubahan itu tetap memperlihatkan betapa dinamisnya situasi di lapangan. Api yang bergerak menuju Sangkareang dan Senaru membuat operasi pemadaman harus berlangsung bersamaan dengan upaya mencegah penyebaran ke kawasan lain. (detikBali, 26 September 2026)

Pada 25 September, sebagian titik di Bukit Setampol sisi timur telah dipadamkan dan dilakukan mop-up untuk memastikan tidak ada bara tersembunyi. Tetapi pada lokasi lain api masih terpantau. Kondisi tersebut memperlihatkan karakter kebakaran permukaan yang dipengaruhi vegetasi berupa pinus, semak, perdu, rumput, savana pegunungan, dedaunan kering, dan vegetasi bawah. Angin kencang serta medan terjal menambah kesulitan bagi tim gabungan. (Lombok Post, 25 September 2026; detikBali, 25 September 2026)

Di sinilah persoalan kebakaran Rinjani menjadi lebih dari sekadar operasi pemadaman. Petugas tidak hanya berhadapan dengan api, tetapi juga medan yang sulit dijangkau, jarak tempuh, perubahan arah angin, kondisi vegetasi, serta pertimbangan keselamatan personel. Pada 25 September, 59 personel tercatat terlibat dalam penanganan dari berbagai unsur, sementara perkembangan berikutnya kembali membutuhkan penguatan operasi. (Lombok Post, 25 September 2026)

Kebakaran juga memaksa pengelola kawasan mengambil keputusan terhadap aktivitas pendakian. Jalur Torean sebelumnya ditutup, kemudian jalur Senaru turut ditutup mulai 26 September karena perkembangan kebakaran. Penutupan itu menunjukkan bahwa dampak kebakaran telah melampaui persoalan ekologis dan masuk ke ranah keselamatan publik serta aktivitas pariwisata. (detikBali, 26 September 2026)

Namun, satu hal harus dijaga: penyebab kebakaran belum boleh disimpulkan sebelum penyelidikan selesai. Kebakaran di kawasan konservasi memang membuka banyak kemungkinan, tetapi dugaan tidak dapat menggantikan fakta. Media harus membedakan dengan tegas antara apa yang telah diketahui, apa yang masih diselidiki, dan apa yang baru berupa kemungkinan.

Justru setelah api padam nanti, pertanyaan yang lebih penting akan muncul. Seberapa cepat sistem deteksi dini bekerja? Mengapa api dapat berkembang hingga mendekati kawasan lain? Apakah pola patroli, pemantauan udara, kesiapan personel, peralatan, dan akses menuju titik api sudah sesuai dengan karakter medan Rinjani?

Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk mencari kesalahan di tengah operasi yang masih berlangsung. Sebaliknya, ia penting sebagai bahan evaluasi. Kebakaran kawasan konservasi tidak selesai ketika bara terakhir dipadamkan. Setelah itu masih ada pekerjaan memetakan kerusakan, memantau regenerasi vegetasi, menjaga kawasan dari kebakaran susulan, dan memastikan pemulihan berjalan berdasarkan kondisi ekologis yang nyata.

Rinjani karena itu membutuhkan lebih dari sekadar respons ketika api telah membesar. Ia membutuhkan sistem pencegahan yang bekerja sebelum titik api muncul, pemantauan yang mampu membaca perubahan secara cepat, serta koordinasi yang dapat bergerak mengikuti karakter pegunungan.

Angka 977,74 hektare bukan sekadar angka dalam laporan kebakaran. Ia adalah pengingat bahwa luas areal terdampak dapat berubah seiring pemantauan dan bahwa setiap keputusan di lapangan harus berpijak pada data terbaru. Ketika api akhirnya padam, pekerjaan belum berakhir. Justru saat itulah pertanyaan terbesar dimulai: bagaimana memastikan Rinjani tidak kembali menghadapi kebakaran dengan skala yang sama.

Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home