
Keterangan Gambar : Inggris menciptakan yang kedua di Rijeka, Sabtu, 3 Oktober 2026. Menang 7 0 atas Kroasia bukan sekadar pesta gol, tetapi pertunjukan tentang kecepatan
Perwirasatu.co.id , Jakarta - Ada kemenangan yang hanya menghasilkan tiga poin. Ada pula kemenangan yang mengubah cara suatu waktu dipandang. Inggris menciptakan yang kedua di Rijeka, Sabtu, 3 Oktober 2026. Menang 7 0 atas Kroasia bukan sekadar pesta gol, tetapi pertunjukan tentang kecepatan, kedalaman skuad, kematangan taktik, sekaligus alarm keras bagi generasi emas Kroasia yang mulai kehilangan pijakan.
UEFA Nations League menghadirkan salah satu kejutan terbesar ketika Inggris menghancurkan Kroasia 7 0. Harry Kane dan Bukayo Saka masing-masing mencetak dua gol, sedangkan Jude Bellingham, Anthony Gordon dan Morgan Rogers menyumbang satu gol. Hasilnya sekaligus menjadi kekalahan terberat sepanjang sejarah Kroasia.
Yang membuat kemenangan Inggris menarik bukan semata-mata jumlah gol. Mereka mencetak empat gol sebelum jeda dan tetap mempertahankan tekanan setelah turun minum. Kane kembali mencetak gol, Saka menambah gol keduanya, lalu Rogers menutup pesta pada menit ke 87. Inggris tidak memberi kesempatan kepada Kroasia untuk membangun kembali kepercayaan diri.
Reuters, 3 Oktober 2026, mencatat Bellingham tidak hanya mencetak satu gol, tetapi juga menghasilkan tiga assist. Angka tersebut menggambarkan perubahan penting dalam permainan Inggris. Bellingham tidak hanya menjadi gelandang yang membawa bola, tetapi penghubung antara lini tengah dan lini depan, sekaligus pemain yang mampu membaca ruang sebelum pertahanan lawan bereaksi.
UEFA, 3 Oktober 2026, mencatat pola serangan Inggris yang sangat efektif. Gol pertama Kane lahir dari umpan Bellingham. Bellingham kemudian mencetak gol kedua setelah menerima umpan Gordon. Gordon membuat skor 3 0, sebelum Bellingham kembali berperan dalam gol Saka menjelang turun minum.
Di situlah perbedaan kedua tim terlihat. Inggris memiliki banyak pemain yang dapat menjadi sumber ancaman. Kane dapat turun memainkan permainan, Bellingham menyerang ruang, Saka bergerak dari sisi kanan, sementara Gordon dan pemain lainnya menghadirkan kecepatan. Kroasia kesulitan menentukan sumber bahaya yang harus terlebih dahulu dihentikan.
England Football, 3 Oktober 2026, mencatat kemenangan tersebut sebagai kemenangan terbesar Inggris di Nations League dan kemenangan terbesar mereka sejak mengalahkan Makedonia Utara 7 0 pada tahun 2023. Inggris juga menyamai rekor sembilan kemenangan tandang berturut-turut.
Namun, kemenangan besar itu belum menjadi bukti bahwa Inggris telah menguasai Eropa. Spanyol tetap berada di depan dalam Grup A3. Oleh karena itu, tujuh gol di Rijeka seharusnya dipandang sebagai sinyal kuat, bukan kesimpulan akhir. Inggris masih harus membuktikan bahwa kualitas tersebut dapat bertahan ketika menghadapi lawan yang lebih disiplin dan mampu menutup ruang.
Di sisi lain, Kroasia menghadapi persoalan yang jauh lebih dalam. Kekalahan 0 7 merupakan yang terburuk sepanjang sejarah mereka. Tim yang pernah menjadi finalis Piala Dunia 2018 dan semifinal Piala Dunia 2022 itu kini harus dihadapkan pada pertanyaan tentang regenerasi.
Simbol Luka Modric menjadi persoalan tersebut. Pengalaman dan tekniknya masih terlihat, namun usia tidak mungkin dihentikan. Ketika pemain senior memasuki fase akhir karier, negara yang selama ini mengandalkan generasi emas harus menemukan struktur baru sebelum jarak kualitas semakin melebar.
The Guardian, 3 Oktober 2026, menyoroti kontras tersebut. Modric dan generasi senior Kroasia menghadapi Inggris yang semakin berani memberikan ruang kepada pemain muda. Pertandingan itu menampilkan bahwa sepak bola internasional bukan hanya pertarungan siapa kualitas hari ini, tetapi juga pertarungan tentang yang telah menyiapkan masa depan.
Suasana pertandingan pun tidak biasa. Laga berlangsung dengan penayangan penonton akibat sanksi UEFA. Sekitar 6.000 anak sekolah dan sejumlah pendukung Inggris tetap diperbolehkan hadir. Kondisi itu membuat atmosfer berbeda dari pertandingan kandang Kroasia pada umumnya, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan kekalahan sebesar tujuh gol.
Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan kedua tim setelah malam itu. Inggris memperoleh momentum dan kepercayaan diri. Kroasia memperoleh cermin yang menampilkan persoalan mereka secara terbuka.
Tujuh gol Inggris pada akhirnya bukan sekadar angka. Ia adalah gambaran tentang sebuah tim yang mulai mengubah bakat individu menjadi kekuatan kolektif. Sebaliknya, tujuh gol itu menjadi peringatan bagi Kroasia bahwa sejarah tidak selamanya dapat menggantikan regenerasi.
Rijeka menjadi panggung bagi dua cerita yang berbeda. Inggris sedang bergerak menuju masa depan dengan generasi yang semakin matang. Kroasia dipaksa menatap masa depan dengan pertanyaan yang lebih berat: apakah mereka mampu membangun kembali kekuatan setelah era Modric?
Jawabannya belum terlihat. Tetapi satu hal sudah jelas. Pada malam itu, Inggris bukan hanya memenangkan pertandingan. Mereka menampilkan kemungkinan masa depan. Dan Kroasia, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, dipaksa melihat bahwa masa lalu saja tidak lagi cukup.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)

















LEAVE A REPLY