Jejak Pengabdian Abadi Cendekia Muhammadiyah Perempuan
Keterangan Gambar : Kepergian Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno menghadirkan kesedihan yang mendalam bagi keluarga, kolega, murid, serta keluarga besar Muhammadiyah dan 'Aisyiyah. Bangsa Indonesia kehilangan seorang cendekia perempuan yang sepanjang hayat menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, dakwah sebagai panggilan moral, dan pendidikan sebagai sarana membangun peradaban.
Perwirasatu.co.id, Rabu 08 Juli 2026.
Kepergian Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno menghadirkan kesedihan yang mendalam bagi keluarga, kolega, murid, serta keluarga besar Muhammadiyah dan 'Aisyiyah. Bangsa Indonesia kehilangan seorang cendekia perempuan yang sepanjang hayat menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, dakwah sebagai panggilan moral, dan pendidikan sebagai sarana membangun peradaban. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan rasa kehilangan, tetapi juga menghadirkan ruang perenungan tentang arti ketulusan dalam mengabdikan seluruh potensi diri bagi kemajuan umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Suasana haru menyelimuti Musala RS PKU Muhammadiyah Gamping ketika Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, memimpin sekaligus mengimami salat jenazah almarhumah. Prosesi tersebut bukan sekadar pelaksanaan kewajiban fardu kifayah, melainkan simbol penghormatan yang tulus dari Persyarikatan kepada seorang kader terbaik yang telah mengabdikan hidupnya dalam dunia pendidikan, keilmuan, dan gerakan Islam Berkemajuan. Penghormatan itu sekaligus menegaskan bahwa Muhammadiyah menempatkan ilmu, integritas, dan amal saleh sebagai ukuran utama kemuliaan seseorang.
Ungkapan belasungkawa yang disampaikan Haedar Nashir mengandung makna yang jauh melampaui ucapan duka. Di dalamnya tersimpan doa agar seluruh amal ibadah almarhumah diterima Allah Swt. serta harapan agar keluarga, murid, dan generasi penerus diberikan kekuatan untuk melanjutkan jejak perjuangan yang telah dirintis selama puluhan tahun. Pesan tersebut mengingatkan bahwa wafatnya seorang tokoh tidak boleh menghentikan estafet pengabdian. Sebaliknya, kepergian itu menjadi panggilan bagi generasi berikutnya untuk meneruskan cita-cita yang telah ditanamkan dengan penuh kesungguhan.
Prof. Siti Chamamah Soeratno dikenal luas sebagai Guru Besar Universitas Gadjah Mada yang memiliki kepakaran dalam bidang sastra, filologi, manuskrip Nusantara, bahasa, dan kebudayaan. Kepakarannya tidak hanya diakui di lingkungan akademik nasional, tetapi juga mendapat penghargaan di berbagai forum ilmiah. Namun, kebesaran beliau sesungguhnya tidak terletak pada gelar akademik atau penghargaan yang diraih. Nilai terbesar justru tampak pada kemampuannya menjadikan ilmu sebagai sarana membangun manusia, memperkuat budaya literasi, serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Perjalanan hidup Prof. Siti Chamamah menunjukkan bahwa seorang akademisi sejati tidak berhenti pada aktivitas mengajar dan meneliti. Beliau menghadirkan ilmu dalam kehidupan sosial melalui pembinaan kader, pengembangan pendidikan, pelestarian warisan budaya, serta penguatan gerakan perempuan. Baginya, ilmu pengetahuan harus mampu menjawab persoalan masyarakat, memperluas wawasan, dan membangun karakter. Pandangan seperti inilah yang menjadikan kiprahnya tetap relevan di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.
Di lingkungan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah, Prof. Siti Chamamah dikenang sebagai pemimpin yang teduh, rendah hati, terbuka terhadap dialog, namun tetap teguh memegang prinsip. Kepemimpinannya memperlihatkan bahwa organisasi yang besar memerlukan perpaduan antara kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan keluasan pandangan. Sikap tersebut membuat beliau dihormati lintas generasi, tidak hanya karena kapasitas keilmuannya, tetapi juga karena keteladanan akhlak dan kesederhanaan dalam menjalankan amanah.
Pengabdiannya sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah pada dua periode menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasi perempuan Islam modern di Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, 'Aisyiyah terus memperkuat peran perempuan dalam bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, pelayanan sosial, serta dakwah yang mencerahkan. Beliau membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan bukan sekadar tentang menduduki jabatan, melainkan menghadirkan manfaat melalui kerja kolektif, pelayanan yang tulus, dan komitmen membangun masyarakat yang lebih berkeadaban.
