JANGAN JADI PRESIDEN EDAN

JANGAN JADI PRESIDEN EDAN Keterangan Gambar : Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Petarung Politik.

Perwirasatu.co.id, Minggu 10 Mei 2026.

Apabila kita cermati, kekuatan intelektual dan moral untuk melakukan perubahan Indonesia menuju negara maju itu sama sekali tidak berimbang. Penguasa yang dikritisi dan kelompok oposisi yang mengkritisi levelnya sangat berbeda jauh, 180 derajat.

Perhatikanlah, jika di pihak penguasa ada Pak Prabowo Subianto, Bocil plonga-plongo Gibran, Teddy, Sugiono, Qodari, Bahlil, Panglima MBG Dadan beserta para pejabat negara lainnya yang tidak qualified. Sedangkan di sisi lain, di pihak oposisi pemerintah ada Pak Komjen Pol (Purn.) Oegroseno, Ubeidilah Badrun, Prof. Connie Rahakundini Bakrie, Prof. Ferry Amsari, Prof. Sukidi dll. Ini benar-benar tidak berimbang, negara akan beneran bubar kalau begini terus.

Pertanyaannya, kita ini serius mau membuat negara ini jadi maju dan mengejar ketertinggalannya dengan negara-negara lain, atau mau stagnan bahkan mundur seperti ini terus menerus? Kalau mau serius, harusnya Presiden Prabowo Subianto itu insyaf, sadar diri dan mulai berbenah, dengan merombak total orang-orang yang menduduki posisi menteri di kabinet yang dipimpinnya.

Presiden Prabowo harusnya juga mau berlapang dada, bersikap terbuka menerima berbagai kritik konstruktif dari rakyatnya, jangan malah mereka terus dianggap sebagai musuh dan disiram air keras, ini tindakan jahanam ! Ciri khas manusia primitif, purba yang mengedepankan kekerasan daripada dialog pemikiran ! Jangan pernah hal seperti ini diulangi lagi ! Sangat memalukan dan memuakkan.

Rakyat sudah ditanya,"MBG bermanfaat atau tidak?" Dijawab:"Tidaaaak !", namun Presiden Prabowo masih memaksakan program MBG terus berlanjut. Ini sangat konyol, terkesan memaksakan kehendaknya sendiri, hingga rakyat curiga, apakah MBG sudah sedemikian rupa berubah menjadi ladang korupsi?! Sebab sangat aneh sekali banyak sekolah dan rakyat yang menolak MBG, namun program MBG masih diteruskan, meskipun juga sudah banyak yang menjadi korban keracunan makanan.

Presiden Prabowo Subianto juga harus mulai mengubah gaya kepemimpinannya, yang gemar pamer mewah-mewahan dan sok mandiri, mampu memproduksi mobil Pindad, namun di sisi lain untuk transportasi Koperasi Desa Merah Putih, Pemerintah malah impor 105 ribu mobil dari India, padahal koperasinya saja masih banyak yang belum ada atau belum beroperasi ! Ini cara berpikir dan bertindak yang sungsang alias terjungkir balik alias ngawur.

Presiden Prabowo Subianto gemar gembar-gembor pentingnya efisiensi, namun kenyataannya malah gemar menghambur-hamburkan keuangan negara, untuk program-program yang tak tepat sasaran dan penuh aroma korupsi ! Saya dengar malah untuk program Koperasi Merah Putih itu anggarannya untuk membangun perkoperasi Rp. 1,6 miliar, namun realitasnya hanya diberikan Rp. 800 sd 900 juta perkoperasi. Benar tidaknya silahkan dicek lagi ! Jika itu info yang benar, ini edan sekali kan?

Masak program Sekolah Rakyat yang dijalankan oleh Mensos Saifullah Yusuf itu, para siswa mau diberi sepatu dengan harga Rp.700.000 perpasang? Rakyat selama ini pakai sepatu dengan harga Rp. 100 sd 200 ribu saja sudah bagus, kenapa harus yang mahal-mahal? Mau dimark up kah anggarannya? Seperti juga program yang digagas oleh Mang Dadan, Kaos Kaki untuk pegawai SPPG/MBG yang jatuhnya Rp.450.000 perpasang itu apa maksudnya? Itu kan edan tenan ! Belum lagi pembagian motor gratis untuk kepala Dapur MBG yang mencapai harga puluhan juta rupiah permotor, gila benar.

Selain itu saya juga sarankan, agar Presiden Prabowo Subianto tidak lagi gemar bolak-balik melakukan kunjungan ke luar negeri, dengan alasan demi kepentingan negara. Lah wong kepala negara lain saja, belum ada yang mau berkunjung ke negeri iniloh semenjak Pak Prabowo Subianto menjadi Presiden. Ini terjadi karena negara-negara lain itu sangat ragu, Indonesia bisa menguntungkan baginya jika mereka berinvestasi di Indonesia.

Bahkan utusan Negara Iran yang sedang konflik saja, malah lebih berselera menemui Ibu Megawati Soekarnoputri dan Pak Jusuf Kalla dibanding menemui Presiden Prabowo Subianto. Kalau berkunjung ke Solo, itu yang saya dengar karena diundang oleh Jokowi. Untuk kalimat saya yang terakhir ini, bagi para Termul wamtu dan tempat dipersilahkan untuk mengomentari dengan sekeras-kerasnya, segalak-galaknya, asal jangan kasarloh ya? Bagi Termul yang bisa menjawab jerdas dan santun, saya akan kasih hadiah 3 mangkuk...Sapere aude !

Oleh: Saiful Huda Ems.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)