Cerpen: Ketika Ibadah Kehilangan Cinta Sejati
Perwirasatu.co.id-Di sebuah kota religius yang rapi oleh jadwal ibadah, seorang lelaki menulis catatan batin tentang kebahagiaan, iman, dan ketakutan terdalamnya. Ia seolah menegur orang lain, padahal sedang memeriksa dirinya sendiri. Kisah ini dibingkai dari catatan terakhirnya, yang baru dipahami maknanya setelah ia pergi. Tulisan itu tertinggal sebagai cermin sunyi bagi siapa pun yang membacanya kemudian hari.
Aku menulis catatan ini pada malam ketika masjid sudah sepi. Lampu lampu masih menyala, karpet masih beraroma sabun, tetapi suara manusia telah pergi. Aku duduk bersandar di tiang, menunggu dadaku tenang setelah isya. Di sekelilingku hanya ada dengung kipas dan detak jam yang terdengar lebih jujur daripada pujian manusia.
Aku menulis dengan sapaan kamu. Entah sejak kapan aku memilih kata itu. Mungkin agar terasa lebih tegas. Mungkin agar terasa bukan tentang diriku. Kamu hidup rapi, kataku dalam hati. Kamu jarang terlambat salat, jarang absen sedekah, dan rajin menghadiri majelis. Orang orang menyebutmu teladan. Mereka menepuk bahumu, memintamu memimpin doa, dan kau menerimanya dengan senyum yang terlatih.
Namun setiap kali kamu pulang, ada ruang kosong yang tak terisi. Kau duduk di ruang tamu rumahmu yang bersih, memandangi dinding tanpa hiasan, dan bertanya pelan mengapa dada ini tetap sesak. Kau menyebutnya ujian iman. Kau menyebutnya kelelahan. Padahal yang kau rasakan adalah kehilangan bahagia sejati, yang tak bisa dibeli oleh rutinitas.
Aku menulis tentang caramu menikmati dunia. Kau berkata itu bentuk syukur. Kau berkata Tuhan mencintai keindahan. Tapi diam diam kau menggenggam kenikmatan itu terlalu erat. Setiap pujian membuatmu hidup. Setiap pengakuan membuatmu merasa berarti. Ketika pujian itu berhenti, kau gelisah, lalu mencari gantinya dalam bentuk lain yang lebih halus.
Dalam ibadah pun kau terukur. Kau menghitung bacaan, menargetkan amalan, mencatat sedekah. Doamu panjang dan runtut. Namun isinya selalu sama. Keselamatan, ampunan, surga. Dan di sela sela itu, ketakutan. Takut amalmu kurang. Takut dosamu lebih berat. Takut pintu itu tertutup sebelum namamu dipanggil.
Suatu siang, setelah salat zuhur, aku melihatmu menegur seorang pemuda di serambi masjid. Kau menasihatinya tentang niat. Tentang ikhlas. Tentang ibadah yang tidak boleh transaksional. Pemuda itu mengangguk patuh. Kau pulang dengan perasaan menang. Tapi di rumah, kata katamu kembali kepadamu seperti gema. Kau duduk lama, tak sanggup menyalakan televisi.
Malam berikutnya, kau bermimpi berada di sebuah ruangan luas tanpa pintu. Dindingnya penuh catatan amal. Angka angka bergerak. Kau panik mencari namamu. Ketika menemukannya, dadamu berdebar bukan karena cinta, melainkan takut kehilangan. Kau terbangun dengan napas tersengal, lalu segera mengambil wudu, seolah air bisa menenangkan kegelisahan yang tak kau pahami.
Aku menulis bagian ini dengan tangan gemetar. Ada sesuatu yang mulai retak. Setiap kalimat yang kutujukan padamu terasa semakin dekat. Seperti sedang menulis di depan cermin yang jujur. Aku mulai sadar bahwa yang kau kejar bukan perjumpaan dengan Tuhan, melainkan jaminan untuk dirimu sendiri.
Pada malam terakhir, aku datang lebih awal ke masjid. Tidak ada siapa siapa. Aku membuka buku catatan dan membacanya dari awal. Setiap kata kamu berubah menjadi aku. Setiap nasihat terdengar seperti dakwaan. Untuk pertama kalinya, aku menutup buku tanpa menambah amal. Aku hanya duduk, lalu bersujud tanpa permintaan apa pun.
Tidak ada doa panjang. Tidak ada target. Hanya hening yang lama. Dalam hening itu, aku sadar betapa selama ini aku menyebut takut sebagai iman dan menyebut hitungan sebagai cinta. Aku menulis satu kalimat terakhir dengan tinta yang hampir habis. Jika selama ini aku kehilangan CintaNya, itu karena aku terlalu sibuk menyelamatkan diriku sendiri.
Pagi hari, penjaga masjid menemukan aku masih dalam posisi sujud. Tubuhku telah dingin, wajahku tenang. Di samping sajadah ada buku catatan terbuka. Orang orang membacanya, menyalin isinya, dan membagikannya sebagai nasihat tentang keikhlasan. Tak seorang pun tahu bahwa catatan itu bukan petuah untuk mereka, melainkan pengakuan terakhirku, yang baru kutemukan ketika segalanya telah selesai.
(Dwi Taufan Hidayat)
Tulis Komentar