Kepergian beliau mengingatkan bahwa pembangunan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan ekonomi dan teknologi, tetapi juga oleh kualitas manusia yang membangun tradisi ilmu, budaya membaca, etika akademik, dan keteladanan moral. Bangunan fisik dapat didirikan kembali, tetapi kehilangan seorang ilmuwan yang telah melahirkan begitu banyak gagasan, membimbing generasi, dan membangun tradisi berpikir merupakan kehilangan modal intelektual yang tidak mudah tergantikan. Dari titik inilah duka berubah menjadi refleksi bersama tentang pentingnya melahirkan lebih banyak cendekiawan yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian kepada masyarakat.
Keteladanan Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno memperlihatkan bahwa perempuan memiliki posisi yang sangat strategis dalam membangun peradaban. Selama mengabdikan diri di dunia akademik, Muhammadiyah, dan 'Aisyiyah, beliau terus mendorong lahirnya perempuan yang berilmu, berakhlak, mandiri, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Gagasan tersebut bukan sekadar wacana, melainkan diwujudkan melalui pendidikan, kaderisasi, pembinaan organisasi, dan pemberdayaan masyarakat. Warisan pemikiran itu tetap relevan ketika Indonesia menghadapi tantangan global yang menuntut sumber daya manusia unggul sekaligus berkarakter.
Sebagai ilmuwan, Prof. Siti Chamamah berhasil mempertemukan dunia akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat. Penelitian yang beliau lakukan tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar melestarikan manuskrip Nusantara, memperkuat tradisi literasi, mengembangkan kajian sastra dan filologi, serta memperkaya khazanah keilmuan Indonesia. Melalui karya-karya tersebut, beliau menunjukkan bahwa penelitian akan memiliki makna ketika mampu memberi manfaat bagi kehidupan, memperkuat identitas bangsa, dan membuka jalan bagi lahirnya pemikiran-pemikiran baru yang mencerahkan.
Kehadiran sosok seperti Prof. Siti Chamamah menjadi pengingat bahwa perguruan tinggi tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki integritas, kejujuran akademik, kepedulian sosial, dan tanggung jawab kebangsaan. Selama puluhan tahun menjalankan amanah sebagai dosen, peneliti, pembimbing, dan pemimpin organisasi, beliau memperlihatkan bahwa kualitas intelektual harus berjalan seiring dengan kematangan karakter. Kombinasi inilah yang menjadikan seorang akademisi mampu memberikan pengaruh yang bertahan jauh melampaui masa jabatannya.
Muhammadiyah kehilangan salah satu putri terbaik yang telah memberikan sumbangsih besar bagi perjalanan Persyarikatan. Namun, kehilangan tersebut tidak seharusnya berhenti sebagai ungkapan duka. Peristiwa ini menjadi panggilan moral untuk memperkuat tradisi membaca, menghidupkan budaya penelitian, meningkatkan mutu pendidikan, serta memperluas kaderisasi ilmuwan yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Semangat Islam Berkemajuan yang selama ini diperjuangkan Prof. Siti Chamamah menuntut lahirnya generasi baru yang mampu berpikir kritis, bekerja tulus, dan mengabdi tanpa pamrih.
Lebih dari itu, perjalanan hidup beliau membuktikan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya jabatan yang pernah diemban, melainkan oleh besarnya manfaat yang ditinggalkan. Gelar akademik, penghargaan, dan kedudukan pada akhirnya akan menjadi bagian dari sejarah, sedangkan ilmu yang diamalkan, murid yang dibimbing, karya yang dihasilkan, serta organisasi yang diperkuat akan terus memberikan manfaat bagi generasi berikutnya. Nilai-nilai itulah yang menjadikan pengabdian Prof. Siti Chamamah tetap hidup, bahkan setelah beliau berpulang.
Kepergian seorang ilmuwan sering kali menghadirkan kesadaran bahwa membangun peradaban merupakan proses panjang yang memerlukan kesabaran, ketekunan, dan kesinambungan. Prof. Siti Chamamah telah memperlihatkan bagaimana ketiga nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau bekerja tanpa banyak mencari sorotan, tetapi hasil pengabdiannya dirasakan oleh begitu banyak orang. Sikap seperti inilah yang menjadi pelajaran berharga bahwa perubahan besar sering lahir dari kerja-kerja sunyi yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.
