Memohon Hanya Kepada Allah

Memohon Hanya Kepada Allah

Perwirasatu.co.id, Minggu 21 Juni 2026.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, manusia kerap menggantungkan harapan pada sesama. Mereka mengetuk pintu-pintu makhluk, berharap kelapangan datang dari tangan manusia. Padahal, setiap rezeki, pertolongan, dan kecukupan hakikatnya hanya berasal dari Allah semata. Kisah sederhana tentang dua orang buta ini mengajarkan bahwa arah permintaan menentukan arah datangnya keberkahan dalam hidup manusia.

Ada pelajaran agung yang tersimpan dalam kisah dua orang buta yang setiap hari duduk di jalur yang biasa dilalui istri seorang raja. Keduanya sama-sama berharap mendapat bagian dari kemurahan hati sang permaisuri. Namun, yang membedakan mereka bukan kebutuhan mereka, melainkan kepada siapa hati mereka bergantung.

Yang seorang menengadahkan hati seraya berdoa, “Ya Allah, berilah aku rezeki dari karunia-Mu.” Sedangkan yang lain berkata, “Ya Allah, berilah aku rezeki dari karunia istri raja.”

Sepintas, kedua doa itu sama-sama berisi permintaan rezeki. Akan tetapi, hakikat keduanya sangat berbeda. Yang pertama memohon langsung kepada Dzat Yang Maha Memberi. Ia meyakini bahwa makhluk hanyalah perantara, sedangkan pemberi hakiki hanyalah Allah. Sementara yang kedua menggantungkan harapannya kepada manusia, kepada makhluk yang pada hakikatnya juga fakir di hadapan Allah.

Allah ﷻ berfirman:

﴿وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ﴾

“Dan segala nikmat yang ada padamu adalah dari Allah.”  

(QS. An-Nahl: 53)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap karunia, sekecil apa pun, berasal dari Allah. Jika rezeki datang melalui tangan seseorang, sesungguhnya tangan itu hanyalah wasilah. Sumbernya tetap Allah, Rabb semesta alam.

Sang permaisuri, yang mendengar doa keduanya, memberi balasan sesuai arah permintaan masing-masing. Kepada yang meminta karunia Allah, ia mengirim dua dirham setiap hari. Sedangkan kepada yang meminta karunianya, ia mengirim seekor ayam panggang yang di dalamnya tersembunyi sepuluh dinar.

Akan tetapi, sungguh menggetarkan hati, orang yang meminta kepada manusia justru tidak mengetahui karunia besar yang ada di hadapannya. Ia menjual ayam itu kepada temannya seharga dua dirham. Selama sepuluh hari, seratus dinar berpindah kepada orang yang menggantungkan harapannya kepada Allah.

Inilah sunnatullah yang sering tidak disadari manusia: ketika hati terpaut kepada makhluk, pandangan menjadi sempit dan keberkahan sering terhalang. Tetapi ketika hati tertambat kepada Allah, jalan-jalan pertolongan dibukakan dari arah yang tak disangka.

Allah ﷻ berfirman:

﴿وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ﴾

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan baginya jalan keluar. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”  

(QS. At-Talaq: 2–3)

Betapa banyak manusia hari ini yang gelisah karena terlalu berharap kepada jabatan, relasi, kekuasaan, dan kedudukan manusia. Mereka merasa masa depan bergantung pada makhluk. Padahal makhluk itu sendiri tidak mampu memberi manfaat dan mudarat kecuali atas izin Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ»

“Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.”  

(HR. At-Tirmidzi)

Hadis ini adalah fondasi tauhid dalam bergantung. Bukan berarti kita tidak boleh berikhtiar melalui manusia, namun hati tidak boleh bersandar kepada mereka. Tangan boleh mengetuk pintu makhluk, tetapi hati tetap bersujud di hadapan Allah.

Saat istri raja bertanya kepada orang yang meminta karunianya, “Bukankah karunia kami telah mencukupimu?” ia menjawab kebingungan karena tidak pernah menyadari rezeki besar yang ada padanya.

Lalu sang permaisuri berkata, “Engkau meminta kepada manusia, maka Allah menghalangi karunia itu darimu. Sedangkan temanmu meminta kepada Allah, maka Dia memberinya dan mencukupkannya.”

Kalimat ini mengandung hikmah mendalam: ketergantungan kepada selain Allah sering menjadi hijab yang menutup datangnya karunia. Hati yang bersandar kepada makhluk akan selalu resah, sebab makhluk terbatas. Tetapi hati yang bersandar kepada Allah akan lapang, sebab Allah Mahakaya.

Allah ﷻ berfirman:

﴿وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ﴾

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”  

(QS. Al-Ma’idah: 23)

Tawakal bukanlah meninggalkan usaha, melainkan membersihkan hati dari ketergantungan kepada selain-Nya. Seseorang boleh bekerja keras, berdagang, mencari peluang, meminta bantuan, tetapi keyakinannya tetap teguh bahwa hasil akhir berada di tangan Allah.

Kisah ini sejatinya adalah cermin bagi kehidupan kita. Berapa kali kita lebih percaya pada koneksi daripada doa? Berapa kali kita lebih yakin pada manusia daripada janji Allah? Berapa kali lisan menyebut nama Allah, tetapi hati bergantung kepada selain-Nya?

Padahal Allah dekat.

﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ﴾

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”  

(QS. Al-Baqarah: 186)

Maka, jangan gantungkan hidup pada makhluk yang lemah. Gantungkanlah seluruh harap kepada Allah Yang Maha Kaya, Maha Pemurah, dan tidak pernah kehabisan memberi. Jika engkau meminta kepada-Nya, mintalah dengan keyakinan. Jika engkau berharap, berharaplah hanya kepada-Nya.

Sebab siapa yang mengetuk pintu Allah, tak akan pernah pulang dengan tangan hampa. Dan siapa yang menggantungkan diri sepenuhnya kepada-Nya, niscaya Allah akan mencukupkannya dengan cara yang paling indah, pada waktu yang paling tepat, dan dengan keberkahan yang tak pernah ia duga.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)