Genting Bocor Saat Hujan Pertama

Genting Bocor Saat Hujan Pertama

Perwirasatu.co.id, Kamis 02 Juli 2026

Hujan turun pelan sejak magrib, merembes melalui retakan kecil di genting rumah kontrakan yang sudah lama tidak diperbaiki. Di sudut dapur, sebuah ember biru diletakkan untuk menampung tetesan air yang jatuh tidak beraturan. Bunyi tik tik tik memenuhi rumah sempit itu seperti hitungan waktu yang bergerak lambat. Rani duduk di meja makan sambil memandangi catatan belanja bulanan yang semakin sulit disesuaikan dengan isi dompetnya.

Di kamar depan, Sulih sedang menyetrika kemeja putih yang warnanya mulai kusam. Ia melakukannya perlahan, seolah menjaga agar lipatan bajunya tetap tampak pantas saat dipakai besok pagi. Sudah delapan bulan ia kehilangan pekerjaan sejak perusahaan tempatnya bekerja melakukan pengurangan pegawai besar besaran. Sejak itu, map cokelat berisi ijazah dan surat lamaran menjadi benda yang paling sering dibawanya keluar rumah. Kadang Rani merasa map itu tampak lebih lelah daripada pemiliknya.

Tetangga sekitar mulai mengenal rutinitas Sulih yang pergi pagi dan pulang menjelang malam tanpa hasil pasti. Beberapa orang masih menyapa dengan ramah, tetapi tidak sedikit yang mulai bertanya dengan nada yang menusuk tanpa mereka sadari. Di warung depan gang, Rani pernah mendengar seseorang berkata bahwa laki laki yang terlalu lama menganggur biasanya kehilangan semangat hidup. Ia pura pura tidak mendengar sambil terus memilih cabai dan bawang yang paling murah. Namun sepanjang perjalanan pulang, kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

Sulih sendiri jarang mengeluh. Ia tetap membantu mencuci motor, menyapu halaman kecil depan rumah, dan menemani putri mereka belajar membaca setiap malam. Hanya saja, belakangan wajahnya semakin sering terlihat pucat. Napasnya mudah terengah meski hanya mengangkat galon air ke dapur. Dua kali Rani melihat suaminya batuk cukup lama di kamar mandi, lalu keluar sambil membasuh wajah seperti tidak terjadi apa apa.

Suatu malam listrik rumah mereka hampir diputus karena tunggakan dua bulan belum dibayar. Rani duduk termenung di ruang tamu yang hanya diterangi lampu redup lima watt. Dari balik pintu kamar mandi terdengar suara air mengalir lebih lama dari biasanya. Ketika ia lewat untuk mengambil handuk, samar samar terdengar isak yang segera ditahan. Rani berhenti beberapa detik di depan pintu, lalu melangkah pergi tanpa mengetuk.

Malam itu mereka makan hanya dengan telur dadar dan sambal terasi. Putri kecil mereka tetap bercerita riang tentang sekolah, sementara Sulih mengangguk dan tersenyum seolah pikirannya tidak sedang penuh sesak. Sesekali lelaki itu memijat pelan dadanya sendiri ketika mengira tidak ada yang melihat. Setelah anak mereka tidur, Rani akhirnya bertanya apakah tubuhnya baik baik saja. Sulih hanya menjawab masuk angin biasa sambil tertawa kecil.

Hari hari berikutnya berjalan seperti lingkaran yang berulang. Pagi hari Sulih berangkat membawa harapan, sore hari ia pulang membawa wajah letih yang berusaha tetap tenang. Kadang ia mendapat panggilan wawancara, tetapi hasilnya selalu sama. Ada perusahaan yang menganggap usianya terlalu tua, ada yang meminta pengalaman berbeda, ada pula yang bahkan tidak memberi kabar sama sekali. Rani mulai hafal cara suaminya menyembunyikan kecewa.

Seminggu sebelum akhir bulan, Sulih pulang lebih malam dari biasanya. Hujan turun deras dan celana bagian bawahnya basah terkena genangan jalan. Ia duduk lama di teras tanpa segera masuk ke rumah. Ketika Rani menyodorkan teh hangat, Sulih berkata pelan bahwa besok ada wawancara lagi untuk posisi sales pemasangan internet. Nada suaranya terdengar datar, seperti seseorang yang takut berharap terlalu tinggi.

