Cerpen: Keyakinan Sunyi Menjaga Hati Retak

Cerpen: Keyakinan Sunyi Menjaga Hati Retak Keterangan Gambar : Cerita ini dibingkai oleh satu malam panjang di rumah sakit, ketika seseorang menunggu dengan tenang di tengah keputusan yang tidak bisa ia kendalikan.


Perwirasatu.co.id - Senin 13 April 2026. Cerita ini dibingkai oleh satu malam panjang di rumah sakit, ketika seseorang menunggu dengan tenang di tengah keputusan yang tidak bisa ia kendalikan. Ini kisah tentang beban yang tak selalu terlihat, tentang doa yang tidak berisik, dan tentang keyakinan sederhana yang membuat hati bertahan. Sebuah cerita tentang menyerah tanpa merasa kalah.

Aku memulai cerita ini dari sebuah ruang tunggu di lantai tiga rumah sakit pemerintah. Kursi plastik berderet rapi, sebagian kosong, sebagian terisi tubuh tubuh yang lelah. Bau antiseptik menggantung di udara. Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari, berdetak terlalu keras di tengah sunyi.

Aku duduk sendiri, kedua tangan saling mengunci di pangkuan. Ponsel di tangan kanan menyala, tapi tak satu pun pesan kubuka. Mataku menatap pintu ruang tindakan yang tertutup rapat. Di balik pintu itu, sebuah keluarga sedang menunggu kabar yang mungkin akan mengubah hidup mereka selamanya.

Di kepalaku, satu kalimat berputar pelan.

Gapapa, gw punya Allah.

Kalimat itu sederhana. Bahkan terdengar terlalu santai untuk situasi seberat ini. Tapi justru di situlah kekuatannya. Aku tidak sedang berusaha menenangkan diri dengan logika. Aku hanya mengingatkan hatiku bahwa ada urusan yang bukan lagi bagianku.

Beberapa bulan lalu, aku tidak setenang ini.

Waktu itu, setiap kali mengenakan jas putih, ada beban yang ikut menempel di bahu. Bukan karena pekerjaannya berat semata, melainkan karena satu kasus yang terus menghantuiku. Seorang pasien anak yang datang terlambat, komplikasi yang datang beruntun, keputusan medis yang harus diambil cepat, dan hasil yang tidak pernah sesuai harapan.

Sejak hari itu, setiap malam terasa lebih panjang. Aku pulang membawa suara tangis yang tak terdengar, tatapan orang tua yang menahan marah dan kecewa, dan pertanyaan yang terus menggerogoti kepala. Apa aku sudah cukup. Apa aku salah memilih jalan hidup ini.

Aku mencoba kuat dengan cara yang biasa. Menyibukkan diri. Menghindari diam. Menganggap semua ini bagian dari profesi. Tapi ada satu malam ketika tubuhku duduk di lantai kamar, punggung bersandar ke dinding, dan pikiranku benar benar menyerah.

Aku tidak menangis keras. Air mata hanya jatuh tanpa suara. Tanganku meraih mushaf yang lama tergeletak di rak, lebih sering menjadi pajangan daripada pegangan. Aku membukanya tanpa rencana, hanya berharap ada sesuatu yang bisa kutahan malam itu.

Aku berhenti di Surah Al Insyirah.

Kubaca pelan. Tidak fasih. Kadang terhenti. Tapi setiap ayat terasa seperti seseorang yang tidak menyuruhku kuat, tidak menyalahkanku, tidak menuntut apa pun. Masalahku tidak hilang. Bebanku tidak langsung ringan. Namun ada ruang di dadaku yang tiba tiba longgar.

Sejak malam itu, setiap kali rasa bersalah datang, setiap kali keputusan terasa terlalu berat, aku kembali ke surah yang sama. Aku tidak lagi memohon agar semuanya baik baik saja. Aku hanya meminta agar hatiku tidak runtuh sebelum waktunya.

Lambat laun, aku menemukan satu kalimat yang menjadi pegangan hidupku.

Gapapa, gw punya Allah.

Kalimat itu bukan bentuk pasrah kosong. Ia adalah batas. Batas antara tanggung jawabku sebagai manusia dan wilayah kuasa yang bukan milikku. Selama aku sudah berusaha, sisanya aku serahkan.

Kembali ke ruang tunggu ini, ke jam yang masih berdetak tanpa peduli pada kecemasan manusia. Pintu ruang tindakan tetap tertutup. Di baliknya, seorang pasien dewasa tengah berjuang, sementara keluarganya menunggu dengan doa yang terputus putus.

Aku berdiri ketika namaku dipanggil. Nafasku tertarik dalam. Aku merapikan jas putih yang sejak tadi terasa berat di badan. Untuk sesaat, ketakutan lama mencoba muncul. Takut pada tatapan. Takut pada kemungkinan gagal. Takut pada rasa bersalah yang mungkin datang lagi.

Tapi aku mengulang kalimat itu sekali lagi, kali ini lebih pelan.

Gapapa. Aku punya Allah.

Aku bukan orang yang sedang menunggu keajaiban untuk dirinya sendiri. Aku adalah orang yang harus membawa kabar. Apa pun hasilnya. Aku adalah dokter yang setiap hari berdiri di antara harapan dan kenyataan.

Tanganku menyentuh gagang pintu. Dingin. Nyata. Sebelum membukanya, aku tahu satu hal dengan pasti. Bukan keberhasilan yang membuatku bertahan sejauh ini. Bukan juga kegagalan yang menjatuhkanku.

Melainkan keyakinan sunyi bahwa selama aku bersandar pada Nya, hatiku akan tetap diselamatkan, bahkan ketika hasil tidak pernah sepenuhnya berada di tanganku.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)