Cerpen: Sekolah Sunyi Setelah Piring Datang
Keterangan Gambar : Setiap pagi, sekolah itu ramai bukan oleh suara pelajaran, melainkan denting sendok dan kotak makan. Program bergizi datang dengan janji masa depan cerah, tetapi meninggalkan ruang kelas dalam jeda panjang. Di antara papan tulis yang bersih dan buku yang tertutup, waktu belajar pelan pelan menghilang tanpa perlawanan.
Perwirasatu.co.id - (6 Februari 2026) - Setiap pagi, sekolah itu ramai bukan oleh suara pelajaran, melainkan denting sendok dan kotak makan. Program bergizi datang dengan janji masa depan cerah, tetapi meninggalkan ruang kelas dalam jeda panjang. Di antara papan tulis yang bersih dan buku yang tertutup, waktu belajar pelan pelan menghilang tanpa perlawanan.
Pagi itu foto kembali beredar di grup guru. Lorong sekolah dipenuhi kotak makan berwarna hijau pucat. Anak anak duduk berderet di lantai, menunggu giliran, sementara papan pengumuman jadwal pelajaran tertutup bayangan tubuh mereka. Foto itu diambil cepat, tanpa pose, seolah takut menangkap terlalu banyak kenyataan.
Aku menatap foto itu sebelum memasukkan ponsel ke laci meja. Bel pertama sudah berbunyi, tetapi kelasku masih kosong. Seperti hari hari sebelumnya, satu jam awal dipakai untuk menunggu truk datang, menghitung porsi, membagi makanan, menenangkan antrean, lalu membersihkan sisa. Setelah itu, bel kedua berbunyi, menandai pelajaran yang seharusnya sudah dimulai.
Aku guru sejarah. Dalam buku pelajaran, waktu selalu menjadi kunci. Peristiwa besar lahir dari rangkaian sebab dan akibat. Namun di sekolah ini, waktu seolah benda lunak yang bisa ditekan, dipotong, dan diabaikan. Tidak ada yang mencatatnya sebagai kehilangan. Kami menyebutnya penyesuaian.
Suatu pagi, kepala sekolah memanggil kami rapat singkat. Ia berdiri di depan papan tulis dengan suara datar. Program ini kebijakan nasional, katanya. Sekolah wajib mendukung. Kami diminta bergiliran membantu distribusi agar tertib. Tidak ada ruang untuk bertanya tentang jam pelajaran. Tidak ada kata ganti rugi waktu.
Hari itu aku mendapat giliran membantu. Aku berdiri di lorong sambil memegang daftar nama siswa. Saat bel pelajaran berbunyi, aku masih mencoret kolom penerima. Dari jendela kelas, aku melihat papan tulis bersih, kapur utuh, dan kursi kosong. Pemandangan itu lebih menyakitkan daripada kelas ribut.
Di ruang guru, keluhan terdengar lirih. Seorang guru matematika menghitung di kertas buram. Jika satu jam hilang setiap hari, katanya, maka sebulan dua puluh jam lenyap. Setahun ratusan jam tak pernah diajarkan. Ia meremas kertas itu, lalu memasukkannya ke tas. Tak ada yang berani membawa hitungan itu ke rapat resmi.
Aku mulai mencatat diam diam. Jam kedatangan truk. Lama antre. Waktu kelas kembali tenang. Aku mencatat tanpa maksud melawan, hanya agar waktu itu tidak lenyap tanpa jejak. Buku kecil itu kusembunyikan di laci, di bawah RPP yang mulai jarang terbuka.
Suatu siang, setelah kelas yang dipadatkan, seorang siswa bernama Raka mendekat. Ia membawa kotak makan kosong, masih berbau nasi hangat. Dengan suara ragu, ia bertanya apakah minggu depan pelajaran sejarah akan diulang. Katanya ia sering bingung karena materi terasa meloncat.
Aku tak langsung menjawab. Dalam benakku, kalender pelajaran berantakan. Target tak tercapai. Ujian mendekat. Aku hanya berkata kami akan berusaha. Raka mengangguk, lalu pergi. Di punggungnya, tas sekolah tampak lebih berat dari biasanya.
Beberapa hari kemudian, nilai ulangan dibagikan. Raka mendapat angka rendah. Ia menunduk saat kertasnya dikembalikan. Guru lain menyebut anak anak kurang fokus. Aku tahu fokus bukan satu satunya masalah. Tetapi kata itu terlalu aman untuk dibantah.
Malamnya, aku menulis cerita. Aku membingkai sekolah sebagai ruang yang sibuk memberi makan, tetapi lupa memberi waktu. Aku menyamarkan nama, menyusun adegan seperti potongan foto. Cerita itu kubuka dengan lorong penuh kotak makan, kututup dengan kelas yang selalu terlambat dimulai.
Tulisan itu kukirim ke sebuah platform kecil. Tidak ramai, tetapi cukup dibaca. Beberapa orang memuji kejujuran ceritanya. Ada pula yang menyebutku tak paham pentingnya gizi. Aku membaca semuanya tanpa membalas.
Seminggu kemudian, aku dipanggil kepala sekolah. Di mejanya ada cetakan tulisanku. Ia tidak marah, hanya menghela napas. Katanya tulisan itu menimbulkan pertanyaan dari pengawas. Ia meminta aku lebih berhati hati menulis. Tidak ada larangan, hanya peringatan halus.
Hari itu juga, Raka menyerahkan selembar kertas. Bukan tugas, bukan izin. Isinya cerita pendek. Tentang sekolah yang setiap pagi ramai oleh makanan, tetapi sepi oleh pelajaran. Tentang jam yang selalu hilang sebelum sempat dipelajari. Di akhir cerita, ia menulis, Saya kenyang, tapi saya tertinggal.
Tulisan itu dibacakan Raka di kelas saat jam bahasa Indonesia. Guru yang mengajar terdiam. Beberapa siswa bertepuk tangan. Esoknya, cerita itu sampai ke rapat guru, lalu ke rapat orang tua. Tidak ada yang menyebut namaku. Semua menyebut suara siswa.
Twist itu datang bukan dari tulisanku, melainkan dari keberanian yang tak kami miliki. Program tetap berjalan. Makanan tetap dibagi. Tetapi jam pelajaran mulai dicatat ulang, diperjuangkan kembali.
Saat aku menutup buku catatanku, aku sadar. Jam pelajaran itu tidak benar benar hilang. Ia berpindah tangan. Dari guru yang diam, kepada murid yang akhirnya berbicara.
( Red )
Sumber: Dwi Taufan Hidayat.
Tulis Komentar