Cerpen: Desa Kehilangan Dana Menemukan Kebenaran
Perwirasatu.co.id-Pengurangan dana desa di Jawa Tengah memantik kemarahan, kecurigaan, dan prasangka yang tumbuh serempak. Di sebuah desa kecil, kebijakan itu dianggap hukuman kolektif atas dosa yang tak semua dilakukan warganya. Cerita ini membingkai suara rakyat, pemimpinnya, dan kekuasaan yang tak terlihat, hingga sebuah akhir mengejutkan membuka fakta bahwa kebenaran sering datang terlambat, setelah kepercayaan lebih dulu runtuh.
Balai Desa Sumberjati sore itu penuh sesak. Kursi plastik berderit, kipas angin berputar lamban, dan bisik bisik menjelma dengung panjang. Kabar itu telah menyebar sejak pagi. Dana desa yang biasanya satu miliar kini tinggal tiga ratus juta. Angka itu jatuh seperti palu, memukul harapan tentang jalan yang akan diaspal, saluran air yang dijanjikan, dan gedung posyandu yang tinggal rangka.
Di sudut ruangan, Arman duduk tegak. Kemeja putihnya rapi, tetapi wajahnya kaku. Sejak menjabat kepala desa, ia terbiasa disalami dan ditepuk bahu. Hari itu, tatapan warga berubah menjadi garis garis tajam. Di luar balai, spanduk bertuliskan tuntutan terbentang. Di warung kopi seberang jalan, namanya berulang ulang disebut sebagai penyebab segalanya.
Lebih baik dana desa ditiadakan saja, kata seseorang keras keras. Itu ladang korupsi di tingkat bawah. Yang lain menimpali, kalau kepala desa amanah, besar kecil dana pasti aman. Kalimat itu mengambang di udara, lalu jatuh tepat ke dada Arman. Ia menelan ludah. Amanah adalah kata yang selalu ia jaga, tetapi kata itu pula yang kini menjadi pisau.
Rini, bendahara desa, berdiri tak jauh dari Arman. Tangannya gemetar memegang map laporan. Ia ingat betul malam malam panjang mencocokkan kuitansi, memeriksa angka satu per satu. Ia tahu laporan mereka bersih. Namun kebersihan jarang lebih meyakinkan daripada kecurigaan yang sederhana. Dalam benaknya, ia bertanya apakah kejujuran memang selalu kalah oleh cerita yang lebih mudah dipercaya.
Forum warga dimulai. Mikrofon berpindah tangan. Keluhan berubah menjadi tudingan. Nama menteri disebut, program koperasi nasional dijadikan kambing hitam. Seorang lelaki tua berdiri dan berkata dengan suara parau, jalan depan rumah saya masih berlubang, uangnya ke mana. Semua mata beralih ke Arman. Untuk sesaat, ia ingin menjawab dengan marah. Namun ia memilih tenang.
Arman berdiri. Suaranya datar, nyaris dingin. Ia bicara tentang aturan, audit, dan penyesuaian anggaran. Tepuk tangan terdengar tipis, lebih mirip basa basi. Ia melihat ke barisan belakang, wajah wajah yang dulu percaya padanya kini menahan jarak. Ia sadar, penjelasan sering kalah oleh luka yang belum sembuh.
Hari hari berikutnya berjalan berat. Pembangunan tertunda. Jalan berlubang menjadi simbol kemarahan. Anak anak melompat menghindari genangan, orang tua menggelengkan kepala setiap melintas. Setiap lubang seperti menuduh, setiap genangan seolah bukti. Framing bekerja tanpa suara, mengikat sebab dan akibat dengan rapi, tanpa memberi ruang jeda untuk bertanya.
Suatu malam, hujan turun deras. Kantor desa kebanjiran. Rini kembali untuk menyelamatkan arsip. Dalam gelap dan bau lembap, ia memindahkan map map ke lemari besi tua yang jarang dibuka. Saat laci terbuka, matanya tertumbuk pada berkas lama, jauh sebelum Arman menjabat. Angkanya besar. Pelaksana proyek tercantum samar. Ada tanda tangan pejabat tingkat atas yang kini namanya sering muncul di berita nasional.
Rini duduk di lantai, napasnya tercekat. Selama ini, proyek lama itu disebut sebagai lanjutan program baru. Kekurangan dana ditutup dengan istilah penyesuaian. Desa hanya menjadi nama, tempat angka ditambatkan. Ia paham kini, kemarahan warga diarahkan ke tempat yang salah.
Keesokan harinya, kabar audit independen datang. Bukan Arman yang dipanggil pertama, melainkan aliran dana lama yang selama ini tersembunyi rapi. Balai desa kembali penuh. Kali ini sunyi. Arman membawa satu map tipis. Ia tidak membela diri. Ia membacakan kronologi, pelan dan runtut.
Kebenaran jatuh perlahan, namun menghantam keras. Pengurangan dana desa bukan hukuman atas korupsi desa, melainkan dampak dari kebocoran lama di atas desa. Uang rakyat pernah mengalir jauh, berganti nama proyek, berganti bungkus program, lalu kembali sebagai alasan penghematan. Arman memilih diam selama ini agar desa tak terseret pusaran lebih besar.
Tak ada teriakan. Tak ada tepuk tangan. Warga saling berpandangan. Beberapa menunduk. Seorang ibu berbisik, jadi selama ini kita salah sasaran. Arman menatap lantai. Namanya mungkin bersih di kertas, tetapi luka di mata warga tak bisa dihapus seketika.
Sore itu, warung kopi kembali berdenting. Percakapan lebih pelan. Tidak ada lagi keyakinan mutlak. Hanya kesadaran yang datang terlambat. Arman pulang menyusuri sawah yang menguning. Ia berhenti, memandang langit senja. Dana telah menyusut, kepercayaan nyaris habis. Namun di balik semua itu, satu hal tersisa. Desa akhirnya belajar bahwa kebenaran sering tersembunyi di balik cerita yang terlalu mudah dipercaya.
(Dwi Taufan Hidayat)
Tulis Komentar