Hidup Seperti Aliran SungaiKesadaran ini menuntun manusia untuk hidup dengan syukur, sabar, dan tawakal, agar waktu yang berlalu tidak menjadi penyesalan.

$rows[judul] Keterangan Gambar : Hidup berjalan seperti air sungai yang terus mengalir tanpa pernah kembali ke titik yang sama. Setiap detik adalah kesempatan yang tidak akan terulang, setiap napas adalah amanah, dan setiap peristiwa mengandung hikmah.


Perwirasatu.co.id - 06 Januari 2026.

Hidup berjalan seperti air sungai yang terus mengalir tanpa pernah kembali ke titik yang sama. Setiap detik adalah kesempatan yang tidak akan terulang, setiap napas adalah amanah, dan setiap peristiwa mengandung hikmah. Kesadaran ini menuntun manusia untuk hidup dengan syukur, sabar, dan tawakal, agar waktu yang berlalu tidak menjadi penyesalan, melainkan jalan mendekat kepada Allah.

Hidup ini, sebagaimana air sungai, bergerak tanpa menoleh ke belakang. Kita tidak pernah benar-benar menyentuh air yang sama dua kali, karena waktu tidak menyediakan tombol ulang. Apa yang telah berlalu menjadi catatan, bukan tempat kembali. Kesadaran ini sejatinya adalah panggilan ruhani agar manusia tidak lalai, tidak menunda kebaikan, dan tidak terjebak dalam penyesalan yang mematikan harapan. Allah mengingatkan manusia tentang hakikat waktu dalam firman-Nya:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3). Ayat ini menegaskan bahwa waktu yang berlalu tanpa iman dan amal saleh hanyalah kerugian yang sunyi.

Air sungai tidak pernah memilih jalannya sendiri. Ia tunduk pada ketentuan Allah, mengalir ke tempat yang telah ditetapkan. Demikian pula hidup manusia. Ada hal-hal yang berada di luar kendali kita, namun ada pula sikap batin yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita. Syukur adalah sikap batin yang menjadikan aliran hidup terasa bermakna, betapapun deras atau keruhnya air yang dilalui. Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7). Syukur bukan sekadar ucapan, melainkan cara memandang hidup dengan iman.

Setiap peristiwa yang mengalir dalam hidup, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan, membawa pelajaran yang berbeda. Sungai kadang tenang, kadang meluap. Namun semuanya bergerak menuju muara. Rasulullah ﷺ mengajarkan cara memaknai aliran hidup ini dengan hati yang lurus:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman. Semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim). Hadis ini mengajarkan bahwa kualitas iman menentukan makna setiap kejadian.

Menyadari bahwa kita tidak bisa menyentuh air yang sama dua kali, berarti kita diajak untuk hadir sepenuhnya pada saat ini. Menunda taubat, menunda memaafkan, menunda berbuat baik, sama saja dengan menyia-nyiakan aliran yang tak akan kembali. Allah membuka pintu harapan selama napas masih berhembus:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.’” (QS. Az-Zumar: 53). Ayat ini seperti mata air yang menyegarkan hati di tengah kelelahan hidup.

Akhirnya, hidup sebagai aliran sungai mengajarkan kita untuk rendah hati. Air yang paling bermanfaat adalah yang mengalir ke tempat rendah, memberi kehidupan bagi sekitarnya. Begitu pula manusia, semakin tunduk kepada Allah, semakin besar manfaatnya bagi sesama. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ath-Thabrani). Maka nikmatilah setiap aliran hidup dengan syukur, sabar, dan amal. Karena sungai akan terus berjalan, dan kita hanya diberi kesempatan singgah sebentar sebelum kembali kepada-Nya.

( Red )

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)