Home Artikel Terowongan Hancur, Keamanan Lebanon Dipertanyakan

Terowongan Hancur, Keamanan Lebanon Dipertanyakan

14
0
SHARE
Terowongan Hancur, Keamanan Lebanon Dipertanyakan

Keterangan Gambar : melaporkan bahwa militer Israel merilis rekaman operasi di Lebanon selatan. Menurut keterangan militer, pasukan menemukan ruang yang digunakan sebagai tempat tinggal dan persenjataan, termasuk senapan Kalashnikov, senapan mesin, serta rudal antitank.

Perwirasatu.co.id, 13 Oktober 2026

Rekaman yang dirilis militer Israel pada 12 Oktober 2026 memperlihatkan pasukan bergerak melalui terowongan bawah tanah di Lebanon selatan. Militer mengklaim menemukan senjata dan menghancurkan jalur yang dikaitkan dengan Hezbollah. Namun, video tersebut belum menjawab pertanyaan mendasar: sejauh mana operasi itu mengurangi ancaman, menghormati kedaulatan Lebanon, dan membuka jalan bagi perdamaian yang bertahan lama di kawasan perbatasan kedua negara?

Di Balik Ledakan, Ada Persoalan Strategis

Dalam perang modern, terowongan bawah tanah bukan sekadar lorong persembunyian. Infrastruktur semacam itu dapat digunakan untuk menyimpan senjata, melindungi personel, dan mendukung pergerakan pasukan. Karena itu, penghancurannya memiliki arti militer. Namun, keberhasilan meruntuhkan fasilitas tidak otomatis membuktikan bahwa ancaman telah berakhir.

Israel.com pada 12 Oktober 2026 melaporkan bahwa militer Israel merilis rekaman operasi di Lebanon selatan. Menurut keterangan militer, pasukan menemukan ruang yang digunakan sebagai tempat tinggal dan persenjataan, termasuk senapan Kalashnikov, senapan mesin, serta rudal antitank. Militer juga menyatakan telah menghancurkan sejumlah lokasi lain yang disebut sebagai infrastruktur Hezbollah. Klaim tersebut belum diverifikasi secara independen.

Pembedaan ini penting. Video memperlihatkan bagian peristiwa yang dipilih untuk dipublikasikan, bukan keseluruhan situasi di lapangan. Publik belum tentu mengetahui kondisi sebelum operasi, kepemilikan setiap fasilitas, ataupun dampaknya terhadap penduduk sekitar. Karena itu, rekaman tersebut perlu dibaca sebagai dokumentasi yang dirilis pihak berkonflik, bukan bukti yang dengan sendirinya mengesahkan seluruh klaim militer.

Keberhasilan Taktis Bukan Perdamaian

Penghancuran jaringan terowongan memang dapat mengurangi kemampuan operasional kelompok bersenjata di lokasi tertentu. Namun, ukuran keberhasilan militer tidak berhenti pada jumlah fasilitas yang dihancurkan. Pertanyaan yang lebih penting ialah apakah ancaman terhadap penduduk benar-benar berkurang, apakah serangan balasan dapat dicegah, dan apakah kawasan perbatasan menjadi lebih aman.

Reuters pada 3 September 2026 menggambarkan punggung bukit Ali al-Taher sebagai kawasan strategis dalam konflik Israel-Hezbollah. Lokasinya memberikan keuntungan pengamatan terhadap wilayah sekitarnya dan diduga menyimpan fasilitas bawah tanah. Nilai strategis tersebut menjelaskan mengapa penguasaan wilayah dan penghancuran infrastruktur menjadi sasaran penting bagi Israel.

Financial Times pada 10 September 2026 juga melaporkan penghancuran jaringan terowongan di bawah Ali al-Taher. Militer Israel mengklaim jaringan itu membentang lebih dari dua kilometer. Namun, operasi September tersebut harus dibedakan dari rekaman yang dirilis pada Oktober. Tanpa bukti bahwa keduanya menunjukkan operasi yang sama, kedua peristiwa tidak boleh dicampur menjadi satu kronologi.

Persoalan Kedaulatan Lebanon

Dari perspektif Israel, penghancuran terowongan merupakan upaya mencegah Hezbollah mengancam wilayahnya. Perlindungan penduduk dari serangan bersenjata merupakan kepentingan keamanan yang sah. Namun, kepentingan tersebut tidak menghapus kewajiban mematuhi hukum humaniter internasional, termasuk perlindungan warga sipil, prinsip proporsionalitas, dan tindakan pencegahan dalam serangan.

