Home Artikel Saat Cell Broadcast Diuji Banjir Bangkok

Saat Cell Broadcast Diuji Banjir Bangkok

11
0
SHARE
Saat Cell Broadcast Diuji Banjir Bangkok

Keterangan Gambar : ponsel warga Bangkok berbunyi. Bukan sekadar notifikasi cuaca, melainkan peringatan darurat dari Department of Disaster Prevention and Mitigation atau DDPM. Pesannya menyebut ketinggian air kanal telah mencapai level kritis dan masih meningkat

Perwirasatu.co.id , Bangkok - Pukul 09.22, Sabtu pagi, 26 September 2026, ponsel warga Bangkok berbunyi. Bukan sekadar notifikasi cuaca, melainkan peringatan darurat dari Department of Disaster Prevention and Mitigation atau DDPM. Pesannya menyebut ketinggian air kanal telah mencapai level kritis dan masih meningkat. Warga di kawasan rendah dan sekitar kanal diminta memindahkan barang ke tempat lebih tinggi, mengamankan benda berharga, menghindari kawasan tergenang, serta memeriksa kondisi perjalanan.

Pesan itu datang ketika Bangkok sedang menghadapi tekanan air yang luar biasa. Hujan telah berlangsung hampir 48 jam sejak 24 September sore. Hingga Sabtu pagi, akumulasi curah hujan mendekati 300 milimeter, dengan beberapa wilayah di bagian timur Bangkok mencatat curah hujan sangat tinggi.

Air memenuhi kanal, menggenangi jalan, memasuki rumah dan mengganggu perjalanan. Pada 26 September, status kawasan bencana diperluas hingga mencakup seluruh 50 distrik Bangkok. Pemerintah kota mengoperasikan pompa, membersihkan saluran dan memantau ketinggian air, sementara warga diminta menghindari sejumlah ruas jalan yang terdampak banjir.

Di tengah situasi itu, Cell Broadcast menjadi bagian penting dari sistem peringatan. Teknologi ini memungkinkan pesan dikirim langsung ke perangkat seluler dalam wilayah tertentu tanpa harus bergantung pada daftar nomor telepon. Dalam hitungan singkat, pemerintah dapat menyampaikan ancaman kepada masyarakat yang berada di kawasan berisiko.

Thailand sebenarnya tidak sedang mencoba teknologi itu untuk pertama kalinya. Sistem peringatan dini berbasis Cell Broadcast nasional telah beroperasi sejak September 2025 dan menjalani pengujian nasional pada Januari 2026. Artinya, ketika banjir besar menerpa Bangkok, yang diuji bukan lagi sekadar teknologinya, tetapi kemampuan sebuah sistem yang sudah dibangun untuk mengubah informasi menjadi tindakan.

Di sinilah persoalan menjadi lebih kompleks. Menerima peringatan tidak otomatis berarti mampu menyelamatkan diri. Warga yang tinggal di kawasan rendah, lansia, penyandang disabilitas, anak-anak, pekerja di jalan dan masyarakat dengan keterbatasan transportasi memiliki kemampuan respons yang berbeda.

Penelitian tentang peringatan banjir berbasis Cell Broadcast menunjukkan bahwa pesan akan lebih berguna apabila lokasi bahaya, tingkat ancaman, urgensi dan tindakan yang harus dilakukan disampaikan secara jelas. Peringatan juga perlu dapat dipercaya dan mudah dipahami. Dengan kata lain, ukuran keberhasilan bukan sekadar berapa banyak ponsel menerima pesan, tetapi apakah penerima memahami apa yang harus dilakukan setelah membacanya.

Persoalan itu menjadi semakin penting karena hujan belum sepenuhnya berakhir. Departemen Meteorologi Thailand masih memperingatkan hujan lebat hingga sangat lebat pada 26–27 September, dengan risiko banjir dan luapan air terutama di wilayah rendah serta sekitar aliran air.

Karena itu, Cell Broadcast bukan pengganti kanal, pompa, drainase, jalur evakuasi atau tempat pengungsian. Ia adalah mata rantai komunikasi dalam sistem yang lebih besar. Pesan dapat datang dalam hitungan detik, tetapi keselamatan tetap bergantung pada kesiapan kota dan kemampuan warga bertindak.

Pukul 09.22 menjadi gambaran sederhana tentang tantangan itu. Sebuah pesan dapat memberi tahu bahwa air sedang naik. Namun pesan tersebut tidak menghentikan hujan, tidak menurunkan permukaan kanal dan tidak mengeringkan jalan.

Yang dapat diberikan sebuah peringatan adalah waktu.

Dan dalam bencana, beberapa menit tambahan untuk memindahkan barang, mengubah perjalanan, mencari tempat aman atau menyelamatkan anggota keluarga bisa menjadi jarak yang menentukan antara terjebak dan terselamatkan.

Bangkok menunjukkan bahwa peringatan dini bukan hanya persoalan teknologi. Ia adalah ujian tentang seberapa cepat sebuah kota membaca ancaman, seberapa jelas pemerintah berkomunikasi, dan seberapa siap masyarakat mengubah informasi menjadi tindakan sebelum air datang lebih tinggi.

Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home