.jpg)
Keterangan Gambar : Hidup sering terasa berat bukan karena sedikitnya nikmat, melainkan karena pandangan kita terlalu lama tertuju pada apa yang belum dimiliki
Perwirasatu.co.id , Jakarta - Hidup sering terasa berat bukan karena sedikitnya nikmat, melainkan karena pandangan kita terlalu lama tertuju pada apa yang belum dimiliki. Ketika hati terus membandingkan diri dengan orang lain, nikmat yang melimpah menjadi terasa biasa. Islam mengajarkan syukur sebagai jalan menjaga ketenangan: melihat karunia yang telah hadir, menggunakannya dengan benar, lalu menerima kekurangan tanpa kehilangan harapan kepada Allah dengan penuh sabar.
Jangan pernah mencari 5 persen dari 95 persen yang sudah ada, jika pencarian itu membuat kita melupakan 95 persen yang telah Allah anugerahkan. Ungkapan sederhana tersebut mengandung pelajaran besar tentang cara memandang kehidupan. Banyak manusia sibuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki, sampai lupa menikmati, merawat, dan mensyukuri begitu banyak karunia yang telah berada di tangannya.
Allah berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat berat.”
Ayat ini memberikan prinsip kehidupan yang sangat jelas. Syukur bukan sekadar ucapan “alhamdulillah”, melainkan kesadaran bahwa setiap nikmat berasal dari Allah dan harus digunakan sesuai dengan kehendak-Nya. Mata yang dapat melihat, tubuh yang masih mampu bergerak, keluarga, sahabat, pekerjaan, tempat tinggal, kesehatan, kesempatan beribadah, bahkan kemampuan untuk bangun pada pagi hari adalah nikmat yang sering dianggap biasa karena hadir setiap hari.
Persoalannya, manusia mudah melihat apa yang dimiliki orang lain, tetapi sering tidak menghitung apa yang telah dimilikinya sendiri. Kita melihat rumah orang lain yang lebih besar, kendaraan yang lebih bagus, penghasilan yang lebih tinggi, jabatan yang lebih baik, atau kehidupan seseorang yang tampak lebih bahagia. Padahal yang terlihat oleh mata belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan hidupnya.
Karena itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan cara pandang yang dapat menjaga hati. Beliau bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
Artinya: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (HR. Muslim)
Hadis tersebut bukan ajakan untuk berhenti berusaha. Islam tidak melarang seseorang memiliki cita-cita, meningkatkan kualitas hidup, memperbaiki ekonomi, atau mengejar prestasi. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai keinginan memperoleh 5 persen yang belum ada membuat kita meremehkan 95 persen nikmat yang telah diberikan Allah.
Syukur juga bukan berarti menerima keadaan tanpa ikhtiar. Seorang Muslim boleh memperbaiki kehidupan, tetapi ia melakukannya dengan hati yang tetap menghargai apa yang telah dimiliki. Ia bekerja keras tanpa menjadi budak dunia. Ia mengejar cita-cita tanpa kehilangan ketenangan. Ia berusaha memperoleh lebih banyak tanpa menganggap pemberian Allah yang sekarang sebagai sesuatu yang tidak berarti.
Allah berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Artinya: “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan mengingatmu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Syukur membuat hati tidak mudah dikuasai rasa kurang. Ketika hati bersyukur, sesuatu yang sederhana dapat menghadirkan kebahagiaan yang dalam. Secangkir minuman bersama keluarga, kesehatan yang masih terjaga, kesempatan bertemu orang yang dicintai, rezeki yang halal, serta waktu untuk beribadah dapat menjadi sumber kebahagiaan apabila hati mampu mengenali nilainya.
Maka, sebelum mengejar sesuatu yang belum ada, berhentilah sejenak dan hitunglah apa yang sudah ada. Sebelum mengeluhkan kekurangan, lihatlah karunia yang selama ini menemani perjalanan hidup. Jangan sampai kita kehilangan ketenangan hanya karena mengejar sebagian kecil yang belum dimiliki, sementara sebagian besar nikmat telah berada dalam genggaman.
Basic hidup yang paling indah adalah bersyukur. Sebab syukur tidak selalu mengubah keadaan seketika, tetapi syukur mengubah cara hati memandang keadaan. Dari sanalah lahir ketenangan, kesabaran, optimisme, dan kesadaran bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang berhasil kita dapatkan, tetapi juga tentang kemampuan mengenali, menjaga, dan mempertanggungjawabkan nikmat yang telah Allah titipkan.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)


















LEAVE A REPLY