Cerpen: Biaya Umroh dan Makna Perpisahan Sunyi
Perwirasatu.co.id-Catatan ini tampak seperti laporan keuangan sederhana, penuh angka dan perhitungan rasional. Namun di balik rincian biaya dan pilihan teknis, tersembunyi perjalanan batin seorang anak yang menyusun rencana umroh mandiri. Ia mengira sedang menyiapkan perjalanan spiritual bagi orang tuanya, tanpa sadar sedang mengatur waktu untuk sebuah perpisahan yang kelak baru ia pahami maknanya.
Aku menuliskan semuanya di buku kecil berwarna cokelat. Sampulnya sudah kusam dan sudutnya tertekuk. Di halaman pertama, kutulis judul sederhana tentang anggaran umroh mandiri. Pulpen hitam bergerak pelan, rapi, seolah aku sedang menyusun laporan yang akan diuji. Angka tidak boleh keliru. Ini bukan sekadar perjalanan, ini amanah.
Tiket pesawat kutaruh di bagian awal. Aku mencatat harga promo tujuh jutaan dan delapan jutaan dari berbagai maskapai. Namun aku berhenti lama pada satu angka yang terasa berat di dada, dua belas koma empat juta. Maskapai pilihan itu tanpa transit panjang. Aku menuliskan alasannya dengan singkat, demi kenyamanan orang tua. Aku juga menuliskan catatan kecil tentang nama penumpang yang harus sesuai paspor, minimal dua suku kata, dan kemungkinan penambahan nama di imigrasi. Detail teknis itu terasa dingin, tetapi justru menenangkanku.
Halaman berikutnya berisi hotel. Aku menulisnya seperti sedang menjelaskan pada orang lain. Jarak hotel dari masjid menentukan harga. Umroh sejatinya singkat, miqat, tawaf, sai, lalu tahalul. Setelah itu, orang ingin memperbanyak shalat di masjid. Dekat berarti mahal. Jauh berarti lebih murah, bahkan ada yang menyediakan bus antar jemput gratis.
Aku menuliskan daftar harga hotel dari yang paling rendah hingga yang membuat kepala pening. Empat ratus ribu per malam, tujuh ratus ribu, delapan ratus ribu, satu koma dua juta, satu koma empat juta, dua juta, tiga juta, enam juta, hingga sepuluh juta per malam. Lalu kutulis satu kalimat penting dengan tinta ditekan sedikit lebih kuat, hotel berkaitan dengan visa. Harus terdaftar dan mudah disetujui. Jangan gegabah.
Madinah kutandai dengan catatan khusus. Menurut pengalamanku, biaya di sana lebih tinggi. Aku tersenyum kecil saat menuliskannya. Madinah selalu punya cara sendiri untuk terasa lebih dekat ke hati. Lebih sunyi dan lebih lapang.
Aku menghitung hari dengan hati hati. Empat hari di Makkah. Empat hari di Madinah. Satu kamar untuk empat orang. Aku menuliskan hitungannya pelan. Biaya kamar satu koma empat juta per malam dibagi empat orang menjadi tiga ratus lima puluh ribu per orang. Empat hari di Makkah menjadi satu koma empat juta. Di Madinah, dua koma satu juta per kamar, lima ratus dua puluh lima ribu per orang per malam, empat hari menjadi dua koma satu juta. Total biaya hotel tiga koma lima juta per orang.
Visa kutulis di halaman berikutnya. Dibantu oleh penyedia jasa yang sudah terpercaya. Biayanya mengikuti nilai dolar. Dua juta tujuh ratus lima puluh ribu ditambah biaya layanan dua ratus lima puluh ribu. Sekitar tiga juta per orang. Aku menambahkan catatan kecil bahwa angka pastinya sedikit di bawah itu.