Bagi para murid, kolega, dan kader Muhammadiyah, Prof. Siti Chamamah bukan hanya seorang guru besar, melainkan guru kehidupan. Beliau mengajarkan bahwa ilmu harus melahirkan kerendahan hati, kepemimpinan harus menghadirkan pelayanan, dan keberhasilan akademik harus memperkuat kepedulian terhadap sesama. Keteladanan itu menjadi warisan yang jauh lebih bernilai daripada berbagai penghargaan, karena akan terus hidup dalam sikap, pemikiran, dan karya orang-orang yang pernah belajar serta berjuang bersama beliau.
Kepergian Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno juga meninggalkan pesan yang sangat penting bagi masa depan bangsa. Peradaban yang kokoh tidak dibangun semata-mata melalui pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, atau pembangunan infrastruktur, tetapi melalui manusia-manusia berintegritas yang menjadikan ilmu sebagai cahaya kehidupan. Beliau membuktikan bahwa kecerdasan intelektual akan mencapai makna tertingginya ketika disertai keikhlasan, akhlak mulia, dan kesediaan mengabdikan diri bagi kepentingan masyarakat. Keteladanan seperti inilah yang menjadi fondasi bagi lahirnya generasi Indonesia yang unggul sekaligus berkarakter.
Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan yang membangun peradaban melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan dakwah pencerahan. Dalam mata rantai panjang perjuangan tersebut, Prof. Siti Chamamah menempati posisi yang istimewa sebagai cendekia perempuan yang mampu memadukan keluasan ilmu, kepemimpinan organisasi, dan keteguhan nilai-nilai Islam Berkemajuan. Jejak pengabdiannya memperkaya tradisi intelektual Muhammadiyah sekaligus memperkuat keyakinan bahwa kemajuan hanya dapat dicapai melalui budaya belajar, tradisi riset, dan keberanian melahirkan pembaruan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Warisan terbesar yang beliau tinggalkan bukan hanya berupa karya ilmiah, buku, hasil penelitian, maupun berbagai kebijakan organisasi, melainkan tumbuhnya generasi-generasi yang memperoleh inspirasi dari keteladanan hidupnya. Setiap murid yang dibimbing, setiap kader yang dibina, setiap kolega yang diajak berdialog, serta setiap masyarakat yang merasakan manfaat pemikirannya merupakan bagian dari mata rantai amal jariah yang akan terus mengalir. Dengan demikian, kepergian beliau tidak memutus jejak pengabdian, tetapi justru memperluas pengaruh nilai-nilai yang telah ditanamkan selama puluhan tahun.
Momentum duka ini juga menjadi ajakan bagi perguruan tinggi, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh elemen bangsa untuk semakin menghargai tradisi keilmuan. Indonesia memerlukan lebih banyak ilmuwan yang tidak hanya produktif menghasilkan publikasi, tetapi juga mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa. Pendidikan harus menjadi ruang tumbuhnya karakter, integritas, dan kepedulian sosial, sebagaimana dicontohkan Prof. Siti Chamamah sepanjang perjalanan hidupnya. Dengan demikian, ilmu pengetahuan benar-benar menjadi kekuatan yang membebaskan, mencerahkan, dan memajukan kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, setiap manusia akan kembali menghadap Sang Pencipta, tetapi tidak setiap orang meninggalkan jejak yang begitu dalam di hati masyarakat. Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno telah membuktikan bahwa usia kehidupan memang terbatas, namun manfaat ilmu, keteladanan akhlak, dan pengabdian yang tulus dapat melampaui batas ruang dan waktu. Semoga Allah Swt. menerima seluruh amal salehnya, mengampuni segala khilafnya, melapangkan alam kuburnya, meninggikan derajatnya bersama orang-orang yang beriman dan berilmu, serta memberikan ketabahan kepada keluarga, sahabat, murid, dan seluruh warga Muhammadiyah serta bangsa Indonesia yang kehilangan salah seorang putri terbaiknya. Dari duka yang mendalam ini lahir harapan agar semangat, integritas, dan cita-cita besar yang telah beliau wariskan terus hidup, menginspirasi, dan menjadi cahaya bagi perjalanan Indonesia menuju peradaban yang semakin maju, berkeadilan, dan bermartabat.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar