Cerpen: Api, Arsip, Dan Dusta Kekuasaan

Cerpen: Api, Arsip, Dan Dusta Kekuasaan

Perwirasatu.co.id-Dari balik tembok menghitam yang tersisa, aku kembali mendengar kisah api yang membakar Balai Lurah Waringin. Kisah itu kerap diperlakukan seperti dongeng kriminal murahan. Padahal malam itu bukan sekadar kebakaran. Ia adalah bingkai ketakutan, kerakusan, dan kompromi sunyi, yang maknanya baru kupahami bertahun kemudian, ketika kebenaran justru tumbuh dari abu.

Aku kembali ke Waringin sebagai orang luar. Begitulah caraku membaca masa lalu tanpa terseret emosi yang dulu mengental. Balai lurah yang pernah menjadi pusat harapan kini tinggal puing, dibiarkan seperti monumen dosa yang gagal disembunyikan. Setiap warga menyimpan versi sendiri tentang malam ketika api menjilat langit, Sabtu dini hari, sekitar pukul dua lewat tiga puluh, saat angin gunung membawa bau bensin dan kepanikan.

Dalam bingkai cerita warga, lurah mereka, Ragas Pradipta, adalah lelaki murah senyum dan pandai merangkai janji. Namun di balik tutur halus itu, bisik bisik tentang proyek siluman dan anggaran yang menguap telah lama beredar. Dua kali warga turun ke halaman balai, menuntut keterbukaan. Spanduk spanduk itu kini hanya kenangan, seperti harapan yang dilipat rapi lalu disimpan di laci kecewa.

Malam kebakaran selalu diceritakan dengan suara bergetar. Ada yang melihat sepeda motor berhenti sejenak, lampunya dipadamkan. Ada yang mendengar langkah tergesa di antara semak. Lalu suara kaca pecah, diikuti semburat api yang cepat membesar. Terlalu cepat untuk disebut kecelakaan. Saat fajar tiba, papan nama balai lurah menghitam, arsip kependudukan dan laporan keuangan tinggal abu yang dingin.

Penyelidikan datang bersama seragam dan garis polisi. Orang orang mengukur sisa arang, mencium lantai, menunduk serius seolah api bisa bicara. Nama Ragas disebut, bersama kakaknya, Bagas Wiratama, lelaki pendiam yang jarang terlihat di forum warga. Keduanya ditahan. Banyak orang menarik napas lega, seakan keadilan akhirnya singgah di desa kecil ini.

Cerita seolah selesai di sana. Api dianggap jawaban. Tersangka ditangkap. Waringin pelan pelan melanjutkan hidupnya. Namun aku tahu, bingkai selalu menyembunyikan sisi gelapnya sendiri.

Pertanyaan itu pertama kali muncul dari seorang perempuan tua penjaga warung kopi di tikungan jalan. Ia tidak menyebut nama siapa pun. Ia hanya menatap puing balai dan bertanya lirih, apakah semua yang terbakar benar benar hilang. Pertanyaan itu terus menggangguku, seperti bara kecil yang terselip di ingatan.

Aku mulai mengumpulkan potongan yang tercecer. Arsip berita lama, catatan rapat warga, dan cerita bisik yang tak pernah masuk laporan resmi. Dari situlah muncul satu nama yang nyaris tak pernah disebut, Sagara Nirmala, staf muda balai lurah yang dikenal teliti dan kerap berselisih angka dengan Ragas.

Dua hari sebelum kebakaran, Sagara tercatat lembur sendirian. Satpam melihat lampu ruang arsip masih menyala hingga larut. Malam kebakaran, namanya tak muncul dalam cerita warga. Sebulan kemudian, ia pindah kota tanpa pamit, meninggalkan Waringin seperti seseorang yang sengaja menghapus jejak.

Audit pemerintah tetap berjalan meski arsip hangus. Anehnya, temuan terbesar justru tidak berasal dari dokumen yang terbakar. Ada rekening bayangan yang sudah ditutup jauh sebelum api menyala. Seolah seseorang telah lebih dulu merapikan jejak, lalu membiarkan kebakaran menjadi kambing hitam yang sempurna.

Aku menemukan Sagara bertahun kemudian di sebuah kota pesisir. Ia bekerja sebagai akuntan kecil, hidupnya tampak tenang. Saat kutanya tentang Waringin, ia terdiam lama, menatap laut yang berkilat. Ia mengaku menyimpan salinan laporan keuangan lengkap, diselamatkan diam diam sebelum malam api.

Ia menyerahkan sebuah flashdisk tua. Di dalamnya, angka angka berbicara jujur. Nama yang paling sering muncul bukan Ragas atau Bagas, melainkan seorang kontraktor besar, penyumbang kampanye daerah, yang kini duduk nyaman di kursi empuk kekuasaan.

Di situlah bingkai runtuh sepenuhnya. Ragas memang bersalah, tetapi ia bukan dalang tunggal. Kebakaran itu adalah pengalihan, layar api agar sorotan berhenti di desa kecil, bukan merambat ke jaringan yang lebih tinggi. Sagara menyimpan salinan itu bukan untuk membuka kebenaran, melainkan untuk bertahan hidup.

Aku kembali berdiri di puing balai lurah. Angin sore menyapu abu lama yang tersisa. Warga masih menceritakan kisah yang sama, merasa cerita itu telah selesai. Aku kini paham, kebenaran tidak selalu dikubur. Kadang ia disimpan rapi, menunggu saat paling menguntungkan untuk dimanfaatkan.

Kejutan itu menghantamku ketika Sagara mengaku bekerja untuk perusahaan kontraktor yang sama, sebagai kepala audit internal. Api memang menelan arsip balai. Tetapi yang paling mengejutkan, ia justru menyalakan jalan baru bagi orang yang memilih menyelamatkan data, bukan membuka kebenaran.

(Dwi Taufan Hidayat)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)