Di halaman terakhir, aku menjumlahkan semuanya. Dua belas koma empat juta untuk tiket. Tiga koma lima juta untuk hotel. Tiga juta untuk visa. Totalnya delapan belas koma sembilan juta per orang. Aku menutup buku itu lama sekali, memastikan semua masuk akal, memastikan niat ini tidak melampaui kemampuanku.
Cerita ini sering kuceritakan pada teman teman. Tentang bagaimana umroh mandiri bisa dilakukan dengan perhitungan cermat. Tentang strategi menekan biaya tanpa mengurangi esensi ibadah. Mereka mendengarkan, bertanya, dan mencatat. Aku menjawab lancar, seperti orang yang benar benar paham.
Namun setiap malam, saat rumah sunyi, aku membuka kembali buku cokelat itu sendirian. Aku membaca ulang angka angka tersebut bukan untuk memastikan uang cukup, tetapi untuk menenangkan diri. Ada kegelisahan yang tak pernah kutulis di sana.
Ayah sering batuk sejak beberapa bulan terakhir. Batuknya pendek, tetapi selalu muncul di waktu yang sama, selepas maghrib. Ibu semakin sering lupa meletakkan kacamata. Dokter menyebutnya proses usia. Aku mengangguk, berpura pura mengerti. Namun setiap kali menghitung biaya hotel yang dekat masjid, aku tahu alasannya bukan sekadar kenyamanan. Aku ingin mereka tidak berjalan jauh. Aku ingin mereka bisa duduk lama di masjid tanpa terburu buru.
Suatu malam, saat aku masih menghitung ulang biaya di meja makan, ayah duduk di seberangku. Ia memegang tasbih kayu yang sudah mengilap karena sering disentuh. Tanpa menatapku, ia berkata pelan, kamu capek sekali menghitung itu. Aku tersenyum dan menjawab tidak. Ayah mengangguk, lalu melanjutkan menghitung tasbihnya. Ibu lewat di belakangku, meletakkan segelas teh hangat, lalu berkata singkat, jangan lupa istirahat. Kalimat itu sederhana, tetapi dadaku terasa sesak.
Hari keberangkatan tiba. Semua berjalan sesuai catatan. Nama di paspor benar. Visa keluar tepat waktu. Hotel sesuai rencana. Di bandara, ayah menggenggam tas kecilnya erat, sementara ibu beberapa kali menghitung jumlah koper. Aku berdiri di antara mereka, merasa bertanggung jawab sekaligus kecil.
Di Masjidil Haram, di tengah putaran tawaf, langkah ayah tiba tiba melambat. Nafasnya terdengar lebih berat. Aku segera meraih lengannya. Ayah menatapku dan tersenyum, tidak apa apa, pelan saja. Kami melanjutkan dengan langkah lebih lambat. Di saat itu, angka angka di kepalaku runtuh satu per satu. Tidak ada lagi hitungan. Hanya langkah dan doa.
Di Madinah, selepas shalat subuh di Masjid Nabawi, ayah duduk lama tanpa bergerak. Ibu berdiri di sampingnya, menunggu dengan sabar. Aku tidak berani bertanya. Angin pagi menyapu pelataran masjid, dan burung burung beterbangan rendah. Ayah akhirnya berdiri dan berkata singkat, ayo pulang ke hotel. Suaranya tenang, tetapi matanya basah.
Beberapa bulan setelah kami kembali, buku cokelat itu masih kusimpan di laci. Suatu malam aku membukanya lagi. Aku ingin menambahkan catatan pengalaman, mungkin koreksi biaya. Namun di halaman terakhir, tanpa rencana, aku menulis satu kalimat pendek.
Perjalanan ini bukan tentang delapan belas koma sembilan juta.
Tanganku berhenti. Air mata jatuh membasahi kertas. Aku baru memahami sepenuhnya bahwa umroh mandiri itu bukan tentang bagaimana aku membawa orang tuaku ke Tanah Suci.
Melainkan tentang bagaimana, untuk terakhir kalinya, mereka membawaku pulang sebagai seorang anak.
(Dwi Taufan Hidayat)
Tulis Komentar