Sebaliknya, keberadaan infrastruktur militer Hezbollah di Lebanon selatan juga menimbulkan persoalan bagi pemerintah Lebanon. Jika kelompok bersenjata menjalankan operasi di luar kendali efektif negara, kemampuan pemerintah menjaga keamanan dan kedaulatan menjadi semakin terbatas.

Pada saat yang sama, operasi militer Israel di wilayah Lebanon memunculkan pertanyaan mengenai batas dan jangka waktu kehadiran pasukan asing. Penghancuran fasilitas yang diklaim sebagai sasaran militer tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan hukum mengenai penguasaan wilayah. Penilaiannya bergantung pada keadaan faktual, dasar hukum yang berlaku, serta ketentuan kesepakatan keamanan yang relevan.

Warga Sipil Menanggung Risikonya

Di tengah perdebatan mengenai strategi, kehidupan masyarakat kerap menjadi persoalan yang kurang mendapat perhatian. Bagi warga Lebanon selatan, keamanan bukan sekadar hilangnya terowongan atau berhentinya tembakan. Keamanan berarti rumah dapat ditempati, jalan dapat dilalui, kebun dapat diolah, dan anak-anak bisa bersekolah tanpa dihantui ancaman baru.

Associated Press pada 11 September 2026 melaporkan penghancuran rumah-rumah di Mansouri, Lebanon selatan, yang menambah kekhawatiran warga mengenai masa depan tempat tinggal mereka. Peristiwa tersebut berbeda dari operasi terowongan, tetapi memperlihatkan konteks kemanusiaan yang lebih luas di kawasan konflik.

Kerusakan bangunan, pengungsian, dan terputusnya mata pencaharian dapat bertahan jauh setelah operasi militer berakhir. Sisa amunisi yang tidak meledak juga menghadirkan bahaya berkepanjangan. Reuters pada 12 Oktober 2026 melaporkan seorang remaja Israel meninggal dan 24 orang terluka akibat ledakan benda yang diduga merupakan sisa amunisi di dekat perbatasan Lebanon. Militer Israel menduga benda itu merupakan munisi tandan Hezbollah yang tidak meledak. Atribusi tersebut tetap perlu dipahami sebagai dugaan pihak berwenang.

Diplomasi Harus Melampaui Pernyataan

Gencatan senjata tidak cukup dimaknai sebagai jeda tembakan. Kesepakatan harus menghasilkan mekanisme pengawasan yang dapat dipercaya, pengurangan ancaman lintas perbatasan, perlindungan penduduk, serta kepastian mengenai pengerahan dan penarikan pasukan.

Israel perlu menjelaskan dasar dan batas operasinya secara transparan. Hezbollah perlu mempertanggungjawabkan penggunaan kekuatan bersenjata dan dampaknya terhadap masyarakat. Pemerintah Lebanon perlu memperoleh ruang dan kapasitas untuk menjalankan tanggung jawab keamanan di wilayahnya. Sementara itu, para mediator internasional harus memastikan bahwa kesepakatan tidak berhenti sebagai dokumen politik tanpa pelaksanaan yang dapat diperiksa.

Tanpa langkah konkret tersebut, setiap operasi baru berpotensi memicu tuduhan pelanggaran, serangan balasan, dan siklus kekerasan berikutnya. Penghancuran infrastruktur mungkin menghasilkan keuntungan militer sesaat, tetapi tidak otomatis menghilangkan ketidakpercayaan dan perselisihan yang menjadi bahan bakar konflik.

Ujian Sesungguhnya Setelah Ledakan

Rekaman terowongan yang dihancurkan menghadirkan gambaran keberhasilan operasional. Namun, keberhasilan itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa keamanan telah tercapai. Ukuran yang lebih menentukan ialah apakah warga dapat kembali dengan aman, apakah serangan lintas perbatasan berhenti, dan apakah kedaulatan Lebanon dihormati.

Terowongan dapat diruntuhkan dalam hitungan menit, tetapi membangun kepercayaan membutuhkan proses politik yang konsisten. Jika penghancuran fasilitas tidak diikuti perlindungan warga sipil, mekanisme pengawasan yang kredibel, dan penyelesaian sengketa, keberhasilan militer berisiko hanya menjadi jeda sebelum konflik berikutnya.

Pertanyaan terpenting bukan berapa panjang terowongan yang berhasil dihancurkan, melainkan apakah kehidupan masyarakat di kedua sisi perbatasan menjadi lebih aman. Sebab, kemenangan militer yang tidak menghasilkan keamanan berkelanjutan hanya mengubah bentuk konflik, bukan mengakhiri penderitaannya.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home