Cerpen: Kelas Pagi yang Tidak Membandingkan
Perwirasatu.co.id-Pagi pertama sekolah selalu memiliki bau yang khas. Campuran debu halaman, kapur tulis, dan sepatu yang baru disemir. Di depan ruang kelas IV B, Bu Ratri berdiri sambil merapikan map cokelatnya. Di dalam kelas, bangku bergeser pelan, beberapa anak menunduk, beberapa lain berbisik canggung. Libur panjang telah berakhir, tetapi tidak semua anak pulang dengan cerita yang sama.
Bu Ratri masuk tanpa membawa buku pelajaran. Ia menutup pintu kelas perlahan, seolah takut suara keras bisa membuat sesuatu runtuh. Papan tulis masih kosong. Jam dinding berdetak lebih nyaring dari biasanya.
Anak anak duduk rapi, namun ada satu bangku di baris tengah yang penghuninya sejak tadi menunduk. Namanya Naya. Tasnya lusuh, sepatunya kusam, dan kedua tangannya saling mencengkeram ujung rok seragam.
Bu Ratri menulis satu kalimat di papan tulis. Cerita Baik dari Rumah. Tidak ada tanda tanya.
Kelas menjadi hening. Beberapa anak saling menoleh, menunggu arah yang biasa mereka kenal. Pertanyaan tentang pantai, tentang kota jauh, tentang foto liburan. Namun Bu Ratri justru tersenyum tipis.
Selama libur, katanya pelan, kegiatan baik apa yang paling sering kalian lakukan di rumah.
Jawaban tidak langsung meledak. Seperti air yang ragu keluar dari mata air. Seorang anak menyebut membantu ibu memasak. Anak lain bercerita menjaga adik. Ada yang belajar bangun pagi sendiri. Bu Ratri tidak menilai. Ia hanya mendengar.
Naya tetap menunduk.
Bu Ratri melanjutkan. Pekerjaan rumah apa yang sekarang sudah bisa kalian lakukan sendiri. Siapa yang paling sering kalian bantu. Hal baik apa yang kalian pelajari dari orang tua. Sikap apa yang ingin diperbaiki di sekolah.
Pertanyaan pertanyaan itu mengalir tanpa jeda panjang. Kelas terasa hangat, bukan oleh tawa, melainkan oleh rasa aman. Tidak ada jawaban yang ditertawakan. Tidak ada perbandingan.
Ketika Bu Ratri bertanya tentang hal yang membuat anak anak siap kembali ke sekolah, beberapa wajah mulai mengangkat kepala. Ada yang berkata rindu teman. Ada yang merasa sekolah lebih tenang daripada rumah.
Namun Naya masih diam.
Bu Ratri berjalan perlahan mendekati bangku Naya. Tidak berdiri di depannya. Tidak menunduk memaksa. Ia hanya duduk di kursi kosong di sampingnya.
Naya, katanya lirih, tidak apa apa kalau belum ingin bercerita. Tapi Bu ingin tahu satu hal saja. Perbuatan baik apa yang ingin kamu lakukan hari ini.
Tangan Naya gemetar. Suaranya hampir tak terdengar.
Saya ingin berani angkat tangan, Bu.
Kalimat itu membuat kelas terdiam. Bukan karena sedih, tetapi karena semua anak paham keberanian bukan soal perjalanan jauh.
Bu Ratri mengangguk. Itu jawaban yang sangat baik.
Bel istirahat berbunyi. Anak anak keluar kelas dengan langkah lebih ringan. Naya berjalan paling belakang, tapi kali ini kepalanya tegak.
Bu Ratri kembali sendirian di kelas. Ia menatap papan tulis, lalu membuka map cokelatnya. Di dalamnya ada satu lembar kertas tua, tulisannya mulai pudar.
Hari pertama sekolah. Pertanyaan pertama. Liburan ke mana.
Jawaban yang tertulis di kertas itu pendek. Di rumah saja.
Di sudut kertas ada bekas lipatan kasar. Bekas pernah diremas, lalu dirapikan kembali. Di bawahnya, dengan tinta yang sama, tertulis nilai merah dan satu catatan kecil. Kurang aktif berbicara.
Bu Ratri menutup map itu perlahan.
Ia tersenyum, bukan karena berhasil mengajar dengan baik hari ini, melainkan karena akhirnya satu anak di kelas itu tidak perlu menyimpan kertas seperti yang dulu ia simpan.
Dan untuk pertama kalinya, hari pertama sekolah benar benar dimulai tanpa cerita liburan, tetapi dengan keberanian yang tumbuh pelan pelan.
(Dwi Taufan Hidayat)
Tulis Komentar