Pagi berikutnya udara terasa dingin setelah hujan semalaman. Sulih mengenakan kemeja putih yang sama dan menyisir rambutnya rapi di depan cermin kecil yang mulai kusam. Sebelum berangkat, ia mencium kening putrinya yang masih tidur sambil menatap wajah anak itu cukup lama. Di depan pintu, ia sempat batuk hingga tubuhnya membungkuk sebentar. Namun ketika Rani mendekat, ia segera berdiri tegak sambil tersenyum.

Setelah pintu tertutup, rumah kembali sunyi. Rani menggelar sajadah di ruang tamu sempit yang sebagian lantainya masih lembap terkena bocor atap tadi malam. Ia berdoa lama sekali, bukan hanya agar suaminya mendapat pekerjaan, tetapi juga agar lelaki itu tidak kehilangan dirinya sendiri. Belakangan ia merasa yang paling berat dari kemiskinan bukan kekurangan uang, melainkan rasa malu yang diam diam tumbuh di dalam dada. Rasa itu membuat seseorang perlahan menjauh dari dirinya sendiri.

Menjelang sore, hujan turun lagi. Rani sedang mengangkat ember penampung bocor ketika suara motor tua mereka terdengar memasuki gang. Ia berdiri di dekat pintu sambil menahan napas. Sulih masuk dengan wajah basah oleh air hujan dan sesuatu yang belum bisa dibaca Rani. Namun kali ini ada cahaya kecil di matanya yang sudah lama tidak muncul.

“Aku keterima kerja,” katanya pelan sambil meletakkan helm di kursi kayu dekat pintu. “Mulai minggu depan jadi sales Wifi MyRepublic.”

Beberapa detik Rani hanya diam sebelum air matanya jatuh begitu saja. Sulih tertawa kecil melihat istrinya menangis seperti anak kecil, meski matanya sendiri tampak merah. Dari dapur terdengar bunyi tetesan air dari genting bocor yang belum sempat diperbaiki. Namun untuk pertama kalinya dalam waktu lama, suara itu tidak terdengar menyesakkan.

Malamnya mereka makan lebih lahap dari biasanya meski lauknya tetap sederhana. Putri mereka terus bertanya apakah ayahnya nanti akan memakai seragam baru dan bisa membelikannya tas sekolah bergambar kartun. Sulih menjawab semua pertanyaan itu dengan sabar sambil sesekali menahan batuk kecil. Rani memperhatikan wajah suaminya diam diam dan baru menyadari betapa kurus lelaki itu sekarang.

Setelah anak mereka tertidur, Sulih meminta Rani duduk menemaninya di ruang tamu. Hujan sudah berhenti, tetapi suara air masih menetes dari atap ke ember biru di dapur. Lelaki itu membuka tasnya perlahan dan mengeluarkan sebuah map putih yang sejak tadi tidak disentuhnya. Tangannya tampak gemetar ketika menyerahkannya kepada Rani.

“Aku sebenarnya sempat ke rumah sakit sebelum interview tadi pagi,” ucapnya lirih.

Rani membuka map itu perlahan. Di dalamnya ada hasil pemeriksaan darah, foto pemindaian, dan beberapa lembar surat rujukan. Ia membaca satu demi satu dengan dahi mengerut hingga matanya berhenti pada nama poli onkologi di bagian bawah halaman terakhir. Jari jemarinya langsung terasa dingin.

Sulih menunduk sambil memandangi lantai. Sudah beberapa bulan ia menyembunyikan rasa sakit yang makin sering datang diam diam saat malam. Ia takut berobat karena tahu mereka tidak punya cukup uang, dan lebih takut lagi melihat tatapan kasihan dari keluarganya sendiri. Baginya, diterima bekerja hari itu terasa seperti kesempatan terakhir untuk tetap pulang sebagai seorang ayah yang masih berguna.

Jam dinding terus berdetak pelan di tengah ruangan yang mendadak terasa sempit. Ember di dapur masih menampung air dari atap yang bocor setetes demi setetes. Rani menatap lelaki di depannya yang selama ini selalu berusaha terlihat kuat meski diam diam sedang runtuh. Lalu tanpa berkata apa apa, ia menggenggam tangan suaminya erat erat sementara malam berjalan perlahan di luar rumah mereka.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)